Gustaaf Kusno
Gustaaf Kusno profesional

A language lover, but not a linguist; a music lover, but not a musician; a beauty lover, but not a beautician; a joke lover, but not a joker ! Married with two children, currently reside in Palembang.

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Labil Berbahasa Inggris

2 Agustus 2018   13:36 Diperbarui: 2 Agustus 2018   13:52 637 0 1

Berbeda dengan tetangga-tetangga dekat seperti Malaysia, Singapura, atau Filipina, kita orang Indonesia sangat labil berbahasa Inggris. Kalau dalam istilah native speaker yang kita ucapkan dan kita tulis adalah "broken English". Mengucapkannya (pronunciation) broken, menuliskannya (spelling) juga broken.

Kendatipun demikian, kita sangat getol berbahasa Inggris, karena ini adalah simbol orang terpelajar/orang intelek. Banyak kosakata Indonesia yang sudah bagus diganti dengan kata Inggris tanpa memedulikan apakah audiens bisa menangkap maknanya. Dan juga tidak peduli apakah pengucapannya dan penulisannya salah. Sing penting nginggris.

Pada wacana tulisan, di media online dan media sosial, saya jumpai ada yang menulis idiom "test the water" dengan "taste the water". Juga ungkapan "gentleman's agreement" dengan "gentlement agreement". Lalu "food chains" ditulis dengan "food change". Pun "second opinion" dituliskan dengan "second option". Dan "worth it" dituliskan dengan "worthed" "Hard feeling" ditulis dengan "hurt feeling".

"Haters" ditulisnya dengan "heaters". Idiom "Out of the box" ditulis dengan "Outside the box". Dan dua contoh yang cukup kocak, "penthouse" ditulis dengan "panthouse" serta "jet lag" ditulis dengan "jet leg".

Saya punya pengalaman yang unik menyangkut diri sendiri soal kelabilan berbahasa Inggris. Bulan yang lalu, saya pergi ke Kanada untuk menjenguk anak dan cucu. Saya yang merasa fluent berbahasa Inggris, tiba-tiba jadi bodoh berinteraksi dalam bahasa Inggris. Betul-betul embarrassing. Lawan bicara tidak dapat saya tangkap maksudnya, menjawabnya pun jadi terbata-bata kayak yang sebut di atas: broken English. Mungkin ini kualat, karena saya suka mengolok-olok orang yang bahasa Inggrisnya pekok.

Tatkala saya ditanya besan (beliau Greek Canadian) "Do you want a cake?" yang masuk ke telinga saya kok jadi "Do you want a kick?" Prosesor di otak saya lama berputar sebelum saya menyadari bahwa beliau menawari saya kue, bukan menawari saya untuk ditendang.

Kesokan harinya, kepekokan saya belum sembuh juga, manakala menantu saya (jelas juga Greek Canadian) bertanya "Do want fried egg?" yang cilakanya masuk ke telinga saya menjadi "Do you want Friday?". Mau menjawab "yes" atau "no" jelas tidak mungkin, sebelum saya memahami apa yang ditawarkannya. Pokoknya reputasi saya sebagai jagonya bahasa Inggris "hancur" deh selama berada di Kanada.

Sebetulnya, saya bisa mencari excuse atas kegagalan saya berbahasa Inggris di sana. Kanada adalah negara yang multi-kultural, di mana berbagai asal-usul bangsa ada di sana. Ada dari Eropa, dari Asia (yang dominan China, India, Filipina, Vietnam) dan dari Timur Tengah. Masing-masing memakai lidah ibunya di dalam berbahasa Inggris yang disebut dengan "accent". Jadi, nyaris "standard English" tak ada di situ.

Ada cerita yang menarik (sekaligus memalukan) manakala saya coba mengobrol dengan besan laki saya. Beliau mempunyai hobi untuk bercocok tanam. Datangnya musim semi selalu dimanfaatkannya untuk menanam tomat, blueberry dan banyak sayur-sayuran lain. Beliau lantas menunjukkan tanaman perdu yang dikatakannya sebagai "pepper".

Sepanjang pengetahuan saya (yang cetek mengenai buah-buahan dan sayur-sayuran), "pepper" adalah "paprika" yang berbentuk seperti lonceng berwarna merah, kuning dan hijau. Jadi saya pun nyeletuk "Oh, paprika". Besan pun langsung menukas "No, pepper. Not paprika". Belakangan saya baru menyadari bahwa yang dimaksud dengan "pepper" ini adalah berwujud seperti cabai tapi ukuran lebih besar dan lebih gemuk. Rasanya pun tidak pedas seperti cabai rawit.

Ada beberapa pelafalan Inggris saya yang terkoreksi selama di sana, yaitu pengucapan "hotel", "dessert" dan "taco". Selama ini saya salah lafal tanpa saya sadari. Dahulu saya juga pernah mispronounce kata "cement". Jelas kalau kita salah ucap/lafal, mereka tidak dapat menangkap maksudnya. Waktu saya salah mengucapkan "hotel", mereka malah menyangka saya mengatakan "hospital".

Selama berada di Kanada paling tidak saya bisa menambah beberapa perbendaharaan kata Inggris. Ada sejenis penganan (kudapan) yang mirip sekali dengan serabi, namanya "crumpet". Konon crumpet ini kudapan asal Inggris tapi sekarang sudah menyebar di seluruh dunia.

Di grocery kita bisa membeli crumpet ini yang ready made dan untuk menyantapnya cukup dimasukkan ke dalam microwave dan langsung siap santap. Dia bisa diberi topping peanut butter atau maple syrup. Sebetulnya saya punya kelemahan menghafal nama-nama kue dalam bahasa Inggris, tapi terhadap kue yang satu ini saya ingat terus. Soalnya pelafalannya mirip dengan "kampret" dan seperti Anda semua tahu ini adalah kata yang paling trending di jagad medsos kita.

Mendengar sekelumit cerita saya ini, kesimpulannya memang benar bahwa kita sudah ditakdirkan labil berbahasa Inggris. Tentu ada segelintir orang Indonesia yang bahasa Inggrisnya perfect, tapi jumlahnya teramat sedikit, sehingga secara statistik tidak bermakna. Di antara yang sangat sedikit ini, saya mencatat ada seorang novelis yang bernama Laksmi Pamuntjak. Dia menulis novel dalam bahasa Inggris berjudul "A Question Of Red". Sudah saya baca novelnya dan saya acungi jempol bahasa Inggrisnya.