abdul ghofur
abdul ghofur

Setiap kehidupan pasti akan menemukan jalannya masing - masing. Berusaha menjadi air yang terus berpikir dan bergerak tanpa batas !!!

Selanjutnya

Tutup

Energi

Samarinda Sampai Nunukan yang Melelahkan

5 Januari 2018   09:23 Diperbarui: 5 Januari 2018   09:44 1277 0 0

Selasa, 12 Desember 2017 di bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiaman Sepinggan Balikpapan. Pukul 14 : 25 penerbangan via 'singa terbang' menuju Tarakan Kalimantan Utara diumumkan delay satu jam lagi. Itu artinya pesawat akan terbang pada pukul 15:40. Dengan pengunduran jadwal keberangkatan tersebut otomatis akan lebih lama duduk di ruang tunggu pintu keberangkatan.

Berdasarkan pengalaman, setiap kali terbang menggunakan jasa layanan singa terbang, selalu terlamabt. Entah apa penyebabnya tidak tahu pasti. Yang jelas, ada pengumuman yang terdengar dari pengeras suara. Bahkan jauh -- jauh waktu pada saat chek in petugas sudah mengumumkan secara lisan. Suatu ketika pernah terjadi , semua penumpang sudah masuk kedalam badan pesawat membayangkan penerbangan yang yang menyenangkan. Segera mendarat ketempat tujuan, bertukar senyum dengan para tetangga dan sanak keluarga. Merebahkan badan ditempat pembaringan sembarai bercengkerama dan minum kopi. Pupus karena pesawat tak kunjung bergerak lalu terbang. Kami seperti dipanggang. Keringat bercucuran. Tak henti -- hentinya tangan mengibas. Suasanan didalam pesawat panas. AC tidak menyala. Ini pesawat apa bus?

Belakangan dapat diketahui. Ternyata penyebab keterlambatan adalah adanya seorang penumpang yang setelah dipanggil berualang -- ulang melalui pengeras suara tak kunjung datang. Ini yang disebut engan "satu tetes racun merusak susu sebelanga". Yang berbuat kelalaian satu orang, tapi yang menjadi pesakitan banyak orang dikorbankan. Berbeda dengan maskapai sebelah. 'burung terbang' selalu on time. Disiplin dalam menerapkan peraturan keberangkatan. Apabila di tiket tertera jadwal berangkat pukul 14:00 maka pesawat akan berangkat sesuai jadwal tersebut.

Para penumpang sudah dimasukkan kedalam pesawat 30 menit sebelum jadwal yang ditetapkan. Disinilah enaknya menaiki 'burung terbang'. Tidak perlu berlama -- lama duduk di ruang tunggu sambil memperhatikan orang lalu lalang seolah tak         ada kegiatan. Anehnya, justru dari pihak pengelola bandara memperhatikan hal tersebut. Penumpang yang lama menunggu harus terbuang waktunya secara percuma. Ada yang bengong, ada yang plirak plirik HP. Clingak clinguk seperti kebingungan. Mau ngapain?

Seharusnya, dibandara terdapat media yang dapat digunakan untuk menambah wawasan. Misalnya menyediakan Koran harian terbitan daerah atau nasional yang diletakkan di ruang tunggu. Atau buku -- buku yang dapat dibaca dan bisa menambah wawasan. Peneglola bandara lupa dengan prinsip time is money. Waktu adalah uang. Seandainya para penumpang yang sedang menunggu diberi arahan atau penyuluhan serta sosialisasi tentang bagaimana mengelola sampah dengan baik. Maka waktu mereka untuk menunggu tidak  terbuang sia -- sia. Justru mendapat oleh -- oleh pengetahuan yang bisa ditularkan kepada orang terdekat mereka.

Meskipun 'singa terbang' memiliki kelemahan yakni seringnya terlambat terbang. Nyatanya tidak sedikit orang yang menggunakan jasa maskapai tersebut. Bahkan kasus pemakaian obat -- obatan terlarang oleh sejumlah pilot nyatanya tidak membuat ciut nyali masayarakat untuk menjadi penumpang. Tidak sedikit juga aksi penumpang yang sering kita lihat pemberitaannya di televise melakukan complain akibat jadwal penerbangan delay. Mengamuk dan marah -- marah. Makian dan sumpah serapah bermunculan. Otot --ototan dengan petugas kemanan menjadi hal biasa.

Disbanding singan terbang. Burung terbang memiliki kelebihan yang memanjakan. Burung terbang taka akan membuat jenuh meski terbang lama diatas udara. Karena dikursi penumpang terdapat monitor yang menampilkan berbagai film baik dai dalam ataupun luar negeri. Sehingga rasanya ingin berlama -- lama duduk sambil menghabiskan berbagai macam film yang tersedia. Burung terbang juga menyediakan makan, sehingga tidak perlu lagi berbelanja dibandara Karena didalam pesawat makanan tersedia gratis.

Faktor penyebab banyaknya yang meminati singa terbang hanya satu. Yaitu karena harganya murah. Bahkan bisa separuh atau sepertiga dari harga ongkos burung terbang.wajar saja apabila banyak orang yang masih berminat. Meskipun terkesan lucu. Masyarakat emosional terhadap layanan singa terbang. Tapi masih saja banyak yang mendaftar jadi penumpang. Tentu hal ini menggelikan. Apa yang terjadi merupakan konsekuensi dari harga yang di bayarkan. Namun, pihak maskapai tidak boleh mengabaikan kenyamanan layanan dan kemanan.

Selama perjalanan dari Samarinda menuju Nunukan cukup melelahkan. Dari Samarinda harus ke Balikpapan terlebih dahulu. Melewati hutan, seperti bukit soeharto. Kurang lebih memakan waktu sekitar tiga jam menggunakan mobil kalau perjalanan lancer, tidak ada rintangan ditengah jalan yang biasanya sering terjadi kecelakaan dan pohon tumbang. Maklum, dikiri kanan jalan banyak pohon -- pohon tua. Belum lagi jalanan yang menikung tajam dan tanjakan atau menurun. Apabila pengemudi ngantuk lalu lepas control. Maka selesai, antara penjara, rumah sakit atau pemakaman. Hal semacam itu sudah sering terjadi. Missal, ngebut dari arah Samarinda menuju Balikpapan mengejar jadwal penerbanagan agar tidak terlambat sehingga terjadi kecelakaan yang menyebabkan kematian.

Tidak ada pesawat yang langsung terbang dari Samarinda menuju Nunukan. Padahal kedua daerah tersebut memiliki bandara meski berukuran keecil dan dilalui oleh pesawat mini. Hal tersebut terjadi karena dinas perhubungan memberhentikan operasi penerbangan dengan rute Samarinda -- Nunukan. Padahal, apabila ada pesawat yang langsung dari Samarinda ke Nunukan tentu akan lebih efisien. Hemat waktu, biaya dan tenaga. Tentu saja rute Samarinda -- Nunukan menjadi perjalanan yang melelahkan dan cukup banyak menghabiskan anggaran karena menggunakan tiga jenis transportasi : darat (Samarinda -- Balikpapan), udara (Balikpapan -- Tarakan), laut (Tarakan -- Nunukan).

Untuk menuju Nunukan. Dari Tarakan sudah tersedia speedboad jumbo yang dapat menampung penumpang sekitar 70 orang dengan tarif perorang 230.000. Setelah pesawat tidak bisa lagi terbang langsung transportasi tersebut merupakan pilihan wajib bagi mereka yang hendak menuju Nunukan. Meskipun nyawa adalah taruhan. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di tanjung selor. Terbaliknya speedboad yang menewaskan sejumlah penumpang. Rasa -- rasanya ngeri -- ngeri sedap.

Dengan tidak beroperasinya penerbangan dari Samarinda menuju Nunukan tentu hal tersebut menjadi angina segar bagi perusahaan penyedia transportasi laut. Karena, semua orang yang berasal dari dalam dan luar kalimanatan Utara menuju Nunukan harus melalui Tarakan terlebih dahulu  melakaukan penyeberangan menggunakan speedboad dengan jarak tempuh sekitar dua jam. Apabila dikalkulasi, tarif perorang Rp 230.000 dikali 70 penumpang sama dengan Rp 16.100.000 dikali 2 kali jadwal keberangkatan dalam satu hari sama dengan Rp 32.300.000. dalam satu hari. Apabila dikali dalam waktu satu bulan sama dengan Rp 966.000.000. Dengan berhentinya penerbanagan pesawat dari Samarinda menuju Nunukan telah mensejahterakan pelaku usaha transportasi laut yang dikelola pihak swasta.

Akan tetapi, biaya yang harus dikeluarkan oleh mereka yang berpergian menjadi bengkak. Selain ongkos pesawat, juga harus membayar ongkos darat (Samarinda -- Balikpapan), dan laut (Tarakan -- Nunukan) belum lagi jika cuaca kurang baik. Bisa -- bisa kapal karam. Biasanya, ongkos kendaraan seharusnya murah malah menjadi mahal. Belum lagi harus berpindah -- pindah kendaraan. Sampai di Tarakan tidak bisa langsung menuju ke Nunukan karena menunggu jadwal keberangkatat speedboad  yang biasanya berangkat pagi dan siang. Itu artinya harus bermalam dulu di Tarakan.

Nunukan merupakan daerah yang dekan dengan perbatasan dengan Negara tetangga Malaysia. Menurut penuturan warga setempat, banyak masayarakat dari Indonesia menjadi tenaga kerja illegal di Malaysia melalui Nunukan. Perbatasan anatara Malaysia dengan Indonesia persisnya terletak di pulau sebatik. Untuk menuju kesana kita harus menaiki kapal terlebih dahulu dari nunukan. Makanya sering terjadi penyelelundupan di daerah Nunukan seperti narkotika masuknya tenaga kerja illegal.

Masyarakat sebenarnya cukup lama menanti -- nanti kapan bandara baru Samarinda segera beroperasi. Karena, cukup melelahkan jika harus ke Balikpapan terlebih dari dulu. Tidak terpikir bagaimana lelahnya mereka yang berasal dari pedalaman hendak keluar Kalimantan. Dari Sangata, Bontang, Kubar dan grogot. Dengan medan perjalanan yang berkelok dan naik turun serta mebutuhkan waktu berjam -- jam untuk menempuhnya tentu sangat menguras energy.

Bahkan seorang rekan dari Jakarta yang saya undang ke Samarinda menyatakan keenggenannya untuk hadir dengan alasan jika ke Samarinda itu melelahkan karena harus menempuh jalan darat selama 3 jam dari Balikpapan. Setiap ada tamu yang datang dari Jakarta mereka selalu bertanya kenapa Bandaranya ada di Balikpapan kok bukan di Samarinda. Bukankah Ibu Kota Provinsinya adalah Samarinda ? Dengan sekenanya saya menjawab bahwa Bandara di Balikpapan merupakan peninggalan belanda sebagai tempat strategis dalam pengamanan kilang minyak yang ada di Balikpapan. Polda dan Kodamnya pun ada di Balikpapan.

Keberadaan bandara di Kalimantar Timur selain menjadi kepentingan masyarakat luas juga memang menjadi kepentingan para pemimpin daerah karena menyangkut pemasukan ke kas derah masing -- masing . Angkasa Pura yang mengelola Bandara Sepinggan setiap tahunnya menargetkan penumpang dengan jumlah sekian juta.

Hal itu wajar karena pembangunan Bandara SAMS menelan biaya hingga Rp 2,05 triliun.Tentu apabila bandara Samarinda yang baru beroperasi akan menjadi competitor yang akan menyedot penumpang dari Sangata, Bontang, Kubar dan Kukar. Sementara bandara Sepinggan Balikpapan hanya akan mendapatkan penumpang dari Penajam dan Grogot maka target sekian penumpang akan mengalami degradasi. Lalu, bagaimana nasib bandara Samarinda baru yang sudah menelan biaya pembangunan secara keseluruhan bersumber dari dana APBD Kaltim senilai Rp683 miliar sejak tahun 2013 ?