Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Raket Artikel Utama

Richard Mainaky, Mengangkat Derajat Ganda Campuran Indonesia, Pensiun Usai 26 Tahun Mengabdi

7 September 2021   07:02 Diperbarui: 7 September 2021   15:10 1304
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pelatih ganda campuran Indonesia, Richard Mainaky (bertopi) usai membawa Praveen Jordan/Melati Daeva meraih medali emas SEA Games 2019/Humas PBSI

Berkaca pada keberhasilan di bidangnya masing-masing, komparasi dengan Sir Alex itu rasanya tidak berlebihan.

Faktanya, sejak menjadi asisten pelatih Imelda Wigoeno pada tahun 1995 silam, selama 26 tahun mengabdi di pelatnas Cipayung, Richard merupakan salah satu pelatih yang paling sukses menghasilkan banyak pasangan ganda campuran berprestasi.

Dia sukses mengorbitkan banyak ganda campuran Indonesia hingga meraih prestasi tertinggi di bulu tangkis dunia.

Meminjam diksi narasinya kompas.id, Richard Mainaky salah satu sosok penting yang mengangkat derajat ganda campuran bulu tangkis Indonesia di mata dunia.

Jauh sebelum generasi pasangan ganda campuran Praveen Jordan dan Melati Daeva di era sekarang, Richard bersama asistennya, pernah mengorbitkan pasangan Tri Kusharjanto/Minarti Timur di akhir era 90-an silam.

Tri Kus/Minarti pernah menjadi ganda campuran top Indonesia. Dari meraih medali emas SEA Games 1995, 13 kali juara turnamen IBF World Grand Prix, finalis All England 1997, juga medali perunggu Kejuaraan Dunia 1997.

Dan yang paling fenomenal, Richard berperan besar membawa mereka ke final Olimpiade Sydney 2000.

Itu untuk kali pertama, ganda campuran Indonesia ke final Olimpiade sejak nomor ini dimainkan di Olimpiade Atlanta 1996. Sayangnya, di final, mereka kalah dari ganda campuran China, Xhang Jun/Gao Ling. Padahal, Tri Kus/Minarti sempat unggul 15-1 di game pertama.

Lalu ada pasangan Nova Widianto/Liliyana Natsir yang dibawa Richard meraih medali emas SEA Games, juara Asia, dan gelar juara dunia 2005 dan 2007. Setelah 15 tahun sejak pasangan Christian Hadinata dan Imelda Wiguno jadi juara di tahun 1980, Indonesia kembali punya juara dunia ganda campuran.

Nova/Liliyana juga mengikuti jejak Tri Kus/Minarti ke final Olimpiade 2008 di Beijing. Sayangnya, lagi-lagi Indonesia belum bisa meraih medali emas. Mereka kalah dari ganda Korea, Lee Yong- dae/Lee Hyo-jung.

Dua kali merasakan anak asuhnya kalah di final Olimpiade jelas pengalaman pahit. Itu seperti sebuah unfinished business bagi Richard. Urusan yang belum selesai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun