Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Menjabarkan Pilar Digital 5R: Responsibility

30 September 2019   21:36 Diperbarui: 1 Oktober 2019   08:58 0 13 5 Mohon Tunggu...
Menjabarkan Pilar Digital 5R: Responsibility
Good Comment oleh rawpixel| Foto: pixabay.com

Diadaptasi dari presentasi Angela Romano (2019)

Ada 2 pilar digital telah dijabarkan sebelumnya antara lain Rights dan Respect. Dan pilar ketiga dari 5R adalah Responsibility atau bertanggung jawab. Pilar ini berfokus pada menciptakan dunia digital yang suportif dan suportif bagi sesama users.

Menjadi netizen yang baik selain kita menghormati hak dan perbedaan. Baiknya lagi kita bertanggung jawab atas kelompok lain dan minoritas. Selain juga menjadi influencer yang bermartabat, independen. Sekaligus menerima kritik dan tidak semena-mena menuduh orang dan bukan perilakunya.

Seperti sering kita temui di linimasa. Banyak sekali orang/akun yang begitu kuat atau mayoritas yang kadang sulit menerima perbedaan. Tak jarang kelompok ini anti-kritik. Serangan pada minoritas berdasar keyakinan, etnis, sampai preferensi seksual bisa dilakukan, kadang kebablasan.

Dengan begitu masif dan terstrukturnya bot dan troll. Tak jarang kelompok berkepentingan ini menjamuri linimasa kita. Dengan tanpa tanggung jawab meninggalkan posting atau komentar yang tidak mengenakkan dibaca. Dan tak jarang kelompok mayoritas di linimasa ini dikomandoi influencers.

Peran influencers yang memiliki ribuan bahkan jutaan teman/followers cukup signifikan. Apalagi saat mereka menggemakan (buzzing) sebuah isu atau topik. 

Peran influencers yang sering ditemui adalah sebagai kounter-narasi. Walau pada sisi lain, influencers pun mendorong isu yang malah kontra pada nilai-nilai demokrasi.

Para pengikut influencer yang mengidolakan mereka tak jarang terbutakan. Apa saja yang kiranya diisukan influencer sudah pasti penting. Tak jarang daya kritis dan menahan diri terjebak propaganda sulit dan urung dilakukan.

Para influencers tidak semuanya merugikan. Beberapa menjadikan gerakan mereka sebagai social activism. Dengan menaikkan tagar atau posting viral yang memicu keprihatinan dan kepedulian. 

Isu seperti perubahan iklim, konflik fisik dan ideologis, atau pelanggaran HAM bisa menggerakkan massa bahkan menghentikan dan memperdulikan isu yang diusung.

Pada taraf personal atau pribadi, banyak yang mempraktikkan ad hominem. Dengan kata lain, saat berdebat atau berdiskusi orang/kelompok malah menyoroti siapa yang bicara bukan apa yang dibicarakan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2