Giri Lumakto
Giri Lumakto Digital Ethicist

Digital Ethicist, Educator | Pemerhati Pendidikan Literasi Digital, Teknologi, Bahasa, dan Budaya | Awardee BPI-LPDP 2016-2018 | M.Ed in TESOL University of Wollongong, Australia | LinkedIn: girilumakto | Blog: lumakto.blogspot.co.id | Medium & Twitter: @lumaktonian | Email: lumakto.giri@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Di Balik Akun yang Bencinya Sampai Ubun-ubun

9 November 2018   12:35 Diperbarui: 9 November 2018   20:37 915 41 17
Di Balik Akun yang Bencinya Sampai Ubun-ubun
Hate - Ilustrasi: theoddysseyonline.com

Membenci di dunia nyata saja rasanya sudah tidak enak dalam hati. Bagaimana jika kebencian ini dikumpulkan jadi satu? Kebencian ini pun bertiwikrama secara digital. 

Dibalik akun anonim yang bersliweran di linimasa sosial media. Akun haters atau pembenci ini leluasa 'mengaspirasi' kebencian mereka. Entah akun asli atau botpun, dibaliknya pasti ada seseorang. Seorang pembenci.

Mereka terjebak dalam sebuah penjara bias perspektif. Karena merasa banyak yang membenci. Akhirnya kebencian itu dilabeli perjuangan. Mereka berjuang agar orang yang dibenci terpuruk, atau nelangsa.

Seorang pembenci Presiden tidak akan pernah melihat sisi positif. Apa saja yang dilakukan dan dikatakan adalah salah. Bahkan hal yang tidak sama sekali terkait pribadi Presiden. Tetap saja disalahkan kepada Presiden.

Beberapa akun pendukung Presiden pun laku dan tingkahnya tiada berbeda. Semua yang salah dilakukan Capres pesaing adalah sia-sia. Apa yang diwacanakan seperti omong kosong atau kebohongan. 

Akal sehat tiada pernah menguasai diri saat membenci. Logika yang digunakan adalah berfikir untuk mencari cela dan cacat. Perspektif opini adalah kemarahan dan kekecewaan. Parahnya, perkataan dan perbuatan pun kadang diluar kendali.

Mereka tidak merasa sungkan dengan apa yang di-posting saat mereka duduk menggunjing.

Dan saat kebencian menjadi bagian diri. Maka wejangan dan penjabaran kebenaran adalah percuma. Karena apa yang diyakini adalah kebencian adalah perjuangan. Memberikan petuah dan saran menjadi pertanda untuk melawan. 

Dan dibalik perlawanan ada kemenangan yang patut diraih. Kemenangan untuk menuntaskan apa yang memang menjadi dasar kebencian. Yaitu, orang yang dibenci adalah lemah, tak berguna. Dan mereka para pembenci merasa menang karena merekalah yang benar absolut.

Kebenaran yang disajikan dan dibenarkan konvensi publik ditelisik celahnya. Cukup katakan kebenaran tadi adalah konspirasi rezim. Atau kebenaran yang begitu masif coba di mata publik dialihkan ke isu lain. Biar terlupa dimakan waktu dan berita.

Semua punya cara. Dan semua punya agenda. Para pembenci menjadi pesakitan yang mencoba untuk terus bertahan. Dalam kegilaan dunia maya yang kian hari kian kusut dengan ucapan kebencian.

Sedang di dunia nyata, para pembenci pun berkumpul dengan 'kaumnya'. Mencoba mencari kenyamanan ala linimasa sosmed. Tidak ada konflik yang dimunculkan. Cukup ghibah, prasangka, dan pengingkaran yang menjadi bahan obrolan.

Mereka tidak merasa sungkan dengan apa yang di-posting saat mereka duduk menggunjing. Karena perspektif bias ini sudah terbentuk dan terpelihara dalam penjara gelembung bias linimasa. 

Menemukan isu untuk menjadi bahan kebencian baru sudah serupa menemukan strategi perang baru. Adrelinalin para pembenci membuncah dan beriak-riak. Isu ini yang publik harus tahu dan sadar. 

Walau semua berdasar 'apa kata si A atau si B'. Namun jika si A atau si B adalah bagian dari kelompok pembenci. Tidak perlu ada validasi dan penelusuran fakta. Hal ini melelahkan. Karena gempita fakta 'katanya' lebih menggairahkan daripada pencarian kebenaran.

Akhirnya, hati-hati para pembenci tidak bisa dikatakan membatu. Karena label hati membatu menurut kubu lawan tidak akan digubris bahkan didengar. 

Salam,

Solo, 09 November 2018

12:32 pm