Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany", "Exploring Hungary"&"Unbelievable Germany", a Tripadvisor level 6, penerima 2 award dari dubes LBBP RI (Hongaria), Y.M. Wening Esthyprobo Fatandari,M.A tahun 2017, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2013, nominator Best in Citizen Journalism Kompasianival 2014, nominator Kompasianer of the year Kompasianival 2014.

Selanjutnya

Tutup

Karir Pilihan

7 Tahun Melamar di 7 TK, Akhirnya Bisa Magang di TK Jerman

5 April 2020   18:42 Diperbarui: 5 April 2020   18:50 240 10 6 Mohon Tunggu...
Lihat foto
7 Tahun Melamar di 7 TK, Akhirnya Bisa Magang di TK Jerman
Bersama anak-anak itu sesuatu (dok.Fetzer Aldingen)))

Menjadi penyiar adalah pekerjaan yang paling saya gemari. Mengapa? Karena selain bertemu dengan banyak orang setiap harinya, bisa ngobrol apa saja dan dengerin musik kenceng di studio malam-malam. Kece badai, kan. Bawaannya seneenngg aja, buat apa susah? Apalagi kalau ada fans atau monitor yang datang dan membawa upeti. Ugh, serasa putri dari kahyangan. Nggak heran kalau saya 11 tahun betah cuap-cuap di depan corong? Eh, emang waktu itu nggak ada kerjaan lain yang lebih bagus duitnya? Ada, deh ....

Sayang, setelah pindah ke Jerman, keinginan untuk mencari kerja di bidang broadcasting nggak mudah. Sudah dua kali saya melamar dan ditolak dengan sempurna. Iya, bahasa Jerman saya masih kacau, berani ngomong di radio? Gayaaaa. Bikin telinga sakit saja karena orang jadi nggak paham apa yang saya bicarakan. Malu, ah.

Itulah sebab saya memutar otak. Apa yang bisa saja lakukan? Ya, mengajar! Saya harus mencari kerja sebagai guru. Talenta ini sudah saya gali waktu di tanah air. Saya pernah mengajar di TK selama 5 tahun, SMA selama 3 bulan dan 3 tahun di perguruan tinggi di tempat kelahiran saya.

Mau jadi guru di Jerman? Ngimpiiii. Saya memang hanya ngimpi, karena kerja jadi guru di Jerman tidak semudah di tanah air. Dengan berijazah S1 bukan PGSD, waktu itu saya boleh mengajar TK sampai perguruan tinggi Indonesia, sedangkan di Jerman beda. Kampus A untuk nantinya mengajar TK, kampus B untuk nantinya mengajar SD dan seterusnya. Semua diatur secara detil, nggak bisa campur-campur seperti kita. Mana tidak semua lulusan dari universitas di Indonesia diakui di Jerman. Lain kali akan saya urai lebih panjang.

Sekarang saya mau berbagi tentang pengalaman "Praktikum", magang atau praktek kerja lapangan alias PKL di taman kanak-kanak Jerman.

Susahnya Menanamkan Sebuah Kepercayaan

"Aller Anfang ist schwer." Mengawali sesuatu itu memang sulit. Maka dari itu, kita nggak boleh mudah menyerah. Begitu pula dengan mencari taman kanak-kanak yang mau menerima saya PKL selama 6 minggu, sebagai syarat untuk ikut program Ausbildung selama 3 tahun. 

Ausbildung adalah gabungan antara praktek di sebuah lembaga/perusahaan (3 hari/minggu) dan teori atau sekolah (2 hari/minggu). Usia saya emang sudah lebih dari 40 tahun tapi saya nggak pantang mundur. Azubi biasanya adalah lulusan sekolah lanjutan atau umuran 16-20 an. OMG! Mereka pasti imut-imut, saya amit-amit.

Oh, ya, selama 7 tahun, saya sudah ditolak 7 taman kanak-kanak di daerah tempat tinggal saya di Jerman. Langit serasa runtuh. Hiiiih, kejamnya Jermaaaan, padahal saya sudah punya pengalaman mengajar di TK Indonesia.  Mengapa mereka tidak mempercayai saya? Mengapa tak ada satupun yang memberikan kesempatan kepada saya agar saya bisa menunjukkan bahwa saya bisa? Huhuuuu ... nangis bombay.

Sebentar ... seingat saya, orang Jawa menyukai nomor tujuh atau pitu sebab itu artinya pitulungan atau pertolongan! Berarti akan ada titik terang bahwa tujuan saya akan tercapai (?). Arggghhhh... benarkah?

Suatu hari saya meneruskan usaha mencari TK yang mau menerima saya PKL. Ketemulah sebuah alamat di kota sebelah. Jaraknya hanya 10-15 menit dari rumah. Dahulu saya pernah mengajar bimbel di sana juga selama 3 tahun, pernah pula ikut lomba foto yang diadakan pemda sana dan menang karena dukungan teman-teman Kompasiana. Terima kasih, Kompasianer. Lumayan, saya dapat voucher belanja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x