Mohon tunggu...
Gariza A Robbani
Gariza A Robbani Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance Writer

Jadilah mata air yang jernih yang memberikan kehidupan kepada sekitarmu

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kenapa Allah 'Menyusahkan' Hambanya?

12 Agustus 2021   10:02 Diperbarui: 14 Agustus 2021   09:51 109 0 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Kenapa Allah 'Menyusahkan' Hambanya?
Edukasi. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Salah satu sahabat saya ada yang bertanya, "Mengapa Allah membuat manusia keluar dari kemudahan nikmat di rahim kandungan menuju pedihnya dunia? Padahal jika kita benar-benar memiliki akal, kita pasti tidak mau keluar dari kemudahan nikmat dan rahmat di rahim itu." Sejenak terpikirkan oleh saya, benar juga pertanyaan dan pernyataan ini. Tapi dengan segera Allah SWT memberikan tamparan kasih sayang-Nya pada saya melalui ayat-ayat-Nya terkhusus tulisan Badi'uzzamaan Said Nursi, yang kurang lebihnya akan dipaparkan dalam dua persoalan sebagai berikut ini.

Persoalan Pertama

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur." (QS. An-Nahl: 78)

Setiap manusia sebagaimana yang telah digariskan dalam sunnatullah yang sebagiannya kita kenal dengan hukum biologis pasti melewati fase kelahiran. Kita mengenal istilah pecahnya ketuban, sebuah pertanda bahwa kelahiran sudah dekat. Kalau kita melihat dari sudut pandang si bayi, kelahiran itu tentulah menyakitkan. Karena saat lahir, si bayi merasakan perpindahan alam yang menyakitkan karena ada transformasi suhu yang drastis. Dari yang tadinya dia dipenuhi kehangatan rahim ibu menuju alam yang molekul itu tersebar dimana-mana. Dari sini kita mengetahui, bahwa kelahiran itu terjadi karena sunnatullah bukan oleh kehendak si bayi itu sendiri.

Kelahiran itu menunjukkan permulaan. Sebagaimana lazimnya permulaan, ia pasti memiliki akhir yang diketahui sebagai 'kematian'. Proses kelahiran menuju kematian inilah yang menegaskan bahwa kita itu makhluk fana. Jikalau bayi manusia itu tetap di rahim, maka dia telah menentang kodratnya sebagai makhluk fana.

Persoalan Kedua   

Dalam persoalan pertama, kita sudah menyepakati bahwa kelahiran bayi itu karena keinginan Allah SWT. Muncul pertanyaan, 'Kenapa Allah ingin mengeluarkan kita dari kemudahan nikmat di rahim kandungan menuju pedihnya dunia? Persoalan kedua ini memiliki dua poin, yang akan dijelaskan sebagai berikut.

Poin Pertama

Ada logika sederhana dari Kang Fajar Siddiq:

"Dulu kita masuk TK. Kita bahagia, sumringah, tiada tekanan, terlebih kita bermain sebebasnya. Kita sudah merasakan kenikmatan di TK tetapi mengapa orang tua mendidik kita untuk meneruskan ke SD? Di SD kita masih merasakan sisa-sisa kenikmatan TK. Kita terus dididik ke SMP, SMA, kuliah, kerja. Maka pertanyaan yang sama berlaku. Mengapa kita harus meninggalkan kenikmatan TK demi semua hal yang 'melelahkan' itu?

Jawabannya, karena kita berpotensi mendapatkan kenikmatan yang lebih dari yang didapat saat di TK dengan catatan 'menjalani ujian jenjang akademis itu dengan baik'. Kehidupan kita juga sama, dari rahim ibu ke rahim dunia, sehingga nanti sampai ke akhirat. Kenapa di dunia mesti bergerak, karena Allah juga menyiapkan nikmat yang tak kita dapati di dunia."

Kita itu laksana anak burung yang tak berdaya yang tinggal di sangkar. Karena kelemahannyalah, ibunya melayaninya layak prajurit yang siap diperintah. Induknya rela berkeliling kemana saja demi mendapat makanan untuk anaknya yang masih kecil. Tapi kita mesti ingat karena anak itu masih kecil, maka ibunya pun memberikan porsi yang sesuai dengan keadaaanya. Lalu, apakah porsi itu akan sesuai sepanjang hidup burung tersebut? Apakah manusia selamanya mendapat rahmat melalui plasenta saja? Disinilah nampak kasih sayang Dzat yang Rahmaan. Manakala anak burung itu tumbuh dan fisiknya menjadi kuat, induknya akan berkata, 'Sekarang kamu sudah kuat, maka cari nikmatmu sendiri'. Ini bukan pertanda bahwa ibunya sudah tak memiliki kasih sayang karena menyuruh anaknya bersusah payah berusaha, tetapi ibunya berusaha memberitahu sekaligus mendidik bahwa dibalik makanan yang dia bawa setiap hari untuk anaknya, jika anaknya mencari sendiri niscaya dia akan mendapati makanan yang bermacam-macam dan lebih nikmat.

Poin Kedua

Kesempurnaaan rahmat Allah SWT telah memasukkan rahmat-Nya---yang berupa upah dari pengabdian---ke dalam pengabdian itu sendiri. Semua entitas yang berada di alam ini melaksanakan perintah Tuhan dengan penuh kecintaan, kesenangan, kerapian. Meski, mereka tidak mengetahui dan memahami tujuan perintah itu.

Renungkanlah tugas seluruh organ dan indra kita. Kita akan melihat bahwa masing-masing mereka merasakan kenikmatan dalam bertugas menjaga keberlangsungan kehidupan seseorang. Pengabdian dan tugas adalah kesenangan baginya. Sebaliknya, meninggalkan tugas dan peran berupa siksaan bagi organ tersebut. Tanyakan pada ginjal, bagaimana jika dia terpaksa meninggalkan tugasnya sebagai kompor bagi tubuh?

Seekor ayam jantan meninggalkan rezeki yang ia peroleh demi mementingkan ayam betina. Ia melakukan tugas itu dengan bangga dan nikmat. Begitupula ayam betina yang menjaga anak-anaknya. Ia rela tidak makan demi anak-anaknya dan rela menghadang anjing demi menjaga keberlangsungan hidup anaknya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Edukasi Selengkapnya
Lihat Edukasi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan