Niko Nababan
Niko Nababan Pencarian Hidup

Pemula yang hobi mengintip dan menjajaki tulisan para kompasioner. Let's be friends ( Find me on instagram/twitter: @nichocolate77 )

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Puisi | Dijerat Mimpi Semalam

12 Januari 2018   19:14 Diperbarui: 12 Januari 2018   19:32 518 4 0
Puisi | Dijerat Mimpi Semalam
Ilustrasi sleep paralysis (Thinkstock) / National Geography

Kuambil sisa-sisa nafas disekitarku, meskipun terasa sesak oleh karena kerja otak yang terlalu berlebihan.

Ada yang hilang dalam semalam, yang membawa keluar masuk pintu sadar ku. 

Kelelahan dan melelapkan, hingga lupa menelanjangi tubuh dan membasuhnya dengan air mata ibu.

Ku ceritakan tentang mimpi yang telah curi kendali dan membawaku ke dalam lembah peradaban kelam. 

Ragaku mengambil tubuh untuk semalam, lalu aku hanya bisa pasrah.

Menyaksikan sisi gelapku oleh kerja otak, tanpa dapat berkata-kata. 

Aku berontak pada diriku, meski aku telah ditawan di dalam tubuh ku sendiri. 

Aku tak dapat menutup mata satu kalipun, diriku memaksa ku untuk menyaksikan kekejian yang dia lakukan. 

Ingin aku berontak dengan mulut yang sudah aku kunci rapat. 

Telinga juga ikut menjadi antagonis, bisikan jahat sengaja ia mendengarkan.

Tak ada yang bisa kuperbuat, ku hanya bisa pasrah menunggu hingga waktu membangunkan pagi.

Aku merasa sangat lelah, karena menggunakan banyak energi untuk memainkan satu kehidupan lain. 

Kehidupan yang tidak nyata namun terasa ada, yang lahir dari sisa-sisa kebaikan yang meradang. 

Hanya karna aku lupa membasuhnya dengan air mata ibu.

Apa jadinya aku pagi ini, tanpa menyulam nada bersama nyanyian ayam jantan yang konsisten menjagai ku.

Gelap akan mencicipi terang dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. 

Aku tidak akan kecolongan malam ini, akan kubasuh tubuh lelahku dengan air mata ibu.

*untukmu; diriku dalam mimpi ( Medan, 12/11/17 )