Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Bebas Obesitas dengan Operasi Bariatric Surgery

11 April 2017   22:56 Diperbarui: 3 Mei 2017   18:24 17974
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Darren Mitchel Carter, pasien WNA bersama Dr Handy Wing SpB sebelum dilakukan Operasi Bariatric Surgery. Berat badan Mitch sebelum operasi 143 kg. (Foto: Dokpri. Dr Handy Wing SpB)

“Pasien itu rata-rata punya berat badan awal sebelum operasi adalah lebih dari 100 kg. Ini sudah masuk kategori obesitas yang berbahaya, sebenarnya. Tapi, kalau obesitasnya cuma kelebihan berat badan 5 sampai 10 kg saja, maka akan saya tolak melakukan operasi Bedah Bariatrik. Sebagai gantinya, saya sarankan mereka melakukan alternatif lain yang bukan operasi, seperti diet, olahraga teratur, pola hidup sehat dan lainnya. Buat apa kita memotong lambung dengan operasi Bariatric Surgery ini, kalau masih bisa melakukan penurunan berat badan dengan alternatif lain tanpa operasi,” tutur Dr Handy.

Diantara sebegitu banyak pasien obesitas yang pernah ditangani operasi Bedah Bariatrik, Dr Handy menunjukkan fakta dan data tentang penurunan berat badan dua orang diantara mereka. Misalnya, pasien perempuan berinisial ‘Fr’ yang melakukan operasi pada 10 September 2015. Berat badan awal sebelum operasi adalah 110 kg. Dan, catatannya kemudian menunjukkan perkembangan positif, karena seminggu sesudah operasi, berat badan susut menjadi 102 kg. Sedangkan 3 bulan kemudian, berat badannya kembali berkurang jadi 80 kg. Dan, sesudah satu tahun pasca operasi Sleeve Gastrectomy, ‘Fr’ memiliki berat badan normal yakni 68 kg.

Penampakan lambung normal sebelum dipotong atau diperkecil melalui Operasi Bariatric Surgery. (Foto: bedahobesitas.com)
Penampakan lambung normal sebelum dipotong atau diperkecil melalui Operasi Bariatric Surgery. (Foto: bedahobesitas.com)
Proses pemotongan dengan langsung mengatupkan rekat memakai titanium stapler. (Foto: bedahobesitas.com)
Proses pemotongan dengan langsung mengatupkan rekat memakai titanium stapler. (Foto: bedahobesitas.com)
Penampakan lambung usai diperkecil, tinggal tersisa 20 persen saja dari ukuran normal sebelumnya. (Foto: bedahobesitas.com)
Penampakan lambung usai diperkecil, tinggal tersisa 20 persen saja dari ukuran normal sebelumnya. (Foto: bedahobesitas.com)
Ada lagi, pasien bernama Darren Mitchel Carter. Ia seorang Warga Negara Asing yang sempat berdinas di Jakarta sebagai tenaga pengajar Bahasa Asing. Mitch, panggilan akrabnya, punya berat badan awal sebelum operasi mencapai 143 kg. Operasi yang langsung ditangani Dr Handy terhadap Mitch dilaksanakan pada 17 Juni 2016. Hasilnya? Pada Januari 2017 atau 8 bulan pasca operasi, berat badan Mitch susut menjadi 107 kg. Pasca operasi, Mitch tetap rajin melakukan fitness.

I feel good. Healthier than I was,” kata Mitch yang rajin membuat Video Blogging melalui akun YoutubeVSG Mitch. Vlog yang diunggah Mitch menjadi saksi betapa sukses operasi Bariatric Surgery yang dilaksanakan, karena dari waktu ke waktu menampakkan berat badannya yang semakin proporsional.

Dalam salah satu Vlog-nya Mitch memaparkan opininya bahwa banyak warga Jakarta yang berjuang menurunkan berat badan atau mengatasi obesitas. Faktor penyebabnya karena tidak melakukan diet, gaya hidup yang tidak sehat, dan jarangnya melakukan olahraga.

“Jakarta termasuk kota besar di Asia yang kurang bersahabat dengan pejalan kaki. Jakarta is not pedestrian friendly. Karena itu, banyak orang yang tidak suka berolahraga jalan kaki. Tidak seperti di Taiwan misalnya, yang cukup nyaman untuk berjalan kaki dari apartemen tempat saya tinggal menuju ke kantor. Belum lagi, makanan-makanan di Jakarta itu begitu bahaya untuk dikonsumsi oleh mereka yang hendak menurunkan berat badan. Sebut saja misalnya, fried noodle yang begitu fantastic and great tetapi sebenarnya not very healthy. Atau, menu fried rice yang biasanya masih ditambahkan fried chicken dengan disajikan menggunakan big plate,” tutur Mitch sambil bangga memperlihatkan sudah tidak ada lagi Turkey Neck atau Leher Kalkun --- kulit wajah yang kendur atau menggelambir --- di bawah dagu.

Darren Mitchel Carter, pasien WNA bersama Dr Handy Wing SpB sebelum dilakukan Operasi Bariatric Surgery. Berat badan Mitch sebelum operasi 143 kg. (Foto: Dokpri. Dr Handy Wing SpB)
Darren Mitchel Carter, pasien WNA bersama Dr Handy Wing SpB sebelum dilakukan Operasi Bariatric Surgery. Berat badan Mitch sebelum operasi 143 kg. (Foto: Dokpri. Dr Handy Wing SpB)
Pada 9 bulan sesudah operasi, Mitch memperlihatkan leher kalkun menggelambirnya yang sudah tidak ada lagi. (Foto: Youtube VSG Mitch)
Pada 9 bulan sesudah operasi, Mitch memperlihatkan leher kalkun menggelambirnya yang sudah tidak ada lagi. (Foto: Youtube VSG Mitch)
Mitch yang tetap rajin fitness pasca operasi. (Foto: Dokpri. Dr Handy Wing SpB)
Mitch yang tetap rajin fitness pasca operasi. (Foto: Dokpri. Dr Handy Wing SpB)
Biaya Operasi Bariatric Surgery

Lantas, berapa biaya untuk melakukan operasi Bedah Bariatrik ini? Dr Handy bersedia menyebutkan estimasi besarannya. “Biaya operasinya memang terbilang mahal. Sekitar 40 sampai 70 juta rupiah, tergantung dari kelas kamar perawatan yang digunakan, karena pasca operasi pasien harus opname selama 2 hari. Yang bikin mahal itu titanium stapler untuk proses pemotongan lambung, karena kita masih harus mengimpor dengan harga Rp 3 juta per unit. Sementara untuk satu lambung itu diperlukan 5 sampai 6 unit titanium stapler,” ungkap Dr Handy.

Titanium, menurutnya lagi, adalah metal yang sifatnya sangat kuat, rigid, sangat ringan, tidak bereaksi terhadap jaringan dan dapat bertahan seumur hidup karena tidak korosif. Pada saat diaplikasikan titanium stapler akan menempatkan 6 layer atau 6 baris dari titanium, masing-masing 3 layer pada dua sisi. Sehingga akan membuat lambung yang terbentuk baru itu akan merapat dan kuat hanya dalam hitungan detik, dengan demikian risiko kebocoran akan bisa dihindari.

“Dengan alat canggih titanium stapler yang langsung menutup bekas sayatan di lambung, maka hampir tak pernah ada darah yang ditimbulkan pada saat operasi. Paling-paling hanya 5 cc sampai  10 cc darah yang ada. Malah, selama hampir 100 pasien melakukan operasi di sini, tak pernah ada dilakukan penambahan darah atau transfusi darah kepada pasien,” jelas Dr Handy.

Bila dibandingkan dengan tarif operasi yang sama, ujar Dr Handy, di luar negeri biayanya bisa menghabiskan biaya Rp 200 jutaan. Meskipun, untuk di Amerika Serikat, Australia dan Singapura misalnya, operasi ini sudah di-cover oleh pihak Asuransi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun