Mohon tunggu...
Gapey Sandy
Gapey Sandy Mohon Tunggu... Penulis - Kompasianer

Peraih BEST IN CITIZEN JOURNALISM 2015 AWARD dari KOMPASIANA ** Penggemar Nasi Pecel ** BLOG: gapeysandy.wordpress.com ** EMAIL: gapeysandy@gmail.com ** TWITTER: @Gaper_Fadli ** IG: r_fadli

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Malaysia, Lokasi Empuk Membunuh Target Intelijen?

26 April 2018   01:16 Diperbarui: 26 April 2018   01:55 1565
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Polis Diraja Malaysia memeriksa TKP pembunuhan cendekiawan muda Palestina, Fadi al-Baths dengan cara diberondong tembakan usai shalat Subuh di Kuala Lumpur. (Foto: AlJazeera)

Sambil meradang kesakitan, Kim Jong Nam melaporkan kejadiannya kepada petugas, "Sakit sekali, sakit sekali. Saya disemprot cairan." Tapi apa daya, cairan yang disemprotkan pelaku bukan sembarang cairan. Itulah racun saraf VX. Tidak berbau juga tidak berwarna, tapi ukuran 10 mg saja sudah mematikan. Dalam dunia militer, racun VX termasuk senjata kimia. Sesuai resolusi Dewan Keamanan PBB 687, racun ini termasuk pemusnah massal.

Kim Jong Nam klepek-klepek. Racun VX dosis tinggi spontan bekerja mematikan saraf dan organ vital tubuhnya. Dalam tempo 15 -- 20 menit, kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un ini pun tewas! Pembunuhan terjadi saat Kim Jong Nam baru check in di bandar udara internasional Kuala Lumpur, pada Senin, 13 Februari 2017.

Aparat Malaysia kelihatan sigap bekerja. Dua wanita ditangkap. Empat pelaku lain yang diduga agen-agen Korea Utara juga langsung dirilis foto berikut identitasnya. Uniknya, kedua wanita pelaku penyemprotan racun VX ke wajah Kim Jong Nam mengaku, mereka dibayar untuk melakukan hal konyol tersebut demi acara reality show televisi.

Disebut-sebut, dinas rahasia Korea Utara menjadi otak pelaku pembunuhan Kim Jong Nam.

KIRI, Kim Jong Nam adalah kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. KANAN, Fadi al-Bahts, anggota HAMAS Palestina. (Foto: Wikipedia | Foto: thenewsdaily.com.au)
KIRI, Kim Jong Nam adalah kakak tiri pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un. KANAN, Fadi al-Bahts, anggota HAMAS Palestina. (Foto: Wikipedia | Foto: thenewsdaily.com.au)
Beda lagi dengan pembunuhan Fadi al-Batsh. Pembunuhan memang bukan dilakukan di lapangan terbang, melainkan di jalanan. Pada Sabtu, 21 April 2018, selesai shalat Subuh berjamaah di masjid, ilmuwan Palestina yang sedang berjalan kaki pulang ke apartemennya diberondong tembakan minimal 14 peluru. Konon, pelakunya dua orang yang berpostur tegap, mengendarai sepeda motor dan mengenakan helm full face. Lokasi TKP tak jauh dari apartemen anggota Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah atau HAMAS ini tinggal.

Fadi memang sudah hampir 10 tahun menetap di Malaysia. Sejak April 2016, cendekiawan muda Palestina dari  bertugas sebagai dosen senior di Universiti Kuala Lumpur untuk program studi Electrical and Electronics Manufacturing. Selanjutnya, cuma butuh 2x24 jam, Polisi Diraja Malaysia (PDRM) kemudian merilis sketsa dua wajah pelaku penembakan Fadi al-Batsh.

HAMAS dan sanak keluarga Fadi pun menuding agen-agen MOSSAD - Dinas Rahasia Israel - bertanggungjawab atas pembunuhan cendekiawan muda Palestina dari Jabalia, Teluk Gaza.

MOSSAD juga punya "mesin pembunuh" yang bekerja di banyak negara. "Mesin pembunuh" para target dan merupakan musuh Israel ini bernama KIDON. Kidon bermakna bayonet. Tugas "divisi" ini memang melakukan pembunuhan dimana saja para target bernilai tinggi berada.

Pembunuhan Kim Jong Nam terekam CCTV bandar udara internasional Kuala Lumpur. (Foto: nyt.com)
Pembunuhan Kim Jong Nam terekam CCTV bandar udara internasional Kuala Lumpur. (Foto: nyt.com)
Mundur ke tahun 2000. Nama Teuku Don Zulfahri juga pernah meramaikan berita pembunuhan di media massa Malaysia. Sekjen MP Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu tewas bersimbah darah lantaran ditembak dua orang tak dikenal dari jarak dekat. Ketika itu, 1 Juni jelang sore, Teuku Don Zulfahri sedang menikmati makan-minum bersama sejumlah kawannya di restoran yang beralamat di Jalan 6/6 Pandan Perdana Distrik Ampang pinggiran Kuala Lumpur.

Serangkaian peristiwa ini mencerminkan, betapa leluasa para pelaku menemukan dan menghabisi target sasarannya. Kejadiannya berulang, dan selalu di Kuala Lumpur - kota terbesar di Malaysia.

Mengapa kok bisa target-target pembunuhan begitu mudah dihabisi nyawanya di Malaysia? Apa negara tetangga kita ini emang enggak punya dinas intelijen - yang elite - sampai 'kecolongan' kejadian pembunuhan transnasional berulang kayakgini?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun