Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pencerita. Pewawancara. Pernah sewindu bekerja di "pabrik koran". The Headliners Kompasianival 2019. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

"Teori Toples" dan Pentingnya Asuransi Kesehatan

17 November 2019   00:04 Diperbarui: 17 November 2019   00:08 112 6 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Teori Toples" dan Pentingnya Asuransi Kesehatan
Teori toples menyadarkan kita perihal pentingnya kesehatan dalam hidup. Kesehatan merupakan aset terpenting dibanding aset lainnya. Sayangnya, tidak semua orang menyadarinya/Foto: PastiSeru.com

Pernahkah Anda mendengar kisah toples kosong yang bisa diisi tiga benda sekaligus?

Bahwa ada beberapa bola golf, dua genggam kerikil, dan juga dua genggam pasir yang harus dimasukkan ke dalam toples kosong. Bagaimana caranya agar tiga benda tersebut bisa sekaligus masuk ke dalam toples kosong?

Jawabannya bergantung bagaimana urutan memasukkannya ke dalam toples. Bila kita menempatkan pasir atau kerikil lebih dulu, maka tidak akan ada ruang untuk bola golf. Ketiga benda tersebut hanya bisa masuk dalam satu toples bila bola golf ditempatkan lebih dulu, lalu kerikil menempati sela diantara bola, lantas pasir mengisi celah tersisa.

Apa pesan penting dari "teori toples" ini? Bahwa bola golf, kerikil, dan pasir itu merupakan gambaran tentang apa yang kita cari dalam hidup ini.

Toples itu mewakili hidup kita. Bola golf adalah hal-hal penting dalam hidup kita seperti keluarga dan kesehatan. Kerikil adalah hal lainnya seperti pekerjaan juga mobil. Sementara pasir adalah hal-hal kecil lainnya. Adapun urut-urutan memasukkan adalah prioritas yang kita lakukan.

Kisah toples kosong, bola golf, kerikil, dan pasir itu juga berlaku dalam hidup. Bahwa, bila kita menghabiskan seluruh energi untuk hal-hal kecil, maka kita tidak akan punya waktu memperhatikan hal-hal yang lebih penting untuk kebahagiaan kita.

Sebenarnya itu teori yang mudah dilakukan. Banyak orang yang akan mampu memasukkan ketiga benda itu ke dalam toples sesuai urutan yang benar. Namun, bila dalam kehidupan sebenarnya, banyak orang yang ternyata tidak mampu memiliki prioritas yang benar. Saya pun pernah mengalami salah prioritas itu.

Dulu, di masa-masa awal bekerja di "pabrik koran" setelah lulus kuliah, saya menganggap pekerjaan adalah segalanya. Bagi saya yang kala itu masih bujangan, pekerjaan adalah jembatan menuju kebahagiaan.

Saya berharap ingin membangun keluarga, lantas memiliki beberapa aset penting seperti rumah dan tanah. Juga punya kendaraan pribadi. Dan saya berpikir semuanya itu bersumber dari penghasilan bekerja.

Pendek kata, saya merasa bahwa bahagia atau tidaknya hidup, bergantung dari pekerjaan itu.

Demi merealisasi harapan itu, saya 'memaksa' diri untuk bekerja gigih. Berangkat pagi pulang malam. Pagi hingga sore melakukan liputan ke lokasi peliputan. Lantas, ke kantor untuk menuliskannya menjadi berita.

Bahkan, bila kebetulan ada rapat malam di kantor, kembali ke rumah, bisa dini hari. Waktu istirahat berkurang. Sementara dalam sepekan, libur hanya sehari. Fokus dan tenaga saya terkuras hanya untuk pekerjaan.

Malah, terkadang saya kurang memedulikan jadwal makan. Bila jadwal sedang sangat padat, saya acapkali tidak sempat sarapan dan baru makan pas siang atau sore hari. Lalu, kembali makan jelang tengah malam. Makanan yang dikonsumsi pun lebih banyak yang instan serta berminyak. Kurang sayuran.

Sakit, menyadarkan saya bahwa kesehatan merupakan aset penting

Toh, meski seperti itu, saya merasa itulah dunia saya. Apapun ceritanya, itu pekerjaan saya. Dan saya merasa itu sumber kebahagiaan saya. Apalagi, di tahun keempat bekerja, hasil kerja mulai terlihat nyata. Saya bisa membeli aset berharga. Sebuah rumah.

Namun, cerita bahagia itu berubah ketika saya mulai merasakan sakit di sekitar dada. Rasanya nyeri. Ketika melakukan pemeriksaan kesehatan, dokter bilang bila kebiasaan saya pulang malam usai bekerja, menjadi salah satu penyebab.

Saya masih ingat ketika dokter di rumah sakit umum di kota saya, menyampaikan nasehat yang bermanfaat, tapi juga menakutkan. Menurutnya, sering terkena angin malam bisa berpengaruh pada sistem pernafasan dan kekebalan tubuh.

Bahwa, udara yang dingin akan memicu produksi lendir berlebihan yang sangat kental. Akibatnya, berbagai virus dan bakteri justru semakin terjebak dan masuk ke dalam paru-paru dan menimbulkan macam-macam masalah kesehatan. Salah satunya paru-paru basah.  

Siapa yang tidak takut ketika dokter sudah menyebut paru-paru basah. Meski itu baru sebatas gejala.

Selain itu, saya memang merasakan bila kekebalan tubuh saya mulai rentan. Ketika itu, hampir setiap satu atau dua bulan, saya terserang radang tenggorokan. Bahkan sampai sakit typhus. Sehingga, harus bed rest dua hingga empat hari di rumah.

Penyebabnya, ternyata karena pola makan saya yang memang amburadul. Waktu makannya tidak beraturan. Juga asupan makanan yang jauh dari menu sehat.

Selepas sakit, saya berusaha tertib dalam waktu makan dan menjaga asupan makanan. Namun, berselang sebulan, kembali lagi pada kebiasaan lama yang amburadul. Baru ketika beberapa kali sakit, saya benar-benar memaksa diri untuk mulai hidup sehat.

Gangguan kesehatan yang berkali-kali datang itu tidak hanya membuat stress. Tapi juga menyadarkan saya perihal pentingnya memulai hidup sehat. Saya juga tersadar, bahwa ada yang jauh lebih penting dari keinginan memiliki aset-aset seperti rumah, tanah, maupun kendaraan pribadi yang menjadi alasan saya bekerja keras hingga lupa menjaga kesehatan.  
 
Beberapa kali sakit imbas bekerja payah, menyadarkan saya bahwa aset paling penting dibanding rumah dan tanah adalah kesehatan.
Untuk apa mati-matian mengejar mimpi memiliki aset-aset dalam hidup, bila ternyata kesehatan terganggu.

Saya merasa telah salah menata prioritas hidup. Merujuk teori toples tersebut, saya malah mendahulukan memasukkan kerikil ataupun pasir ke dalam toples. Lebih memilih menghabiskan seluruh energi untuk mengejar hal-hal kecil, tapi malah mengabaikan aset paling penting, yakni kesehatan.

Padahal, ketika rumah sudah jadi dibangun, bahkan ketika masih proses membangun, saya melakukan berbagai upaya untuk menjaganya. Dari mulai mengecek kedalaman pondasinya, ketahanan temboknya, hingga penataan saluran air.

Termasuk mencari banyak informasi untuk mengasuransikan rumah. Pertimbangannya, dengan asuransi rumah, akan memberikan perlindungan terhadap risiko kerusakan akibat kebakaran, tindak pencurian, ataupun bencana alam.

Tetapi memang, kesadaran acapkali datang terlambat. Meski, itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali. Saya akhirnya tersadar bahwa ada aset penting lain yang perlu dijaga layaknya rumah. Aset bernama kesehatan. Sebab, jika hal buruk  menimpa aset yang satu ini, maka kondisi yang sama juga akan menimpa harta benda lainnya.

Pentingnya asuransi kesehatan

Nah, yang perlu diketahui, penyakit bukan hanya mengancam kesehatan kita, tetapi juga keuangan. Ada konsekuensi finansial bila kesehatan terganggu. Sebab, ketika sakit, pasti ada biaya yang perlu dikeluarkan. Bila sakitnya hanya demam atau pilek, mungkin itu bukan gangguan besar untuk keuangan kita.

Namun, apa jadinya bila sakit yang menyerang ternyata kronis? Bukankah ada banyak orang yang sampai harus menjual harta bendanya demi menebus tagihan rumah sakit agar bisa kembali sehat. Ungkapan sehat itu mahal memang benar adanya. Bahwa kesehatan itu jauh lebih mahal dibandingkan aset-aset yang kita miliki.

Karenanya, merujuk pada kesehatan merupakan aset penting, kita perlu melakukan proteksi selayaknya melindungi aset harta benda seperti rumah. Sebab, meski seberapa baik kita merawat diri sendiri, mungkin suatu hari kita mendapat kabar buruk dari dokter. Karenanya, kita butuh asuransi kesehatan.

Bila rumah ataupun kendaraan yang 'hanya kerikil' saja diasuransikan, mengapa kesehatan yang merupakan 'bola golf' malah tidak diberikan proteksi tambahan berupa asuransi?

Padahal, dengan asuransi kesehatan, akan membantu ketersediaan untuk semua kebutuhan biaya dokter, obat-obatan, rawat inap, sampai dengan tindakan operasi. Melalui sejumlah premi yang kita bayarkan, asuransi kesehatan akan memberikan perlindungan pada kita sebagai nasabah

Pada akhirnya, fungsi asuransi kesehatan bisa untuk melindungi keuangan kita jika sewaktu-waktu hal buruk menimpa diri dan keluarga. Semisal bila sakit, kita tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk perawatan. Sehingga, finansial maupun harta benda akan terlindungi.

Mengenal Sun Medical Platinum

Nah, dari sekian banyak pilihan asuransi, Sun Medical Platinum bisa jadi pilihan. Dikutip dari sunlife.co.id, Sun Medical Platinum merupakan asuransi tambahan yang memberikan perlindungan kesehatan secara lengkap hingga usia 88 tahun.

Asuransi milik Sun Life Financial ini memberikan biaya pertanggungan sampai dengan Rp 7,5 miliar. Jumlah ini sudah termasuk perawatan berbiaya besar seperti, perawatan di Intensive Care Unit (ICU), operasi, cuci darah, dan perawatan kanker.

Selain itu, Sun Medical Platinum juga menjadi polis kesehatan pertama di Indonesia yang menyediakan perawatan untuk efek samping kemoterapi dan terapi pendukung pemulihan, seperti terapi wicara serta terapi okupasi. Semisal suatu waktu kita harus berobat hingga ke luar negeri, asuransi tersebut akan menyediakan pilihan rumah sakit. Sebab, Sun Medical Platinum sudah didukung jaringan rumah sakit rekanan di seluruh dunia dan layanan evakuasi medis selama 24 jam penuh.

Nah, dengan segala manfaat tersebut, seharusnya kita tak perlu lagi ragu untuk menggunakan asuransi kesehatan. Jangan menunggu kabar buruk dari dokter.

Sebab, memprioritaskan menjaga aset kesehatan dibanding aset lainnya, sejatinya semudah menentukan pilihan memasukkan bola golf, kerikil, atau pasir telebih dulu ke dalam toples. Salam

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x