Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Raket Pilihan

Ginting vs Momota dan Ulangan "Lagu Lama" di Final China Open 2019

22 September 2019   06:21 Diperbarui: 22 September 2019   10:02 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bila tahun lalu Ginting juara, bagaimana tahun ini?

Tahun ini, Momo-Gi baru terjadi sekali di final Singapore Open pada April lalu. Laga final tersebut dimenangi oleh Momota. Padahal, Ginting sempat unggul di game pertama. Ginting pun gagal meraih gelar perdananya tahun ini. Sementara Momota sudah meraih lima gelar di tahun 2019 ini. Termasuk gelar juara dunia 2019.

Namun, di China Open, bukan tidak mungkin cerita tahun lalu kembali terulang. Entah kenapa, Ginting bak selalu tampil beda di China Open. Dia sangat termotivasi. Dia merasa bermain sangat nyaman bak di rumah sendiri.

Salah satunya karena ada banyak pencinta bulutangkis di Changzhou yang menyukai Ginting. Bahkan, dalam perjalanan menuju final, penonton mendukung Ginting. Silahkan menengok cuplikan laga Ginting di China Open 2019 via Youtube, Anda akan menemukan betapa dukungan untuk Ginting itu nyata adanya.

Apalagi bila bertemu Momota. Sebab, ada yang bilang, badminton lover Tiongkok mendukung Ginting karena menganggap, dialah yang hanya bisa mengalahkan Momota bila dalam performa terbaiknya. Ibaratnya, Ginting 'dipinjam' untuk melunasi kekecewaan setelah Chen Long dan Shi Yuqi tak mampu tampil optimal di China Open.

Lagu lama "all Indonesian final" di ganda putra

Bila Ginting masih harus berjuang, Indonesia dipastikan akan meraih satu gelar di ganda putra. Dua ganda putra Indonesia, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya akan kembali berjumpa di final.

Kemarin, Hendra/Ahsan lolos ke final usai mengalahkan ganda putra andalan tuan rumah, Li Jun Hui/Liu Yu Chen. Juara dunia 2019 ini menang 22-20, 21-11 dalam waktu 32 menit atas juara dunia 201 tersebut. Sementara Marcus/Kevin memenangi 'perang saudara' melawan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto dengan skor 21-8, 21-16 hanya dalam waktu 26 menit yang menjadi laga semifinal tercepat.

Final ganda putra ini bak 'lagu lama' yang sedang hits dan sering didengar. Faktanya, duel Hendra/Ahsan dan Marcus/Kevin di final China Open 2019 ini merupakan pertemuan keempat mereka di empat final BWF World Tour tahun ini.

Sebelumnya, dua ganda putra 'beda generasi' ini bertemu di final Indonesia Masters, Indonesia Open, dan Japan Open. Itu menjadi penegas bahwa keduanya memang tampil konsisten di tahun ini. Keduanya tengah 'panas'.
   
Menariknya, meski Hendra/Ahsan sudah menjadi juara All England dan Kejuaraan Dunia 2019, tetapi mereka selalu takluk ketika bertemu Marcus/Kevin di tiga final tersebut.

Ada yang bilang, Marcus/Kevin sudah tahu 'rahasia' dari ganda senior tersebut. Sebab, mereka memang berlatih bersama. Terlepas tentunya faktor perbedaan usia.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Raket Selengkapnya
Lihat Raket Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun