Mohon tunggu...
Hadi Santoso
Hadi Santoso Mohon Tunggu... Tukang Nulis

Pemungut kisah dari lapangan. Pernah bekerja di "pabrik koran". Nominasi kategori 'Best in Specific Interest' Kompasianival 2018. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Media Artikel Utama

Menulis Itu Berpikir, Bukan Menyalin Tulisan Orang Lain

12 Juli 2017   16:43 Diperbarui: 13 Juli 2017   10:40 0 11 7 Mohon Tunggu...
Menulis Itu Berpikir, Bukan Menyalin Tulisan Orang Lain
Berpikir untuk Mencipta (Tulisan)/Foto: Hadi Santoso

Berpikir adalah mencipta.

Saya menemukan kalimat keren itu tertulis di wajah tembok di salah satu sudut gedung Siola Surabaya pagi ini. Di bawah tulisan tersebut tertulis nama HOS Tjokroaminoto yang berarti kalimat itu merupakan ucapan dan 'milik' dari pahlawan nasional yang kisah ketokohannya sudah difilmkan ini.

Saya lantas tergoda untuk mengaitkan kalimat itu dengan proses kreatif dalam menghasilkan tulisan. Ya, sebuah tulisan lahir karena adanya proses kreatif berupa membaca, membaca, membaca dan juga mencari data-data. Singkat kata, tulisan itu tercipta karena berpikir.

Ya, menghasilkan tulisan itu ada proses kreatifnya. Dan, dalam Kamus Besar bahasa Indonesia, makna kreatif ini berarti memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk menciptakan. Karenanya, menyalin alias men-copy paste tulisan milik orang lain atau (lebih jujur nya) mencuri tulisan milik orang lain tanpa seizin penulisnya, bukan termasuk proses kreatif.

Ketika saya memposting foto berisi tulisan tersebut di akun Instagram saya, ada seorang kawan yang lantas berkomentar "Ini ngomongin soal "how can you do that me" yaa. Hmmm saya tidak sedang membahas nama yang sedang tenar karena rame diberitakan oleh media arus utama dan bukan arus utama perihal dugaan menjiplak tulisan orang lain itu. Tidak. Saya memilih untuk sekadar tahu informasi nya saja. Tidak berkomentar lebih. Saya memilih menjauhi prasangka.

Justru, ketika ngobrol dengan beberapa kawan terkait hal itu, saya lebih suka mengajak mereka melihat diri sendiri. Ya, jangan sampai karena tidak suka dengan orang, kita lantas mencemoohnya seperti orang kesurupan yang ngomongnya nggak karu-karuan. Padahal, kita mungkin malah belum berpikir apapun untuk menghasilkan karya. Atau yang lebih memalukan, boleh jadi, dalam keseharian, ternyata kita juga doyan melakukan hal serupa tetapi seolah lupa.

Ya, berpikir adalah mencipta. Mencipta sebuah tulisan. Dan bila tulisannya bukan dari proses berpikir (yang diawali dengan banyak membaca referensi dan data), boleh jadi tulisannya itu sekadar milik orang lain yang diklaim atas nama si tukang klaim. Boleh jadi tulisan itu hasil menjiplak. Dengan bahasa yang keras, boleh jadi tulisan itu hasil mencuri tulisan orang lain.

Bukankah sekarang ini tidak sulit untuk menemukan orang-orang dengan 'hobi' seperti itu. Mudah menemukan para penjiplak itu baik di dunia nyata maupun di dunia tak nyata (maya). Karena memang, sekarang ini mudah sekali mendapatkan bahan tulisan dengan cuma mengetik kata yang akan ditulis.    

Memang, bukan hal mudah menulis berdasarkan ide-ide yang benar-benar murni dan asli dari kita. Karena memang, kebanyakan kita menghimpun informasi berdasarkan dari apa yang kita baca (tulisan orang lain), dengar (gagasan orang lain) dan lihat (peristiwa yang terjadi). Informasi itulah yang kemudian diolah kreatif menjadi sebuah tulisan. Yang penting, masih ada proses kreatifnya. Bukan malah mematikan kemampuan otak dengan sekadar menjiplak.

Semoga kita yang rajin menulis di Kompasiana ini, yang hampir setiap hari menulis dengan multi tujuan: menginformasi, mengedukasi, menginspirasi, berinteraksi, menghibur, mendapatkan hadiah, atau tujuan lainnya, semoga kita masih suka untuk berpikir dalam mencipta tulisan. Semoga kita tidak tergoda untuk menjiplak tulisan orang lain. Sebab, bila kita menulis untuk menyampaikan kebenaran dan niat mulia lainnya, bagaimana kebenaran dan niat mulia itu bisa tersampaikan bila pesannya ternyata dari hasil mencuri. 

Salam.

KONTEN MENARIK LAINNYA
x