Mohon tunggu...
Giri Lumakto
Giri Lumakto Mohon Tunggu... Pegiat Literasi Digital

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, dan Budaya | Awardee LPDP di University of Wollongong, Australia 2016 | Kompasianer of The Year 2018 | Best Specific Interest Nominee 2018 | LinkedIn: girilumakto | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Digital Artikel Utama

Menjabarkan Pilar Digital 5R: Respect

28 September 2019   03:49 Diperbarui: 30 September 2019   21:28 0 11 5 Mohon Tunggu...
Menjabarkan Pilar Digital 5R: Respect
Hand Respect oleh Gerd Altmann - Foto: pixabay.com

Diadaptasi dari presentasi Angela Romano (2019)

Pilar digital sebelumnya, membahas apa itu Rights. Pada artikel ini, kita akan menjabarkan pilar Respect atau rasa hormat. Pilar ini mencakup menghormati diri sendiri, merawat perbedaan, dan inklusifitas semua pihak dalam lingkungan digital.

Seperti sudah menjadi rahasia umum. Banyak orang dibalik akun-akun mereka menunjukkan perilaku, tuturan, dan gestur sosial yang kurang baik. Dengan akun samaran mereka mengumpat, menyebarkan konten asusila dan tidak etis, sampai mempublikasi identitas orang lain.

Indonesia dengan lebih dari 150 juta pengguna internet. Dan penetrasi internet secara demografis yang cukup luas dan baik. Setiap orang kini dibekali gawainya untuk mengutarakan pendapat. Tak jarang, dalam berpendapat mereka menjurus pada ujaran kebencian sampai persekusi.

Perilaku dan tuturan ini menjadi media alter ego, eskapis, dan katarsis terhadap realitas individu. 

Tak jarang juga kampanye negatif dan disinformasi dengan memanfaatkan bots dan troll dilakukan untuk menggiring opini atau mencari posisi. Dengan tanpa sadar, kita ikut memviralkan konten kampanye dan hoaks yang direkayasa.

Hak kebebasan berpendapat, akses, dan rasa aman yang sejatinya telah nampak dan dilakukan akun-akun ini. Oleh sebab itu, pilar Respect ini patut dipahami dan diimplementasi kita di dunia digital.

Hormati orang lain jikalau kita mau dihormati orang lain di dunia maya. Jejak digital menjadi penting dalam aspek ini. Semakin baik, bisa dipercaya, dan mengikuti kaidah sosial yang ada. Ada potensi besar orang/akun tersebut mendapatkan trust atau kepercayaan orang lain.

Patut digarisbawahi, apa yang kita share/posting di akun sosmed kita tidak hanya untuk kepada teman/followers kita. Namun pada dasarnya akan bersifat publik. Baik itu share/posting berupa teks, tautan, foto, audio, dan video. 

Bagi beberapa akun tertutup (gembok), share/postingan akan tetap dapat dilihat saat akun lain berinteraksi dengan akun tersebut. 

Membangun akun yang kredibel dan relevan memang bukan hal yang mudah. Namun hal ini bukan tidak dilakukan. Diperlukan niat baik dan keras, serta konsistensi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x