Mohon tunggu...
Hakunna Matata
Hakunna Matata Mohon Tunggu... Jurnalis - adalah Sosok uniq yang belum ada tandingan , namun dengan segala kekurangan terpaksa selalu kalah dalam perang

aquarius

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Mendidik dengan Hati: Sekelumit Konsep Merdeka Belajar

2 November 2021   12:47 Diperbarui: 2 November 2021   13:09 232 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Opini _ Mendidik dengan hati; Apa kendalanya bagi orangtua dan para guru ? Merdeka belajar sebagai upaya mengejawantahkan gagasan pendidikan yang memerdekakan dari Ki Hadjar Dewantara, dalam pelaksanaannya membutuhkan cara pikir dan sikap atau paradigma yang juga memerdekakan. 

Salah satunya adalah cara pikir yang memberi kepercayaan pada anak, memperhatikan semua aspek kemanusiaan anak sehingga proses belajar dapat menyentuh hati.

Hanya pendidikan yang dilakukan sepenuh hati  yang dapat menggugah kesadaran peserta didik dalam memahami dirinya, dalam relasinya dengan orang-orang sekitar, alam dan Tuhan. Dengan demikian pendidikan dapat menjadi proses pemerdekaan-sebagai proses yang menggembirakan-- yang menumbuhkembangkan semua potensi kemanusiaan anak atau peserta didik.
    

Untuk mewujudkan pendidikan yang menyentuh hati, ternyata ada banyak kendala. Benarkah hanya karena guru dan orang tua yang enggan mengubah cara pikir mereka dan enggan mengupayakan pembaharuan dalam proses pembelajaran, atau ada faktor lain ? Faktor apa sajakah itu dan bagaimana  mereka berusaha memperbaiki diri dan bersiasat dengan semua tantangan yang dihadapi ?

Ada banyak tuna s baru yang perlu mendapat ruang pertumbuhan, ada kerja-kerja goyong royong di Perkumpulan Pappirus, dll yang harus diselesaikan. Bersyukur mengalami kerja bersama para pendidik hebat. 

Saya banyak belajar dari pengalaman satu semester dalam pandemi yang butuh keputusan cepat dan tepat, direalisasikan dengan  bijaksana. Tidak mudah. Ya, proses pendidikan adalah proses yang sistemik. Satu keputusan yang kurang atau tidak tepat akan berdampak luas dan panjang bila tanpa koreksi mendasar segera.


Satu pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika bersama-sama pendidik memutuskan  untuk membuat kurikulum darurat ketika pada akhirnya pembelajaran sekolah maupun pesantren harus dilakukan secara jarak jauh. 

Saat itu Mas Menteri belum ada inisiatif untuk merespons secara fundamental situasi yang 'darurat' ini, kecuali memindah pembelajaran tatap muka menjadi daring dan Surat Edaran tentang ujian akhir sekolah. Namun kemudian UN dihapus menjadi cukup alasan untuk merasa tertib ketika yang dijalankan adalah kurikulum darurat ini.

Macam apa kurikulum darurat yang kami pikirkan dan jalankan itu?  K13 tentu masih jadi pertimbangan, tapi acuan pelaksanaannya adalah keputusan ini: pembelajaran yang sedapat mungkin tidak  terlalu membebani dari sisi sarana komunikasi dan beban materi, sedapat mungkin memilih tema yang paling bermanfaat untuk situasi pandemi yang tidak mudah. 

Penanaman nilai dan kreatifitas perlu selalu menjadi prioritas.  Diutamakan proses-proses komunikasi yang membantu peserta menemukan cara belajarnya (yang unik untuk tiap anak).


Memang tidak semua terealisasi dengan baik. Tapi sebagai suatu usaha, sungguh nyata keberanian guru dan musyrif musyrifah yang (sebagian besar masih sangat muda) untuk berpihak pada situasi peserta didik yang berbeda-beda kondisi, cara belajar dan kemampuan mereka.  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan