Mohon tunggu...
Halim Pratama
Halim Pratama Mohon Tunggu... Wiraswasta - manusia biasa yang saling mengingatkan

sebagai makhluk sosial, mari kita saling mengingatkan dan menjaga toleransi antar sesama

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Hati-hati Provokasi Khilafah di Tengah Tekanan Ekonomi

27 November 2022   09:33 Diperbarui: 27 November 2022   09:43 81
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Media Sosial, jalandamai.org

Seperti kita tahu, kondisi perekonomian saat ini sedang dalam tekanan. Perekonomian global tertekan akibat perang rusia dan ukraina, yang berdampak pada terganggunya rantai pasok pangan dan energi. Gangguan tersebut akhirnya memicu terjadinya inflasi di sejumlah negara. Dan untuk menekan laju inflasi tersebut, bank sentral Amerika Serikat The Fed akhirnya menaikkan suku bunga secara agresif. Kebijakan ini kemudian diikuti oleh seluru bank sentral di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Banyak masyarakat yang kurang memahami informasi yang sebenarnya, terkait dengan ancaman resesi ini. Secara fundamental, kondisi perekonomian Indonesia sebenarnya masih lebih bagus. Pertumbuhan ekonominya pun juga masih positif diatas 5 persen. Namun demikian, bukan berarti Indonesia tidak terkenda dampak dari resesi. Kinerja neraca perdagangan diperkirakan juga akan terganggu, seiringnya perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju.

Pemahaman tentang resesi perlu diperkuat, agar kita tidak mudah terprovokasi dengan informasi yang dimunculkan oleh kelompok radikalis. Mereka seringkali menyalahkan pemerintah, yang dianggap tidak bisa mengeluarkan kebijakan yang baik. Ancaman resesi pada 2023 ini misalnya, juga dianggap sebagai salah dari pemerintah. Padahal, seperti yang telah kit aulas di awal tadi, bahwa hal ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan ekonomi global. Karena sistem perekonomian antar negara adalah saling terkait satu dengan lainnya.

Kelompok radikalis umumnya 'menggoreng' setiap informasi, lalu dibelokkan sedemikian rupa, sehingga esensinya menjadi berubah. Tujuannya adalah membuat kepanikan di masyarakat. Hal semacam ini juga sering dilakukan ketika awal pandemi. Akibatnya penerapan protokol kesehatan sulit dilakukan, karena masyarakat terprovokasi informasi yang menyesatkan. Begitu juga dengan informasi terkait dengan resesi ini. Ujung-ujungnya, mereka selalu mengeluarkan solusi dari segala persoalan, yaitu khilafah. Padahal, khilafah jelas-jelas konsep usang yang tidak bisa diterapkan di Indonesia. Bahkan di negara timur tengah yang mayoritas masyarakatnya muslim, juga tidak menerapkan konsep tersebut.

Karena itulah mari kita sudah wacana soal khilafah ini. Mari kita fokus membangun negeri dengan hal-hal positif. Pendahulu kita telah memberikan peninggalan banyak kearifan lokal. Dari Aceh hingga Papua banyak sekali kearifan lokal yang bisa kita jadikan contoh. Banyak sekali adat istiadat dari berbagai suku yang bisa kita jadikan contoh. Esensi dari semua kearifan lokal tersebut adalah gotong royong. Dan sikap ini jauh lebih baik dan bermanfaat dari pada khilafah. Kenapa kita tidak mempopulerkan gotong royong ini?

Mari kita bergotong royong melawan dan membersihkan bibit radikal ini dari di dunia mya. Mari kita jaga benerasi penerus agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi menyesatkan. Dan dalam konteks perekonomian sekarang ini, mari kita tetap waspada dan bekerja keras. Tujuannya adalah agar kita bisa survive dalam menghadapi segala hal yang bisa saja terjadi. Dan jangan dengarkan provokasi tentang resesi, yang bisa memicu kepanikan masyarakt. Semakin kita panik, semakin buntu pikiran kita dan tidak bisa melihat persoalan secara utuh dan obyektif. Salam.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun