Mohon tunggu...
Gurgur Manurung
Gurgur Manurung Mohon Tunggu... Lahir di Desa Nalela, sekolah di Toba, kuliah di Bumi Lancang Kuning, Bogor dan Jakarta

Petualangan hidup yang penuh kehangatan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Kritik sebagai Momentum Menjelaskan Substansi

6 Agustus 2020   08:08 Diperbarui: 6 Agustus 2020   08:12 241 11 1 Mohon Tunggu...

Kritik tanpa solusi tidak ada gunanya. Kalimat itu sering saya dengar di Media  Sosial  (Medsos),  media konvensional dan dikehidupan sehari-hari.  Kalimat  kritik tanpa solusi  tidak ada gunanya biasanya disampaikan orang-orang yang kurang pengalaman dalam berdialog.  Kritik itu disampaikan oleh kritikus dan solusi  itu kewenangan stakeholder (pemangku kebijakan).   

Kritik dan solusi  merupakan dua kewenangan atau posisi yang berbeda.  Namun, ada kalanya kritikus memberikan solusi dalam pandangannya. Sebagai contoh, saya kritik rencana  food estate yang tidak tepat dalam rangka menyiasati krisis pangan.  Solusinya adalah pembinaan kemampuan petani untuk meningkatkan kualitas dan meningkatkan  produksi pertanian disertai pendampingan modal  kerja bagi petani.

Seserang memberikan kritik  agar pemerintah melakukan good governance (pemerintahan yang bersih), apakah si pemberi kritik memberi solusi?.  Bagi si pemberi kritik  solusinya adalah terus memberi kritik  hingga good governance tercapai.  

Jika tidak tercapai, maka si pemberi kritik terus mengkritik agar pembaca dan pendengar sadar bahwa pemerintah tidak  memimpin dengan prinsip good governance. 

Dampaknya adalah  pemerintah yang tidak  melakukan good governance  tidak dipilih lagi.  Solusi lain adalah  pemerintah yang tidak good governance dilaporkan ke penegak hukum jika ada bukti pelaanggaran hukum.  Jadi, kritik yang terus menerus dilakukan akan menemukan solusi sendiri.

Apa yang kita nilai dari sebuah kritik? Kritik keluar dari orang-orang yang terbiasa kritis. Orang-orang yang kritis dibutuhkan dalam demokrasi. Dalam kehidupan sehari-hari, orang yang kritis  acapkali  dibungkam dengan cara diserang secara pribadi. Menyerang pribadi orang yang kritis disebut pembunuhan karakter. 

Ada dua kemungkinan orang kritis yang karakternya dibunuh yaitu orang yang kritis berdiam diri dengan alasan tidak ada gunanya dan  sikap makin tajam kritiknya.   

Sikap yang makin tajam kritiknya inilah yang mampu meruntuhkan kekuasaan sekalipun. Tentu saja kekuasaan yang korup dan tidak pro rakyat. Resiko bagi yang terus kritis adalah dipenjara karena dicari-cari kesalahannya atau menang dan kemungkinan menjadi penguasa kelak.

Saya memiliki sahabat pecinta lingkungan di Balige, namanya Sebastian Hutabarat.  Sahabat saya ini kritis terhadap kegiatan-kegiatan yang berdampak kepada lingkungan, khususnya dampak ke Danau Toba. Sebastian Hutabarat adalah aktivis Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba. Sebastian pergi ke sebuah perusahaan yang persis di pinggir Danau Toba. 

Ketika  dia membidik Kawasan itu dengan cameranya, dia dipukuli pemilik perusaahan pemecah batu itu. Wajahnya dipukuli dan ditahan.  Betapa kejamnya pengusaha itu.  Pengusaha itu keluarga dari Bupati Samosir. 

Pemukulan yang amat kejam itu  dilaporkan Sebastian Hutabarat ke polisi dan kemudian pengusaha itu di penjara karena menganiaya Sebastian Hutabarat. Tidak lama kemudian Sebastian Hutabarat menjadi terdakwa  karena dituduh fitnah.  Sikap kritis Sebastian Hutabarat dijadikan tukan fitnah. Padahal, Sebastian Hutabarat memang tulus dan energik untuk menyadarakan masyarakat untuk mencintai Danau Toba. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN