Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Surat dari Sydney untuk Bulutangkis Indonesia (PBSI)

11 Juni 2019   09:46 Diperbarui: 11 Juni 2019   09:49 0 1 1 Mohon Tunggu...
Surat dari Sydney untuk Bulutangkis Indonesia (PBSI)
Jonatan Christie dan Anthony Ginting, tampil oke di Australia Open 2019/Foto: Pos Kupang



Turnamen bulutangkis Australia Open 2019 yang digelar di Quaycentre di Sydney, berakhir Minggu (9/6/2019). Turnamen berakhir, saatnya melakukan perenungan. Evaluasi. Dan namanya evaluasi, tentunya ada kabar bagus yang membanggakan dan ada kabar kurang bagus yang menjadi pekerjaan rumah untuk segera dicarikan solusinya.

Kita tahu, di Australia Open 2019 yang merupakan turnamen BWF Super 300, Indonesia akhirnya berhasil membawa satu pulang gelar di sektor tunggal putra, plus runner-up di sektor ganda campuran.

Dengan menurunkan 24 pemain/pasangan utama yang tampil di lima sektor (tunggal putra/putri, ganda putra/putri dan ganda campuran) di turnamen level Super 300 yang tidak semuanya pemain top dunia tampil, sebagian orang mungkin menganggap satu gelar saja itu kurang. Sebagian orang lainnya mungkin  menyebut bahwa pebulutangkis-pebulutangkis Indonesia gagal di Australia Open 2019.

Nah, bila dalam menulis surat untuk PBSI ini harus memilih mendahulukan kabar bagus atau kabar kurang bagus, saya lebih suka mendahulukan kabar bagus. Ya, mari kita mengawali tulisan ini dari tunggal putra sebagai sektor peraih gelar.

Jonatan dan Ginting mulai konsisten

Bagaimanapun, raihan satu gelar itu patut disyukuri. Apalagi, gelar juara di sektor tunggal putra yang diraih Jonatan Christie itu merupakan yang pertama dalam 10 tahun terakhir di Australia Open. Bahkan, Indonesia mendominasi final dengan memanggungkan All Indonesian Final ketika Jonatan bertemu Anthony Sinisuka Ginting.

Tentu saja, akan ada orang yang 'rewel' lantas berucap nyinyir. Dan memang ada warganet yang seperti itu. Mereka menyebut pantas saja tunggal putra Indonesia meraih gelar karena pemain-pemain tunggal putra top dunia seperti Kento Momota, Shi Yuqi, Viktor Axelsen ataupun Chen Long, tidak ikutan tampil di turnamen level Super 300.

Anggapan seperti itu terkadang membuat saya gagal paham. Lha wong, bisa juara saja masih dinyinyirin. Apalagi bila gagal di turnamen yang tidak diikuti beberapa pemain top dunia.
 
Terlepas dari itu, bukan hanya gelar, terpenting adalah mulai konsistennya penampilan tunggal putra Indonesia. Kita tahu, di turnamen terakhir di New Zealand Openpada 5 Mei lalu, Jonatan juga juara. Artinya, di dua turnamen BWF terakhir, dia selalu juara. Bukankah itu bekal bagus untuk tampil di turnamen berlevel lebih tinggi. Salah satunya di Indonesia Open 2019 yang akan digelar pertengahan Juli nanti?  

Bahkan, dalam forum badmintonlover Tiongkok yang diunggah badmintalk, Jonatan banyak mendapatkan pujian. Utamanya kemampuannya dalam membaca arah bola dan mengatur ritme permainan yang dipuji mengalami peningkatan dibanding sebelum-sebelumnya.  

Toh, tunggal putra yang tampil di Australia Open juga tidak jelek-jelek amat. Ada pemain Taiwan, Chou Tien-chen yang merupakan pemain rangking 4 dunia dan dikalahkan Jonatan di semifinal. juga ada pemain Jepang, Kenta Nishimoto yang masuk top 10 rangking dunia.

Tidak hanya Jonatan, penampilan Ginting juga terbilang stabil. Pada April lalu, dia juga tampil di final Singapore Open. Dengan penampilan Jonatan dan Ginting yang tengah on fire, tentunya menarik ditunggu penampilan mereka di kandang sendiri pada Indonesia Open 2019 nanti.

Sayangnya, bila tunggal putra sudah melesat, tunggal putri masih saja jalan di tempat. Tiga tunggal putri andalan Indonesia yang tampil di Australia Open 2019, yakni Gregoria Mariska Tunjung, Ruselli Hartawan dan Fitriani, semuanya langsung terhenti di putaran pertama.

Padahal, ketiganya tidak bertemu lawan top yang termauk pemain top 10 dunia. Ruselli dikalahkan pemain Jepang, Aya Ohori, Gregoria kalah dari pemain Kanada, Michelle Li dan Fitriani takluk dari pemain Tiongkok, Zhang Yiman.
Sebelumnya, mereka juga tidak mampu berbuat banyak di New Zealand Open.

Tentunya ini menjadi pekerjaan berat bagi PBSI untuk meningkatkan performa tungga putri Indonesia. Utamanya bagi pelatih tunggal putri, Rionny Mainaky. Sebab, bila penampilan tunggal putri Indonesia tidak kunjung membaik, 'tiket' ke Olimpiade 2020 bisa gagal diraih.

Tumben, ganda putra gagal juara

Kabar kurang bagus muncul dari sektor ganda putra yang. Kecuali pasangan Marcus Gideon/Kevin Sanjaya yang tidak ikut berangkat, Indonesia mengirimkan lima pasangan ganda putra. Ada Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto yang menempati unggulan 4. Lalu Akbar Bintang Cahyono/Muhammad Reza Pahlevi, Wahyu Nayaka/Ade Yusuf, dan Berry Angriawan/Hardianto yang merupakan juara bertahan. Plus, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan yang menjadi unggulan 3.

Seharusnya, komposisi ganda putra Indonesia itu sudah cukup kuat. Minimal untuk bisa lolos sampai ke final. Yang terjadi, ganda putra Indonesia bahkan tidak ada yang mampu lolos ke semifinal. Paling maksimal hanya Hendra/Ahsan yang terhenti di perempat final.

Kegagalan ganda putra Indonesia disebabkan oleh penampilan kejutan ganda putra Korea. Meski bukan unggulan, dua ganda putra tampil mengejutkan. Pasangan Ko Sung-hyun/Shin Baek-cheol yang akhirnya menjadi juara, menyingkirkan Berry/Hardi di putaran II dan mengalahkan Ahsan/Hendra di perempat final. Ini merupakan come back dari Ko Sung-hyun/Shin Baek-cheol yang merupakan juara dunia 2014 dan sudah berusia 32 tahun (Ko Sung) dan 29 tahun (Shin).

Sementara pasangan Fajar/Rian dan Wahyu/Aden dihentikan pasangan Korea lainnya, Choi Sol-gyu/Seo Seung-jae di putaran pertama dan kedua. Pasangan muda berusia 23 tahun dan 21 tahun ini akhirnya lolos hingga semifinal.

Ini pesan serius bagi PBSI. Bahwa tantangan sektor ganda putra kini bukan hanya datang dari Tiongkok, Jepang maupun Malaysia. Tetapi Korea juga sudah siap meramaikan persaingan menuju Olimpiade 2020 dengan memanggil kembali jagoan lawas mereka.

Greysia/Apri taklukkan juara dunia, sayang gagal ke final

Di ganda putri, Indonesia kembali dihadapkan pada fakta berulang. Bahwa hanya pasangan Greysia Polii/Apriani Rahayu yang siap bersaing di level tertinggi. Dari empat pasangan yang dikirim, hanya Greysia/Apri yang tampil bagus. Sementara tiga pasangan lainnya, Della Destiara/Rizki Amelia, Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto dan Agatha Imanuela/Siti Fadia Silva, langsung rontok di putaran pertama.

Catatan khusus pantas diberikan untuk Greysia/Apri. Mereka mampu mengalahkan pasangan juara dunia 2018 asal Jepang, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara di perempat final lewat straight game 21-19, 21-18. Selama ini, Greysia/Apri susah menang ketika bertemu pemain Jepang.

Sayangnya, Greysia/Apri terhenti di semifinal. Mereka takluk dari juara dunia 2017 asal Tiongkok, Chen Qingchen/Jia Yifan yang penampilannya di tahun 2019 ini kembali menanjak setelah puasa gelar BWF di tahun 2018. Keduanya jadi juara All England 2019.

Mengapa Praveen/Melati selalu kalah di final ?


Di ganda campuran, PBSI mengirimkan empat pasangan terbaiknya. Yakni Praveen Jordan/Melati Daeva, Hafiz Faisal/Gloria Widjaja, Tontowi Ahmad/Winny Octavina dan Akbar Bintang Cahyono/Annisa Saufika.

Hasilnya, Tontowi/Winny dan Akbar/Annisa langsung terhenti di putaran pertama. Sementara Hafiz/Gloria kalah di perempat final. Hanya Praveen/Melati yang tampil oke dengan melaju hingga final. Sayangnya, mereka tampil antiklimaks di final. Praveen/Melati kalah di laga puncak dengan skor mencolok, 15-21, 8-21.    

Nah, kekalahan Praveen/Melati di final ini patut menjadi perhatian bagi PBSI. Sebab, bukan sekali ini, mereka kalah di laga puncak. Sejak dipasangkan pada awal tahun 2018 lalu, Praveen/Melati sebenarnya tampil cukup oke. Mereka mampu empat kali tampil di babak final. Sayangnya, semua berakhir dengan kekalahan. Yakni di India Open 2018, 2019, New Zealand Open 2019 dan Australia Open 2019.

Patut menjadi pertanyaan, mengapa Praveen/Melati acapkali tampil kurang ganas di laga final sehingga akhirnya belum mampu meraih gelar. Entah apakah dikarenakan ketegangan laga final, kondisi fisik yang terkuras ataukah lawan yang dihadapi memang lebih siap.

Padahal, lawan-lawan yang dihadapi ya itu-itu saja. Bicara kondisi fisik, lawan mereka pun pastinya juga terkuras kondisinya setelah melakoni laga dari putaran pertama. Boleh jadi mereka perlu tampil lebih rileks di final. Siapa tahu, dengan tampil lebih rileks, mereka bisa 'meledak' karena mampu mengurangi kesalahan sendiri (error) dan menekan lawan.

Saya yakin, pencapaian di Australia Open 2019 menjadi bahan perenungan bagi PBSI untuk berbenah. Dengan atau tanpa "dikirimi surat" seperti ini pun, PBSI pasti akan menggenjot atlet-atletnya untuk menjadi lebih baik.

Hanya saja, terkadang diperlukan kritikan dari 'orang luar' agar penampilan pebulutangkis kita lebih bagus. Termasuk dari penikmat bulutangkis seperti kita. Harapannya, penampilan mereka terus stabil hingga Olimpiade 2020 mendatang, demi kebanggaan Indonesia. Salam.