Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Pilihan

Jojo dan Ginting Tampil Hebat di Asian Games 2018, Masih Ada yang Mau "Bully"?

26 Agustus 2018   13:37 Diperbarui: 27 Agustus 2018   12:57 0 5 4 Mohon Tunggu...
Jojo dan Ginting Tampil Hebat di Asian Games 2018, Masih Ada yang Mau "Bully"?
Anthony Ginting (kiri), tampil hebat saat mengalahkan juara dunia 2018 asal Jepang, Kento Momota di babak 16 besar Asian Games 2018/Foto: Twitter InaBadminton

Tidak mudah menjadi atlet Indonesia. Utamanya atlet di cabang olahraga yang memiliki sejuta penggemar seperti halnya bulutangkis. Sebab, tidak semua pecinta bulutangkis yang populer dengan sebutan badminton lover itu "ori". Ada juga yang musiman.

Mereka yang musiman ini adalah suporter dadakan yang hanya menonton pemain Indonesia bertanding ketika ada pertandingan yang disiarkan langsung oleh televisi. Mereka menuntut pemain-pemain Indonesia harus selalu menang tanpa mau tahu bahwa di bulutangkis hanya ada 2 kemungkinan, menang atau kalah. 

Dan, berbeda dengan yang ori, mereka juga jarang mengikuti perkembangan bulutangkis kekinian sehingga tidak mau tahu siapa lawan yang dihadapi pemain Indonesia, apalagi soal data statistik pertemuan pemain di lapangan.

Pendek kata, mereka ini adalah jenis suporter yang mudah menyanjung ketika pemain Indonesia menang. Sebaliknya, mereka bisa begitu kejam mencaci dan membully pemain-pemain Indonesia ketika kalah melalui komentar-komentar mereka di media sosial.  

Tengok saja, sumpah serapah berupa kata-kata kasar semisal t***l, g****k, s****h bisa dengan mudah kita temukan di kolom-kolom komentar akun media sosial yang memberitakan perjuangan pebulutangkis Indonesia di ajang Asian Games 2018.

Perlakuan seperti itu yang dialami 2 tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie ketika gagal membawa Indonesia juara usai dikalahkan Tiongkok di final beregu putra pada 22 Agustus 2018 lalu.

Ketika Ginting mengalami kram di kaki kanannya di penghujung game ketiga di pertandingan pertama sehingga terpaksa kalah dari Shi Yuqi, terlepas dari banyaknya respek dan pujian untuk semangat juangnya, ternyata masih ada orang-orang (entah kata apa yang tepat untuk menyebut mereka) yang kurang menghargai perjuangannya. Malah, dari pantauan di media sosial, ada warganet yang berkomentar bahwa cedera nya itu hanya pura-pura, atau juga mencibirnya tidak profesional. Astaga.

Lha bagaimana bisa pura-pura cedera? lha wong saat itu skornya kritis dan dia masih berpeluang menang. Bahkan, ketika dia memaksakan untuk tetap tampil dengan kaki terpincang-pincang, skor masih 20-19 untuk Ginting sebelum akhirnya menyerah di angka 20-21. Kalau tidak cedera, saya yakin Ginting bisa menyelesaikan game ketiga itu dengan kemenangan. Bebas berkomentar boleh, asal jangan asal bunyi atau nulis.

Bahkan, Shi Yuqi saja mengapresisasi perjuangan hebat Ginting. Termasuk juga respons positif dari badminton lover Tiongkok. Lah ini suporter sendiri malah untuk mengapresiasi saja sulit.

Tidak hanya Ginting, Jonatan Christie yang tampil sebagai tunggal kedua di pertandingan ketiga, juga jadi sasaran cemoohan di media sosial. Ada yang mencibir kurang semangat mainnya atau mentalnya nggak kuat karena kalah dari Chen Long 18-21 di game ketiga ketika sempat unggul 7 poin. Malah ada cibiran yang mengarah ke fisik dengan menyebut Jojo hanya bermodal tampang ganteng. Lha apa hubungannya main bulutangkis sama wajah ganteng. Ckkk Ckkk. 

Sungguh itu menyakitkan. Berjuang habis-habisan demi negara menghadapi pemain yang secara pengalaman lebih matang, tetapi dibully oleh pendukung sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3