Mohon tunggu...
Diah Simangunsong
Diah Simangunsong Mohon Tunggu... Pelaut - Memperpanjang langkah

Berjalanlah selagi masih punya kaki dan mata

Selanjutnya

Tutup

Foodie Pilihan

Gutel, Bekal Tradisi Suku Gayo dalam Budaya Aceh

20 Oktober 2019   19:14 Diperbarui: 20 Oktober 2019   19:20 96
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Berawal dari postingan Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh tanggal 9 Oktober 2019 tentang Gutel khas masyarakat Suku Gayo. Atas upaya yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) bersama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh-Sumatra Utara maka Gutel ditetapkan  sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia 2019 yang dibuktikan dengan sertifikat Warisan Budaya Nasional. 

Sebagai anak yang dilahirkan di Tanah Rencong Aceh yang sedang merantau di Bumi Anoa, ini merupakan berita yang sangat senang bercampur dengan rasa bangga. 

Di sisi lain nama Gutel masih asing bagiku yang terlahir di Aceh Timur, mulailah aku mencari di Google berita atau apapun yang memberikan informasikan tentang makanan khas masyarakat Suku Gayo ini. Muncullah berbagai artikel, jurnal, laman dan gambar yang merepresentasikan Gutel sebagai kuliner khas Suku Gayo.

Berawal dari pengertian Gutel, yang merupakan makanan tradisional yang khas berasal dari dataran tinggi Tanoh Gayo. Gutel berbentuk seperti genggaman tangan yang berselimutkan dengan daun pandan ataupun daun pisang.

Cara pembuatan panganan ini juga amat mudah, hanya dengan menggongseng tepung beras sampai kuning, kemudian mencampurkan semua bahan sampai rata, selanjutnya adonan dibulat-bulatkan dan dibungkus dalam daun pisang terakhir kukus sampai matang. 

Dalam sebuah artikel juga disebutkan bahwa makanan mungil ini hampir sama dengan ombus-ombus, hanya bedanya Gutel ini dibuat dengan digenggam sedangkan ombus-ombus dibungkus dengan daun pisang.

Di laman lain aku juga menemukan bahwa makanan tradisional  yang memiliki tekstur sedikit keras, rasanya manis legit dengan aroma wangi pandan  ini, menurut ilmu kesehatan digolongkan makanan yang sangat bermanfaat bagi tubuh, dikarenakan pembuatan Gutel yang tidak menggunakan pengawet ataupun penyebab rasa.

Makanan ini sangat mudah dijumpai dalam tradisi-tradisi masyarakat di Daratan Tinggi Gayo seperti upacara pernikahan, khitanan, buka puasa Ramadhan, Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha ataupun sekedar makanan selingan bersama secangkir kopi disore hari. 

Gutel ini juga sering dipamerkan dalam berbagai acara seperti PKA VII yang diadakan di Banda  Aceh pada tanggal 5 - 15 Agustus 2018 di anjungan Gayo Lues, Gutel ini disajikan dengan menarik untuk memperlihatkan kekayaan kuliner masyarakat Suku Gayo.

Dan uniknya dalam setiap kepalan Gutel miliki nilai sebagai wujud kecintaan si  pembuat Gutel terhadap orang yang diberikan Gutel. Pembuatannya dengan cara digumpalkan dengan kekuatan jari telanjang sekuat-kuatnya Gutel dapat dimaknai sebagai pengobat rindu bagi para perantau. 

Dapat memperkuat tali silaturahmi, karena dalam pembuatan Gutel membutuhkan tenaga dari orang lain untuk membantu sehingga sering kali pembuatnya mengandung unsur gotong royong. Dan pengorbanan yang pantang menyerah, karena dalam pembuatannya membutuhkankan kesabaran untuk terus mencoba.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Foodie Selengkapnya
Lihat Foodie Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun