Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Penulis - Penulis. Jurnalis.

Pernah sewindu bekerja di 'pabrik koran'. The Headliners Kompasiana 2019, 2020, dan 2021. Nominee 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Artikel Utama

Jangan Asal Menulis di Kompasiana, Karena Peluang Bisa Datang Kapan Saja

28 Juni 2019   07:46 Diperbarui: 29 Juni 2019   04:05 829
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pelawak tunggal (komika) Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan bertajuk "World Tour Jakarta" yang digelar beberapa bulan lalu, menyampaikan pesan menarik dalam sesi penutup 'konser' stand up comedy tersebut. 

Pandji melakukan kilas balik kariernya dari orang biasa hingga terkenal sebagai pekerja seni yang membuatnya  bisa tampil di beberapa film dan menjadi orang berpengaruh di panggung komedi tunggal di Indonesia.  

Kata dia, 'perubahan nasibnya' tidak lepas dari ketika dirinya bekerja di sebuah radio di Bandung. Dia pernah dipercaya membawakan sebuah acara "ngerjain orang" yang dalam beberapa tahun mendatang diangkat ke layar kaca. Yang menarik adalah bagaimana dia memperlakukan acara tersebut layaknya acara paling seru yang didengar seluruh pendengar radio di Indonesia.

Pandji mengaku kurang tertarik memikirkan berapa jumlah pendengar yang kebetulan sedang mendengar dirinya 'on air'. Baginya, yang paling penting dirinya melakukan pekerjaan itu dengan sepenuh hati, sebaik-baiknya. Tidak boleh ada pikiran "paling yang dengar cuma berapa, dibawa asal-asalan saja".

Singkat kata, acara Pandji tersebut didengar pendengar yang kelak jadi orang yang mengajaknya masuk ke dunia TV. Gara-garanya, ketika mendengar acara di radio itu pertama kali, orang itu langsung tertarik dengan cara dan gaya Pandji siaran. 

Dia lantas menandai jam siarannya. Berikutnya, di tiap jam acara itu diputar di radio, dia mendengar dan ternyata gaya dan totalitas Pandji ketika mengudara, tetap sama. Hingga akhirnya dia jadi pendengar setia dan 'mengidolakan' Pandji.

Nah, ada pesan menarik yang disampaikan Panjdi dari kisah kilas balik itu. Dulu, andai dirinya tidak bekerja sepenuh hati ketika membawakan acara radio tersebut karena hanya menganggap acaranya tidak didengar banyak orang, kariernya tidak akan bisa 'terbang' seperti sekarang. Sebab, bila bekerja asal-asalan, mana ada orang lain yang mau datang memberinya peluang karena melihat potensinya.

"Kita tidak pernah tahu, enam menit yang kita lakukan dengan serius dan sepenuh hati, mungkin akan bisa mengubah hidup kita. Karena itu, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan enam menit itu," begitu kurang lebih pesan Pandji.

Nah, berkorelasi dengan kisah dan pesan Pandji tersebut, kiranya setiap orang juga bisa mendapatkan peluang tak terduga bak istilah efek dari kibasan sayap kupu-kupu. Termasuk kita yang setiap hari rajin menghiasi rumah Kompasiana ini dengan tulisan-tulisan beraneka rupa tema.

Seperti halnya kisah Pandji, kita tidak pernah tahu bila dari tulisan-tulisan  yang kita tulis lantas kita pajang di Kompasiana, ternyata bisa menjadi peluang bagi kita untuk mengembangkan karier dalam penulisan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun