Mohon tunggu...
Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann Mohon Tunggu... Administrasi - Telah Terbit: “Banyak Cara Menuju Jerman”

Housewife@Germany, founder My Bag is Your Bag, co founder KOTEKA, teacher, a Tripadvisor level 6, awardee 4 awards from Ambassadress of Hungary, H.E.Wening Esthyprobo Fatandari, M.A 2017, General Consul KJRI Frankfurt, Mr. Acep Somantri 2020; Kompasianer of the year 2020.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Au Pair di Jerman Bukan Pembantu

20 November 2019   18:06 Diperbarui: 21 November 2019   02:19 401
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Namanya Oanh. Sejak 11.11.2019, ia meninggalkan Jerman karena tugasnya sebagai Au-Pair Maedchen selama satu tahun telah usai. 

Ia menolak ide saya, supaya ia melamar sebagai tenaga sosial FSJ atau bekerja sambil belajar, Azubi. Saya pikir, mumpung masih muda, ia bisa mencari banyak pengalaman. Rupanya ia tidak tertarik.

Lulusan jurusan bahasa Jerman sebuah universitas di Vietnam itu memang sudah lama mengenal Jerman. Jadi kedatangannya ke Jerman sejak tahun lalu itu bukan pertama kalinya. 

Dua tahun sebelumnya, ia pernah ikut summer course di sebuah kota besar di Jerman. Katanya, waktu itu untuk memperlancar kefasihan bahasa Jerman, yang kemudian menjadi oleh-oleh, diajarkan kepada murid-muridnya di sebuah lembaga bahasa di Vietnam. 

Karena dirasa masih kurang, Oanh mau lebih lama tinggal di Jerman. Ia tahu betul bahwa kehidupan di Jerman itu nggak mudah dan nggak murah. Gadis pemegang sertifikat bahasa Jerman C1 dari Lembaga bahasa Vietnam itu memutar otak. 

Bagaimana ya, supaya bisa tinggal di Jerman? Solusinya? Ya, program Au-Pair!

Oanh yang memiliki pembawaan kalem itu menentang pendapat teman-temannya yang mengatakan bahwa menjadi Au-Pair itu rendahan, posisi nggak penting dan merugikan diri sendiri. 

Oh, ya? Siapa berbuat, ia yang menanggung akibatnya. Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Ia pun berangkat juga sebagai Au-Pair ke Jerman Selatan. Suka-duka dijalaninya dengan hati. Luar biasa sekali bagaimana ia menikmatinya. Dan tak terasa kini semua sudah berakhir.

Oanh, Au Pair di Jerman yang bukan pembantu

Kebetulan, saya kenal betul dengan Gastmutter atau ibu yang mengasuhnya sebagai Au-pair. Kami berteman sudah lebih dari 8 tahun. Sejak kelahiran bayi kembarnya, ia selalu memiliki Au-pair. Paling tidak sudah ada 10 Au-pair yang berada di rumahnya. 

Banyak dari mereka yang bertahan sampai setahun sesuai perjanjian, ada juga yang hanya tiga bulan sudah "menghilang." Mereka itu para gadis umuran 20-25 tahun dari negara Asia seperti Indonesia, Nepal sampai Vietnam.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun