Muda Pilihan

"Transform Your Company's Innovation Culture"

12 Maret 2018   08:34 Diperbarui: 10 April 2018   12:05 1036 0 0
"Transform Your Company's Innovation Culture"
jurnalpublik.com

Oleh : dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed

 

 

Saya yakin dibalik produk atau layanan yang inovatif ada pemimpin yang inovatif, tim yang inovatif. Lalu apa yang bisa membuat sebuah perusahaan terus berinovasi tanpa henti melalui beberapa dekade perjalanannya atau yang saya sebut sebagai sustainable innovation? Saya yakin budaya yang inovatif adalah jawabannya. Dalam membangun sustainable innovation atau inovasi berkelanjutan kita harus mulai berpikir dan berusaha menginternalisasi nilai-nilai inovasi dalam organisasi atau perusahaan kita melalui pembangunan budaya inovasi (innovation culture). Hal ini menjadi penting karena sering kita lihat banyak perusahaan yang tumbuh pesat pada generasi pertama bermodalkan passion dan inovasi dari pendiri, serta kemampuannya membangun tim yang inovatif. Namun, setelah berganti generasi atau berganti kepemilikan, perusahaan itu kehilangan kemampuan menghasilkan inovasi. Hal ini dikarenakan ketidakmampuan sang inovator membangun budaya inovasi yang lebih permanen dalam perusahaannya. Oleh karena itu, mampu membangun inovasi yang memiliki daya keberlangsungan, kita membutuhkan kepemimpinan yang inovatif, tim yang inovatif, dan budaya yang inovatif.

Boston Consulting Group (BCG) pernah menerbitkan temuan utama dari sebuah hasil survey “Most Innovative Companies 2014”. Berdasarkan hasil penelitian Boston Consulting Group (BCG), perusahaan yang berhasil berinovasi pada umumnya melakukan pendekatan inovatif sebagai sistem. Untuk membangun sistem yang inovatif, lihatlah perusahaan atau organisasi sebagai laboratorium ide baru. Di sisi lain, perusahaan atau organisasi harus memfasilitasi inovasi lahir lewat sumber daya yang ada. Sebagai contoh kebijakan Google mendorong pegawai untuk menggunakan 20% dari waktu kerja untuk mengerjakan ide mereka dan 3M company mengizinkan pegawai untuk menggunakan 15% dari waktu mereka untuk proyek yang mereka pilih.

Dalam perspektif lain, Gerard J. Tellis, Jaideep C. Prabhu dan Rajesh K. Chandy menunjukkan bahwa adaptabilitas merupakan pondasi paling penting dari keberhasilan membangun budaya inovasi di organisasi. Apakah arti dari adaptabilitas? Adaptabilitas adalah budaya yang mendorong untuk mengambil risiko, kemauan bereksperimen, inisiatif personal, pengambilan keputusan dan eksekusi yang cepat, serta kemampuan untuk melihat peluang yang unik. Untuk membangun sistem yang inovatif dibutuhkan lingkungan yang dedikatif untuk mendorong pendekatan ini.

            Sebagai pemimpin yang inovatif, Anda harus menanamkan sebuah prinsip pada tim Anda untuk mempertanggungjawabkan misi, fokus utama, kemampuan utama, dan sumber organisasi, serta komitmen pada stakeholder. Secara sederhana, Anda harus memberikan parameter-parameter dasar, lalu memberi tim Anda kebijaksanaan yang luas untuk melakukan pekerjaan mereka dalam usaha mencapai parameter-parameter tersebut. Pada titik ini pemimpin dan perusahaan harus mengedepankan rasa percaya kepada anggota tim. Reduce control and increase trust.

            Sebagai contoh sering kali pemimpin dan perusahaan memberikan deadline yang berat dalam berbagai kontrol kinerja untuk mencapai target, padahal tekanan berlebihan pada deadline tersebut akan membunuh inovasi sebelum inovasi itu lahir. Begitu tim Anda memahami bahwa mereka bertanggung jawab untuk menghasilkan produk atau layanan yang inovatif, Anda dapat memercayai mereka untuk tidak membuang banyak usaha, uang, sumber daya, dan waktu pada karya yang tidak memberhasilkan. Kepercayaan ini membantu untuk menempa dan membentuk budaya inovasi. Tidak ada inovasi tanpa kepercayaan.

Hal yang tidak kalah penting adalah mendobrak hierarki atau struktur yang kerap kali menghambat inovasi-inovasi itu tumbuh. Anda bisa memperkuat budaya inovasi dengan membuka ruang organisasi dengan tata kelola yang aspiratif dan akomodatif sehingga memungkinkan inovator melewati hambatan hierarki dan menjadikan ide-ide inovasi itu tumbuh dan berkembang tanpa hambatan birokrasi perusahaan.

            Tidak dapat kita sangkal bahwa membangun budaya inovasi adalah agenda paling utama dari banyak perusahaan dan banyak perusahaan telah mengumumkan bahwa inovasi menjadi prioritas utama perusahaan. Pemimpin – pemimpin mereka menjadikan inovasi sebagai nilai utama, berkhotbah dengan lantang tentang inovasi. Namun disisi lain, banyak karyawan di perusahaan disibukkan dengan pekerjaan teknis, tugas operasional bisnis, dan kerja – kerja berat dalam memenuhi permintaan konsumen. Oleh karena itu perusahaan harus mampu memacu pertumbuhan inovasi dari dalam. Tentunya itu bukanlah hal yang mudah, banyak gagasan yang mencoba menjelaskan dan menterjemahkan budaya inovasi ini. Berikut ini terdapat 3 pendekatan yang saya anggap sangat efektif untuk Anda terapkan dalam merevolusi budaya di perusahaan Anda.

1. Membangun Konsistensi dalam Berinovasi

            Pertama adalah gagasan yang dituangkan oleh Faisal Hoque, founder Shadoka yang juga penulis buku Everything Connects: How to Transform and Lead in the Age of Creativity, Innovation, and Sustainability. Menurut Faisal Hoque, terdapat 5 hal yang pada umumnya dilakukan secara konsisten oleh organisasi yang inovatif, yaitu mendengar, terbuka, kolaboratif, membangun kesetaraan, merangkul kegagalan.

Mendengar

Semua orang di dalam dan di luar perusahaan sering memiliki ide, gagasan, dan wawasan yang luar biasa untuk menghasilkan inovasi baru. Ide tidak selalu datang dari para ahli, bahkan terkadang inovasi terbesar berasal dari pemula, orang-orang baru, dan level struktur terbawah di perusahaan. Oleh karena itu, pemimpin dan semua orang di organisasi harus menghargai pendapat, ide, dan gagasan dari semua anggota mulai level struktur terendah hingga level struktur tertinggi. Tidak peduli struktur, posisi, dan jabatan, siapa pun yang punya ide dan gagasan mereka punya tempat untuk berinovasi di perusahaan.

Terbuka

Perusahaan yang berpikiran terbuka sering mengubah ide-ide dari perbincangan sederhana menjadi produk atau layanan inovatif yang dapat dipasarkan. Dengan berpikiran tertutup, organisasi hanya membatasi ide inovatif lahir dan mencegah ide-ide cerdas untuk tumbuh dan berdampak besar.

Kolaboratif

Tidak ada perusahaan yang berhasil dengan mengambil semua peran dalam mengembangkan inovasi yang baru. Kolaborasi dengan pihak di luar perusahaan sering menghadirkan perspektif dan gagasan baru dalam proses inovasi. Kami di Indonesia Medika memiliki prinsip “Kolaborasi untuk Akselerasi”. Kami yakin, banyak ide, sumber daya, dan talenta hebat di luar perusahaan. Kita bisa melibatkan mereka dengan berkolaborasi.

Berjalan setara

Proses persetujuan yang panjang, jalur komunikasi yang terputus - putus, dan birokrasi berjenjang adalah pengambat inovasi. Struktur manajemen yang setara akan memungkian menjadikan perusahaan sangat lincah. Oleh karena itu, perusahaan harus mulai membentuk sistem yang setara, efisien, dan cepat. Dengan demikian, pengambilan keputusan diambil lebih mudah dan cepat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3