Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pencerita. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di "pabrik koran". The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Karir Artikel Utama

"New Normal" bagi Pekerja Media, Bagaimana Penerapannya?

21 Mei 2020   11:13 Diperbarui: 23 Mei 2020   05:56 208 22 10 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"New Normal" bagi Pekerja Media, Bagaimana Penerapannya?
Begini cara pekerja media di Jerman menjalankan pekerjaannya--theathletic.com

Sejak coronavirus disease (Covid-19) mewabah di negeri ini, pemerintah menyampaikan imbauan agar kita lebih banyak beraktivitas di rumah. Bekerja dari rumah. Belajar dari rumah. Beribadah juga dari rumah.

Ketika ada banyak orang beraktivitas di rumah masing-masing, diharapkan bisa menjadi upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sebab, tidak banyak warga yang keluar rumah. Apalagi berkerumun yang bisa menjadi ruang penularan Covid-19.  

Namun, tidak semua profesi bisa bekerja dari rumah. Salah satunya profesi jurnalis (wartawan). Dalam proses mendapatkan berita, mereka masih harus datang langsung ke lokasi berita. Masih harus melakukan wawancara langsung dengan banyak orang. Lantas menuliskannya.

Belum lagi bila ada kejadian mendadak di malam hari yang membuat mereka harus meliput. Begadang. Mengabaikan tidur. Bila seperti itu, kondisi tubuh mereka rentan drop. Gampang sakit. Serta berpotensi menurunkan kekebalan tubuh.

Tentu saja itu berisiko bagi para jurnalis. Bahkan, mereka kerap tidak sadar bila ancaman wabah ternyata ada di depan mereka.

Jurnalis, profesi rentan tertular Covid-19

Sampean (Anda) mungkin masih ingat, beberapa waktu lalu, puluhan jurnalis di Bengkulu meminta dilakukan uji swab karena mereka memiliki riwayat kontak dengan pasien positif Covid-19. Mereka tidak tahu bila salah seorang yang diwawancara, tengah menunggu hasil tes swab yang kemudian terbukti positif corona.

Kejadian itu menjadi pesan, bahwa jurnalis merupakan profesi yang rentan tertular Covid-19. Alasannya, para pewarta tersebut sering bertemu banyak orang dan kerap berkecimpung langsung di lapangan.

Kerentanan tersebut akan semakin besar bila jurnalis yang bekerja di lapangan kurang mampu menjaga diri dan abai terhadap protokol kesehatan.

Plus, faktor depresi yang membuat wartawan rentan terpapar wabah ini.

Kiranya tepat hasil survei dari Center for Economic Development Study (CEDS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjajaran tentang profesi paling rentan terkena depresi di tengah wabah pandemi Covid-19 yang dilakukan pekan lalu.

Dari survei itu, profesi wartawan cenderung mengalami depresi dan kejenuhan umum di tengah pandemi virus corona yang melanda Indonesia. Bahkan, tingkat depresi wartawan lebih tinggi dari tenaga kesehatan.

Melansir dari timesindonesia.co.id, disebutkan, ada sebanyak 45,92 persen wartawan mengalami gejala depresi. Sedangkan 57,14 persen wartawan merasakan kejenuhan umum di tengah pandemi virus corona yang saat ini melanda Indonesia.

"Terdapat 45,92 persen wartawan yang memiliki gejala depresi, jauh lebih tinggi dari tenaga kesehatan sebesar 28 persen," demikian dinyatakan tim survei CEDS FE Unpad dikutip dari timesindonesia.co.id.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN