H. H. Sunliensyar
H. H. Sunliensyar Kerani Amatiran

"Toekang tjari serpihan masa laloe dan segala hal jang t'lah oesang, baik jang terpendam di bawah tanah mahoepun jang tampak di moeka boemi"

Selanjutnya

Tutup

Lingkungan Artikel Utama

Menyigi Nasib "Si Abang Pipi", Diburu hanya untuk Konsumsi

11 Januari 2019   14:57 Diperbarui: 11 Januari 2019   16:28 812 13 6
Menyigi Nasib "Si Abang Pipi", Diburu hanya untuk Konsumsi
Burung Abang Pipi atau Sempidan Sumatra terpotret di sekitar TNKS. Sumber Foto: Arya Sadewa

Dalam tulisan yang lalu, telah dipaparkan mengenai asal usul ayam yang ada di dunia. Para arkeolog menduga bahwa ayam pada mulanya berasal dari wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara sebelum didomestifikasi oleh manusia dan tersebar ke seluruh dunia (lihat di sini: Jejak Migrasi Ayam dari Asia Tenggara ke Eropa)

Kawasan Asia Tenggara memanglah habitat bagi ribuan spesies unggas. Di antara banyaknya spesies unggas itu ada memiliki bentuk yang sangat unik bahkan hanya bisa ditemukan di wilayah tertentu. Hewan semacam ini disebut sebagai hewan endemik. Di Indonesia, masing-masing pulau memiliki spesies unggas yang menjadi hewan endemik misalnya, Burung Cendrawasih di Papua dan Burung Maleo di Sulawesi. 

Si Abang Pipi, yang merona

Di Sumatra, salah satu spesies unggas endemik yang jarang diketahui oleh masyarakat adalah Burung Abang Pipi atau dikenal pula sebagai Sempidan Sumatra, yang memiliki nama latin Lophura inornata. 

Unggas yang satu sangat unik ini, tubuhnya memiliki bentuk fisik antara ayam (gallus) dan pegar (pheasant). Sehingga disebut pula sebagai Gallopheasant. Sekilas rupa burung ini memang mirip dengan ayam, ukuran tubuhnya  rata-rata antara 46-55 cm dan banyak menghabiskan waktu di tanah untuk mencari makan. Sempidan Jantan, memiliki bulu berwarna hitam-kebiruan, sementara yang betina memiliki warna coklat-kemerahan dengan bintik di bagian leher dan dada.

Ciri fisik lain dari unggas ini adalah pipinya yang berwarna merah cerah. Oleh sebab itu, orang Kerinci menyebutnya sebagai Burung Abang Pipi  yang artinya merah pipi (merah dalam bahasa lokal abang). Selain itu, di belakang matanya terdapat bintik yang berwarna kuning-kehijauan yang membedakannya dengan spesies Lophura yang lain. 

Di bandingkan dengan jenis Lophura lainnya yang ada di Asia Tenggara, si Abang Pipi termasuk yang paling polos. Artinya, mereka tidak memiliki embel-embel hiasan jambul di bagian kepalanya. Oleh sebab itulah Tommaso Salvadori di tahun 1879 menyematkan nama "inornata" pada jenis Lophura ini, yang mengandung arti "tanpa hiasan".

Burung Abang Pipi termasuk unggas yang susah dijumpai karena mereka hidup jauh di  kawasan hutan hujan Perbukitan Barisan yang berada pada ketinggian di atas  800 meter mpdl.

Distribusi habitat Sempidan Sumatra oleh IUCN. Sumber: IUCN Redlist
Distribusi habitat Sempidan Sumatra oleh IUCN. Sumber: IUCN Redlist
Di kawasan Perbukitan Barisan Bagian Utara, sekitar Taman Nasional Gunung Leuser dan Batang Toru menjadi habitat dari subspesies Lophura inornata dengan tambahan nama hoogerwerfi. Sempidan yang satu ini memiliki ciri yang lebih spesifik lagi dari sempidan Sumatra pada umumnya yakni warna bulu pada betina yang lebih gelap di bagian punggung, bagian bawah yang berwarna kurang coklat dan seluruh tubuhnya memiliki bintik hitam.

Di kawasan perbukitan Barisan bagian Selatan, Abang Pipi banyak dijumpai di dalam kawasan  Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), terutama di sekitar Gunung Kaba Bengkulu, dan Gunung Kerinci, Jambi. Pada jalur pendakian Gunung Kerinci, para pendaki umumnya kerap menjumpai unggas ini saat mereka sedang mencari makan di tanah.

Abang Pipi, Nasibmu Kini

Abang Pipi yang merupakan hewan endemik Sumatra yang hanya hidup di kawasan hutan pada ketinggian tertentu pula. Oleh sebab itu, nenek moyang orang Kerinci di masa lalu menjadikan burung ini sebagai salah satu penanda kawasan hutan yang menjadi wilayah adat mereka. 

Seperti bunyi tradisi lisan mereka, "...sado bakaraw-abang pipi, ayam tari gerugo utan...itulah pegangan  ninik kito di alam Kinci..." artinya semua hutan yang didalamnya hidup Burung Karau (Kuau-Kerdil Sumatra), Abang Pipi (Sempidan Sumatra), dan Ayam Hutan adalah pegangan leluhur kita di Alam Kerinci. Menurut kepercayaan mereka, kawasan hutan milik masyarakat adat lain di sekitar wilayah adat Kerinci tidak akan dijumpai ketiga jenis unggas tersebut.

Sayangnya, populasi Abang Pipi ini semakin berkurang dari tahun ke tahun. Hal ini akibat degradasi hutan yang menjadi habitat Abang Pipi serta perburuan liar yang dilakukan oleh masyarakat di sekitarnya. 

Masyarakat hingga kini masih menjadikan Abang Pipi sebagai target penembakan dan perburuan hanya untuk mencicipi dan mengobati rasa penasaran terhadap rasa daging  dari unggas ini. Tentu saja hal ini tidak dibenarkan. 

Abang Pipi yang ditembak Masyarakat. Sumber: Kebudayaan Kerinci fanpage
Abang Pipi yang ditembak Masyarakat. Sumber: Kebudayaan Kerinci fanpage
Tampaknya, pemerintah harus benar-benar harus serius melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar mereka tahu bahwa Abang Pipi termasuk hewan yang dilindungi. Tak seperti yang mereka sangka selama ini. 

Masyarakat pada umumnya tidak mengetahui bahwa Abang Pipi termasuk jenis spesies yang dilindungi. Baru-baru ini, halaman facebook Kebudayaan Kerinci menampilkan beberapa foto burung Abang Pipi yang mati karena ditembak oleh masyarakat. 

Di sisi lain, Pemda -terutama pemda Kerinci--seharusnya dapat memanfaatkan hewan endemik ini sebagai ikon daerah seperti halnya burung Maleo di Sulawesi dan Cendrawasih di Papua agar masyarakat semakin sadar untuk menjaga kelestariannya. Di samping itu pula, keberadaan hewan ini seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai destinasi wisata alam yang unik bagi para penjelajah. Sayangnya potensi-potensi ini belum maksimal dikelola.

Masyarakat menunjukkan hasil buruannya. Sumber: Halaman Kebudayaan Kerinci
Masyarakat menunjukkan hasil buruannya. Sumber: Halaman Kebudayaan Kerinci
IUCN redlist memperkirakan hanya terdapat 7500 hingga 20000 ekor burung Abang Pipi/Sempidan Sumatra di sepanjang perbukitan Barisan dengan status hampir terancam punah (NT). Jikalau perambahan hutan dan perburuan semakin meningkat kemungkinan besar statusnya akan  berubah menjadi terancam hingga punah di kemudia hari. 

Mengapa kita harus mengkonsumsi Abang pipi di alam liar padahal daging ayam tersedia di mana-mana? Semoga kita bijak memperlakukan makhluk Tuhan yang satu ini.