Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Kita, Novel, dan Gaung Asumsi para Buzzer

8 November 2019   08:37 Diperbarui: 8 November 2019   15:28 0 26 8 Mohon Tunggu...
Kita, Novel, dan Gaung Asumsi para Buzzer
Follow oleh Alexas Fotos - Foto: pixabay.com

Novel Baswedan akan dilaporkan ke polisi oleh seorang politisi. Novel dituduh merekayasa kasus penyiraman air keras kepada dirinya sendiri. Informasi yang beredar di linimasa mungkin jadi alasan sang politisi melakukan pelaporan. 

Berdasar rekaman sebuah TV swasta, diketahui mata Novel yang terkena cairan air keras bisa berkedip. Dan sangkaan bahwa luka Novel tidak sama dengan korban penyiraman air keras lain. Seolah informasi linimasa sevalid visum polisi dan diagnosis dokter serta 5 rumah sakit yang Novel datangi.

Banyak yang menganggap pelaporan politisi irasional atau konyol. Namun setidaknya akun-akun yang menghiasi linimasa sang politisi mengatakan tindakannya benar. Buzzer bisa jadi berperan penting di kasus ini. 

Akan hambar linimasa, jika buzzer tidak ada. Buzzer adalah penyambung lidah kita. Ada rasa waswas menghantui jika kita posting isi hati tentang sebuah tragedi. Namun gundah hati akan terobati jika buzzer mendengungkan tagar mewakili isi hati.

Sejatinya ironis saat mengamplifikasi stigma negatif kepada buzzer. Karena komentar negatif orang-orang tersebut pun sudah seperti aktivitas buzzer. Sederhananya, orang atau kelompok pengumpat buzzer juga berkelakuan seperti buzzer. Atau jangan-jangan. Kelompok kontra buzzer ini juga adalah buzzer yang ditentang. Bukan tidak mungkin.

Buzzer sudah serupa syak wasangka yang dikomodifikasi. Akan ada saja oknum-oknum yang mengkomersialisasi sebuah isu. Platform sosial media terbuka dan penuh rekayasa. Semua orang boleh bersuara.

Dengan bantuan buzzer pun bukan menjadi pilihan negatif yang ekstrem. Bak sebuah bandul, opini publik di linimasa adalah kuasa dan rekayasa angka dan distribusi. Uang masih mampu mendisrupsi ekosistem informasi linimasa yang artifisial.

Laporan Oxford Internet Institute (OII) bertajuk The Global Disinformation Order berisi informasi memadai tentang cyber troops. Namun membaca laporan singkat OII tersebut membutuhkan kecermatan. Dan sebisa mungkin hindari informasi dari tautan. 

Terlepas dan pro-kontra gambaran disrupsi buzzer kepada demokrasi banyak negara. Yang terpenting, buzzer adalah sebuah industri.

Industri muncul dan besar karena ada supply and demand. Pihak-pihak yang tersebut dalam kontrak adalah entitas ekonomi. Namun, mungkin saya, Anda, dan kita semua adalah pelaku demand tersebut.

Kita mungkin tidak pernah ditulis dalam kontrak non-disclosure agreement kedua pelaku ekonomi di atas. Namun kita meminta dengan berteriak secara subtil di linimasa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x