Mohon tunggu...
Hamzah Zhafiri
Hamzah Zhafiri Mohon Tunggu... Kreator konten -

Suka menulis dan bercerita sebagai hobi. Terutama tema politik, bisnis, investasi, dan teknologi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Jemek Supardi, Bapak Pantomim Indonesia dari Yogyakarta

29 November 2018   09:33 Diperbarui: 29 November 2018   22:04 1001
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di antara banyak kemungkinan, ia memilih seni sebagai jalan hidup. Di antara banyak pilihan, ia memilih pantomim sebagai seni yang ia geluti. Selama tiga puluh tahun, ia jalani kehidupan itu dengan mantap. Inilah kisah biasa tentang gerak-gerik kehidupan seorang pemain pantomim.

Orang tua itu memiliki rambut bagian belakang yang panjang gimbal hingga ke pinggang, namun botak plontos di bagian depan. "Meniru model tokoh pendekar China," katanya. Tubuhnya pendek dan agak kurus, meski ototnya nampak kekar. Kulitnya sudah keriput, wajar saja sebagai pria berusia enam puluh tahun lebih.

Ia hampir selalu bisa ditemui di rumahnya, di jalan Brigjen Katamso nomor 159, Yogyakarta. Sehari-hari, ia hanya duduk dan tidur di salah satu kursi ruang tamunya. Ruang tamu itu hanya terdiri dari sebuah meja, sebuah lemari, dan beberapa kursi. Di atas meja, hampir selalu ada asbak yang dipenuhi abu rokok, beberapa batu pirus yang tersimpan di wadahnya, dan beberapa carik kertas yang bertuliskan angka-angka. "Ini angka judi, buat main judi nanti malan," jelasnya.

isigood.com
isigood.com
Jemek Supardi nama orang tua itu. Hobinya sehari-hari memang hanya memandangi batu pirus koleksinya, menyusun nomor judi, sambil merokok tanpa henti. Sesekali ia juga bermain dengan anjing Pomenarian milik anaknya, atau pergi memancing dengan teman-temannya. Hanya itu kegiatan Jemek sehari-hari, bila ia tidak mendapat panggilan untuk tampil di panggung.

Jemek Supardi bukan orang sembarangan. Ia kerap disebut sebagai "Bapak Pantomim Indonesia," karena komitmennya dalam menggeluti cabang seni teater itu. Beberapa poster yang terpajang di tembok ruang tamunya membuktikannya. Poster-poster tersebut adalah publikasi pertunjukkan pantomim di masa lalu. Semua poster itu menampilkan Jemek Supardi seorang diri. Nampak ia berpose dengan beragam gaya di tiap gambar, lengkap dengan judul pertunjukannya. Wajahnya yang memakai make up putih tebal juga berekspresi dengan beragam mimik emosi.

isigood.com
isigood.com
Saat saya berkunjung ke rumahnya, ia menyambut saya ramah dengan bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana jeans yang robek di sana-sini. Ia selalu senang bila ada orang yang datang mengunjunginya, apalagi bila datang untuk belajar bermain pantomim padanya. "Sekarang ini sudah semakin sedikit anak muda yang mau berpantomim. Entah siapa yang mau meneruskan pantomim di masa depan," katanya sedih.

Saya pun sedih karena tidak sanggup memenuhi harapan Jemek. Kunjungan saya ke ruang tamunya hari itu jelas bukan ingin belajar pantomim, saya hanya ingin mendengar dan menuliskan cerita beliau. Beruntung, Jemek sudah cukup senang dikunjungi seorang anak muda di hari tuanya.

Sambil memandangi pirus, Jemek mulai menyalakan rokok dan menuturkan kisahnya. Ia lahir pada 14 Maret 1953 di Pakem, Yogyakarta dengan nama asli Supardi. Ayahnya bekerja sebagai tukang bangunan. Meski lahir di Pakem, sang ayah sudah membeli rumah nomor 159 di jalan Brigjen Katamso. Rumah itu menjadi tempat tinggal Supardi sejak lahir. Ya, rumah sang ayah sama seperti yang Jemek tinggali hari ini.

Dulu, Supardi kecil adalah anak berandalan yang berulang kali tidak naik kelas saat SD. Tujuh kali ia berpindah sekolah di SMP karena sering merasa tidak betah. Saat SMP ini pula, Supardi memperoleh nama barunya. "Jemek" yang berarti basah atau kotor, ia dapatkan karena kebiasaannya berkotor-kotoran dengan berguling di lumpur. Pernah suatu kali, para tetangga bertanya pada ibunya "Jemek dimana bu?" Sang ibu tidak paham siapa Jemek yang dimaksud, tidak tahu bahwa anaknya punya nama baru.

Beranjak dewasa, Jemek mulai berkenalan dengan dunia seni. Semua berawal ketika Jemek muda di tahun 1970 berjalan-jalan di Malioboro. Dulu Jalan Malioboro dipenuhi banyak pegiat seni. "Ada banyak sekali seniman yang sering bercengkerama di Malioboro. Mereka saling bertemu, ngobrol, dan diskusi," kenang Jemek. Di sanalah, Jemek mengagumi tokoh seperti Rendra, Landung Simatupang, Emha Ainun Najib, dan orang-orang Bengkel Teater.

Mantap memilih dunia seni, Jemek keluar dari Sekolah Menengah Seni Rupa (setingkat SMA) di tahun 1972. Tidak lama, ia pun bergabung dengan Teater Alam pimpinan Azwar AN di tahun 1974. Azwar sendiri berasal dari Bengkel Teater, otomatis Teater Alam adalah salah satu "anak" dari Bengkel Teater pimpinan Rendra.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun