Mohon tunggu...
Gede Udiastama M
Gede Udiastama M Mohon Tunggu... Pegawai Hotel -

Pria yang menyukai kata kata: tiada hari tanpa belajar, semua orang adalah guru, semua tempat adalah ruang kelas. Bekerja sebagai Learning & Development Manager di sebuah hotel bintang lima di Bali

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Anak Perempuan Seperti Dinomorduakan, Padahal...

5 Juni 2016   08:21 Diperbarui: 7 Juni 2016   14:31 5148
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Di Indonesia, banyak daerah yang menggunakan sistem patrilineal. Seperti yang diketahui, sistem ini mengatur alur keturunan dari pihak ayah. Yang artinya, anak gadis yang menikah akan ikut suaminya.

Jika sudah hamil, maka sudah pasti, anak laki-laki lah yang paling ditunggu. Baik orang tua, kakek, nenek sampai paman dan bibinya, semua pasti berharap kelahiran anak laki-laki. Bayi laki-laki akan memastikan adanya penerus keluarga.

Masalah bisa terjadi jika, sebuah keluarga hanya memiliki anak perempuan saja. Mereka akan merasa tidak memiliki anak yang akan meneruskan garis keturunan. Hal ini bisa menjadi penyebab utama seorang anak perempuan dinomorduakan, padahal....

1. Secara biologis anak perempuan tetaplah darah daging. Salah satu tandanya adalah kemiripan fisik.
Anak itu seperti ayah atau ibu yang difotokopi perkecil. Jika mirip ibu, si anak perempuan akan memberi ayah kesempatan melihat istrinya versi kecil. Dan jika mirip ayah pasti akan lebih unik lagi. Tapi jangan mikir macam macam ya, misalnya bayi perempuan brewok berjambang 😉 

Meskipun nantinya si anak perempuan menjadi "milik" keluarga suaminya, toh secara biologis, wajah dan fisik akan diwariskan dan bisa abadi bersama cucu dan cicit-cicitnya.

2. Umumnya secara fisik anak perempuan lebih lemah dari laki-laki. Karena alasan ini, tidak pantaslah anak perempuan dinomor duakan. Justru mesti lebih dilindungi.

Anak perempuan akan lebih rentan untuk menerima kekerasan. Negara saja berusaha melindungi dengan membuat hukum khusus untuk perlindungan anak dan perempuan. Memangnya ada hukum perlindungan khusus untuk laki-laki? Tidak kan! Maka dari itu, dalam hal ini, orang tua mesti menomor-satukan anak perempuan.

3. Hidup anak perempuan akan lebih berat dari anak laki-laki. Bagaimana tidak, jika sudah tumbuh dewasa, perempuan mesti rutin datang bulan, mengandung 9 bulan, lalu melahirkan yang sakitnya minta uang, eh minta ampun, trus mesti mengurus anak siang malam. Belum lagi semua ini akan membuat fisiknya lebih cepat "rusak". Berat banget! 

Maka dari itu, sungguh sedih rasanya jika ada orang tua yang menomor-duakan anak perempuan. Semenjak kecil, mereka mestinya lebih di utamakan mengingat nantinya hidup mereka cenderung lebih berat dibanding anak laki-laki.

4. Tidak mendapat warisan. Memang sudah begitu adanya pada sistem patrilineal, anak perempuan nantinya tidak akan mendapat bagian dari sisa kekayaan orang tuanya. Faktanya, meskipun sebuah keluarga semua anaknya adalah perempuan, maka nantinya segala harta orang tua akan diwariskan kepada keluarga ayah misalnya adik laki-laki si ayah. Anak perempuan tetap tidak berhak.

Harta yang dimaksud adalah rumah dan tanah keluarga yang sudah diwariskan turun temurun. Orang tua boleh saja memberi warisan pada anak perempuannya jika memang harta tersebut adalah hasil kerja kerasnya sendiri.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun