Mohon tunggu...
Gatot Tri
Gatot Tri Mohon Tunggu... Administrasi - Swasta

life through a lens.. Saya menulis tentang tenis, arsitektur, worklife, sosial, dll termasuk musik dan film.

Selanjutnya

Tutup

Healthy Artikel Utama

Benarkah Ada Agenda Depopulasi untuk Mengurangi Jumlah Manusia?

25 Mei 2022   21:29 Diperbarui: 26 Mei 2022   08:09 2906
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Tangkapan layar data kematian di dunia menurut Worldometers per 25 Mei 2022, pukul 12.03 WIB. (sumber: Worldometers.info)

Mengapa pemerintah-pemerintah di dunia meminta warganya supaya mematuhi protokol kesehatan? Mengapa pemerintah juga mengadakan pembatasan kegiatan? Bahkan ada pemerintahan negara lain yang menerapkan lockdown atau pembatasan total dimana warganya tidak boleh keluar rumah sama sekali bila dirasa tidak penting. Bila memang ada agenda depopulasi, pemerintah mana pun tidak akan melakukansemua langkah-langkah tersebut.

Depopulasi terjadi secara alami, bukan direncanakan

Menurut saya, wacana depopulasi itu melawan kehendak semesta yang justru membiarkan manusia lahir ke dunia agar membuatnya lebih baik. Memang, ada sebagian manusia yang membuat kerusakan di sejumlah tempat di Bumi. Akan tetapi setiap orang memiliki hak yang sama untuk menjalani kehidupannya di dunia.

Tetapi manusia pada saatnya akan meninggalkan dunia fana ini. Mungkin hari ini, atau besok, atau minggu depan atau tahun depan. Setiap manusia sudah mendapatkan gilirannya. Kapan itu tiba, tidak ada yang tahu.

Sehari-hari kita pasti sering membaca atau mendengar berita mengenai suatu bencana alam yang merenggut banyak korban jiwa. Lainnya mungkin kecelakaan lalu lintas, insiden kebakaran pertokoan, konflik atau perang, dan sebagainya.

Berkaitan dengan COVID-19, bila kita membaca data dari Worldometers per 25 Mei 2022 , total ada 529 juta kasus COVID-19 di seluruh dunia sejak tahun 2019 dimana lebih dari 499 juta orang sembuh. Berkat intervensi kebijakan dari masing-masing pemerintah negara, kerja keras para tim medisnya dan kesadaran warganya, ada banyak pasien COVID-19 yang sembuh.

Sementara itu, ada sekira 6,3 juta orang meninggal dunia karena COVID-19. Bila kita bandingkan dengan data populasi penduduk dunia yang 7,7 milyar manusia (sumber: World Bank) maka persentasenya adalah 0,08 persen. Mereka yang tidak mampu bertahan mungkin karena kondisinya semakin parah atau memiliki komorbid. Nah, bila ada agenda depopulasi, angka mortalitas itu bisa dibilang sangat kecil.

(Catatan: Mohon maaf, penyampaian data mortalitas dalam tulisan ini baik karena COVID-19 atau pun lainnya dimaksudkan untuk mendukung argumentasi tulisan ini untuk meng-counter isu depopulasi manusia)

Kalau memang ada niat untuk mendepopulasi melalui penyakit COVID-19 atau pun penyakit menular lainnya, mengapa tidak mempertimbangkan perkembangan masa kini ketika dunia berkelimpahan orang pintar sekaligus memiliki hati nurani? Orang-orang pintar berhati nurani itu pasti bakal menjadi musuh rencana depopulasi.

Bila ada rencana depopulasi melalui wabah atau pandemi, mereka pasti mampu mengembangkan teknologi untuk melawannya, misalnya membuat obat-obatan dan vaksin.

Kalau ada orang yang meyakini bahwa rencana depopulasi itu benar-benar ada, rasanya kita perlu menyimak data kematian dari Worldometers yang disebabkan oleh sejumlah faktor. Data tersebut selalu berubah / ter-update setiap detiknya. Anda dapat mengamatinya di sini, di bagian HEALTH.

Tangkapan layar data kematian di dunia menurut Worldometers per 25 Mei 2022, pukul 12.03 WIB. (sumber: Worldometers.info)
Tangkapan layar data kematian di dunia menurut Worldometers per 25 Mei 2022, pukul 12.03 WIB. (sumber: Worldometers.info)
Ketika saya mengakses data itu, waktu menunjukkan pukul 12.03 WIB, bertepatan dengan lunch break alias jam makan siang. Dari data tersebut, penyebab kematian warga dunia di tahun 2022 sebagai berikut:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun