Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Bebas Obesitas dengan Operasi Bariatric Surgery

11 April 2017   22:56 Diperbarui: 3 Mei 2017   18:24 17974
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Arya Permana bocah asal Karawang yang mengalami severe obesity. (Foto: Caters News Agency)

“Obesitas menjadi berbahaya kalau sudah mencapai lebih dari 30 kg pada perempuan, dan 40 kg pada laki-laki. Ini sudah termasuk berbahaya. Risiko komplikasi obesitas adalah penyakit paru-paru, kolesterol tinggi, stroke, diabetes tipe 2, sesak napas, vena varikos, aterosklerosis, kematian pra matang, hipertensi, mendengkur, asma, penyakit asam lambung (gastroesophageal reflux disease), apnea tidur, penyakit batu empedu, disfungsi ereksi, gangguan menstruasi, gangguan ginjal, gangguan hati, sakit sendi (arthritis), kanker usus, kanker rahim, kanker payudara hingga serangan jantung,” tutur Spesialis Bedah ini dalam wawancara khusus dengan saya di ruang praktiknya. 

Menurut Dr Handy, cara paling tepat untuk menghilangkan seluruh komplikasi penyakit akibat obesitas adalah dengan menurunkan berat badan menjadi normal. “Untuk menghilangkan semua komplikasi tersebut, caranya dengan mengurangi berat badan. Otomatis, bila berat badan bisa diturunkan menjadi ideal maka segala komplikasi tadi akan hilang. Bagi yang obesitasnya sampai 10 kg diatas berat badan normal, cara menurunkannya bisa dengan diet, olahraga, menerapkan pola hidup sehat dan sebagainya,” kata Dr Handy.

Dr Handy Wing SpB. Operasi Bedah Bariatrik di Indonesia masih dianggap Operasi Kosmetik. (Foto: Gapey Sandy)
Dr Handy Wing SpB. Operasi Bedah Bariatrik di Indonesia masih dianggap Operasi Kosmetik. (Foto: Gapey Sandy)
Tapi, lanjutnya, kalau sudah melakukan diet, olahraga, pola hidup sehat, tetapi berat badan masih juga mengalami naik turun seperti Yo-yo --- misalnya, turun 5 kg tapi kemudian naik lagi 7 kg ---, maka jalan terakhir yang bisa dilakukan adalah dengan operasi yang dinamakan Bariatric Surgery atau Bedah Bariatrik.

“Tapi harap dicamkan bahwa operasi ini bukan operasi kosmetik yang tujuannya seperti membentuk tubuh jadi langsing, wajah cantik dan sebagainya, melainkan dimaksudkan sebagai upaya kesehatan demi mencegah dan mengatasi penyakit-penyakit komplikasi akibat obesitas. Sehingga, pasien akan menjalani hidup yang lebih sehat, ancaman terkena penyakit komplikasi tidak ada, umurnya pun insya Allah bisa lebih panjang, dan kualitas hidupnya lebih baik,” pesan Dr Handy.

Mengapa kualitas hidup menjadi lebih baik? Dr Handy mengemukakan alasannya. “Orang yang obesitas biasanya sering punya banyak keluhan, mudah dan sering lelah, menenami anak bermain saja misalnya akan mengeluh tidak kuat, sulit melakukan gerakan jongkok maupun berdiri. Kadang-kadang obesitas juga mengakibatkan efek psikologis seperti minder, kurang percaya diri, stress, depresi dan sebagainya. Disinilah kualitas hidup menjadi semakin membaik pasca operasi Bedah Bariatrik,” tuturnya.

3 Jenis Operasi Bedah Bariatrik

Ada tiga jenis operasi Bariatric Surgery yang biasa dilakukan di dunia. Pertama, Gastric Band. Pada 5 sampai 10 tahun lalu, operasi ini cukup popular. Caranya, dengan memasang cincin berbahan silikon pada saluran yang akan masuk ke lambung --- seperti fungsi ikat pinggang ---, kemudian dibuat lubang agar pasien bisa menyuntikkan cairan ke cincin tersebut. Bila disuntikkan air, maka cincin silikon tadi akan membuat sempit saluran masuk makanan ke lambung. Karena makin sempit, maka makanan dan minuman akan menyangkut di saluran yang hendak masuk ke lambung. Otomatis, lambung akan terasa sudah kenyang lalu mengirimkan ‘sinyal’ ke otak untuk berhenti makan karena kondisi sudah terasa kenyang. Jadi operasi Gastric Band ini, efeknya adalah selain cepat kenyang, tapi pasien juga akan merasa cepat lapar lagi.

Dr Handy Wing SpB menjelaskan perbedaan tiga jenis Operasi Bariatric Surgery. (Foto: Gapey Sandy)
Dr Handy Wing SpB menjelaskan perbedaan tiga jenis Operasi Bariatric Surgery. (Foto: Gapey Sandy)
“Pasien yang melaksanakan operasi Gastric Band ini harus rajin kontrol ke dokter, minimal satu bulan sekali. Karena kalau cincin silikon yang fungsinya melilit saluran menuju ke lambung ini terlalu sempit atau tidak ada lubang sama sekali, maka makanan dan minuman akan tertahan dan menumpuk di luar lambung, sehingga pasien bisa mengalami muntah-muntah. Atau, kalau cincin silikonnya terlalu longgar maka percuma juga, karena lambung akan banyak terisi makanan dan minuman. Operasi Gastric Band ini sudah semakin ditinggalkan karena hasilnya kurang menggembirakan,” jelas Dr Handy yang pernah belajar secara khusus tentang Bariatric Surgery ke Taiwan dan India.

Operasi jenis kedua adalah Sleeve Gastrectomy. Inilah operasi yang kini makin banyak dilakukan. Lambung yang ukuran normalnya bisa mengembang kira-kira sebesar bola basket diperkecil dengan cara operasi melalui pemotongan. Sehingga ukurannya menjadi lebih kecil yakni sebesar satu buah pisang. Sehingga, kalau biasanya si pasien makan satu sampai dua piring, maka cukup hanya dengan makan 4 sendok makan saja maka pasien akan merasa sudah terasa kenyang.

“Dengan lambung yang sudah dipotong menjadi kecil sebesar kira-kira satu buah pisang melalui operasi, maka otomatis pasien makan hanya sedikit dan merasakan dirinya sudah kenyang. Nah, karena tubuh tetap membutuhkan tenaga, maka akan diambil dari lemak-lemak yang ada didalam tubuh. Maka, praktis terjadilah pemecahan atau perubahan lemak menjadi tenaga. Perlahan lemak-lemak dalam tubuh akan berkurang dan hilang, berubah menjadi metabolisme badan,” urai Dr Handy.

Bariatric Surgery dilakukan dengan sayatan yang begitu kecil. Lantaran menggunakan Teknik Laparoskopi. “Jadi bukan membuat sayatan lebar seperti Operasi Caesar pada wanita hamil yang melahirkan. Laparoskopi, praktiknya hanya ditusuk alat seperti sumpit yang panjang. Dokter hanya akan melihat ke monitor televisi karena ada kamera video dimasukkan ke dalam perut melalui tiga sampai empat lubang kecil yang ukurannya cuma 0,5 cm sampai 1 cm. Jadi, kalau lukanya kecil, maka tidak akan terlalu sakit. Operasi jenis Sleeve Gastrectomy ini memakan waktu 1 sampai 2 jam,” terangnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun