Gaganawati Stegmann
Gaganawati Stegmann ibu rumah tangga

Ibu RT@Germany, a teacher@VHS, a dancer@www.youtube.com/user/Gaganawati1/videos, an author of "Exploring Germany"& "Exploring Hungary", a Tripadvisor level 6 ...

Selanjutnya

Tutup

Hijau highlight

Pakai "Tasini" Bisa Hemat 400 Kantong Plastik Setahun dan Selamatkan Lautan dari Sampah Plastik

6 Oktober 2017   15:27 Diperbarui: 6 Oktober 2017   15:29 1236 8 5
Pakai "Tasini" Bisa Hemat 400 Kantong Plastik Setahun dan Selamatkan Lautan dari Sampah Plastik
Tasini hemat 400 plastik (dok-Gana)

Hati saya dag-dig-dug-der. Layar di depan mata yang tadi hitam, menyala, bergerak-gerak. Gambar-gambar silih berganti datang. Ohhh, itu promo Tasini!

Wie bitte? Apa itu Tasini? Awalnya, kuping saya serasa mendengar kata dari bahasa Jepang. Tasini mengingatkan saya pada nama-nama orang Jepang seperti Takashi, Takato, Tenshi, Tetsuya, Takeo, Tatsumi, Taiki, Tadashi dan lain-lain. Padahal kalau diamati betul, itu dari kata "Tas" dan "ini", Tasini.

Tasini, Tas ini (dok.Gana)
Tasini, Tas ini (dok.Gana)

Dukung program MOPF (dok.Gana)
Dukung program MOPF (dok.Gana)

Simak Video Tasini di Youtube

Dua gadis kakak beradik aktivis lingkungan (founder bye-bye plastic bags) dengan t-shirt putih muncul. Adalah Melati dan Isabel Wijsen. Nama itu sudah saya kenal tahun lalu ketika guru bahasa Jerman saya memberikan artikel tentang aksi mereka di Bali. Luar biasa.

Dalam video, mereka memegang figur yang nemplok di Tasini. Dalam layar bagian bawah, tertulis, the key to break the plastic bag habit. Remaja yang lahir dan besar di Indonesia itu bilang merasa prihatin dengan 10 juta sampah plastik yang digunakan masyarakat kita tiap harinya. Itulah sebabnya, nusantara menjadi negara kedua penyumbang polusi berupa sampah di lautan dunia. Bagaimana dengan perasaan Anda sebagai penduduk asli Indonesia?

Lihatlah. Jutaan hewan mati tiap tahunnya karena menelan sampah plastik. Saya bahkan terperanjat melihat video dari WWF di mana seekor kura-kura besar tampak kesakitan ketika aktivis mengeluarkan sedotan plastik dari hidungnya! OMG! Berdarah-darah. Sejak itu saya paling nggak suka anak-anak pakai sedotan tapi mikir lagi, kalau taat membuang sampah dan ada program penanganan sampah seperti di Jerman sebenarnya nggak papa. Bagaimana dengan Indonesia? Buang sembarangan di got bikin mampet atau ke kali lalu mengalir ke lautan sehingga mengganggu kehidupan hewan-hewan?

Jumlah korban (hewan) meningkat dari tahun ke tahun. Ingat tulisan saya tentang perjalanan di pulau Panjangan di Jepara, Jateng dan Labuan Bajo, Flores Agustus lalu? Kenyataan ada di depan mata, sampah plastik di mana-mana ... darat dan laut! Kebiasaan manusia menggunakan plastik dan membuangnya setiap hari belum terbendung.

Dijelaskan juga bahwa itu mengganggu kesehatan manusia. Iya, yang suka makan ikan dari laut, periksa barangkali ada potongan plastik di dalam daging.


Pakai Tas Reuse Setiap Hari

Sejak saya pindah ke Jerman, gaya hidup saya sudah berubah. Nggak suka pakai plastik yang sekali buang tapi yang bisa beberapa kali dipakai. Sampai suatu hari memakai yang lebih tahan lama seperti keranjang lipat dan tas dari kain. Andai saja setiap hari orang pakai satu kantong plastik langsung buang (sekali pakai), berarti sudah minimal 3650 kantong plastik tidak saya pakai selama di negeri orang. Banyak kan?

Emm. Menurut saya, tas kain yang biasa saya pakai dan dapat gratis dari pameran atau toko, bisa dicuci dan dilipat untuk ditaruh di dalam tas. Ringan pula dibawa ke mana-mana. Sudah bagus.

Satu hal yang lumrah kalau ditanya kasir, saya nolak.

"Brauchen Sie eine Tte fr 0,15 euro." Si mbak bertanya apakah saya mau mewadahi belanjaan dengan kantong plastik seharga 15 sen atau Rp 1.000 an.

"Nein, danke. Ich habe's" Kepala saya menggeleng.

Biasanya, saya segera jadi tukang sulap. Mengeluarkan sesuatu dari tas tangan dan tiba-tiba kantong kain besar ada di meja kasir. Itu untuk tempat memasukkan barang-barang yang kami beli.

Gambaran yang sama pada video kedua gadis Wijsen bersaudara di depan kasir ketika mereka berbelanja. Mereka menunjukkan tas pink dengan hiasan ubur-ubur dan kuning-hijau kura-kura dengan tas berwarna biru. Selain itu, masih ada desain Tasini hitam dengan hiasan ikan pari dan biru, ikan hiu.

Sepertinya, itulah konsep reuseable bag yang diramu oleh organisasi MOPF (Making Ocean Plastic Free). Bahwa dengan diciptakannya desain TASINI, kantong plastik reuse dengan aksen boneka warna-warni bisa membuat publik Indonesia khususnya dan dunia untuk memikirkan lagi menggunakan plastik sekali pakai langsung buang.

Lia, Roger, Pari, Adith adalah orang-orang di balik kampanye TASINI. Roger Spranz adalah kandidat Phd yang care dengan lingkungan. Dia sangat mendukung program tas yang care dengan lingkungan. Boneka yang bisa bermanfaat untuk menggantungkan kunci-kunci pula, disinyalir mampu mengubah gaya hidup orang dengan sampah plastik pakai cara yang mudah (easy) dan menyenangkan (fun).

Why is it Expensive?

Sebentar, ada yang ketinggalan. Ada komentar untuk video itu yang mengatakan bahwa memang easy dan fun tetapi untuk expensive-nya bisa diminimalisir. Di internet, harganya 25 USD! Padahal di toko filial kecil mirip Alfamart dan Indomaret Indonesia yakni KIK, TEDI atau ALDI di Jerman, sudah sejak lama ada tas kantong reuse dengan konsep sejenis yang mirip (meski tanpa boneka kecil, melainkan tempat dan desainnya sudah lucu atau menarik). Harganya hanya 1 euroan atau Rp 15.000 an!!!

Dalam acara budaya Asia; Interkulturelles Buffet, Tanz und Musik di Konstan, Jerman tanggal 30 September di mana saya nari dan nembang Jawa, harganya memang cuma 7 euro atau Rp 105.000,00 tetapi tetap saja hadirin yang ada di ruangan Wolkensteinsaal, tidak serta merta pesan atau beli. Mikir.

Tentu saja itu bisa dimengerti, dana Tasini tersebut untuk program lingkungan membersihkan sampah dari lautan di dunia, khususnya di Indonesia.

Sedangkan tujuan lainnya bahwa masyarakat kita terprovokasi dengan inspirasi untuk memakai kantong reuse setiap hari tetap harus jalan. Coba kalau program pembersihan kenceng tapi orang buang sampahnya juga masih lancang? Sama aja boooooooong.

Jadi, menurut saya, dukungan program Tasini tetap masih diperlukan. Itu positip.

Dari bahan sampah (dok.Gana)
Dari bahan sampah (dok.Gana)

Terjangkau? (dok.Gana)
Terjangkau? (dok.Gana)
Dukung Tujuan Mulia Tasini untuk Lingkungan

Lia Nirawati, desainer Indonesia yang bikin Tasini tahu betul bahwa orang Indonesia suka sesuatu yang imut, berwarna dan menarik orang untuk memilikinya. Ia sadar, nggak banyak orang Indonesia yang tahu akan bahaya polusi sampah plastik tetapi penggunaan kantong ciptaannya membuat sampah dikurangi.

Selain itu, Pari Kobbe si kandidat Phd antropologi budaya menambahkan bahwa hewan di laut yang jadi korban dari tindakan manusia buang sampah plastik sembarangan atau terlalu banyak memakai plastik kresek. Ia menyebut Tasini sebagai duta lingkungan yang tepat. Tasini adalah kantong plastik yang juga ramah lingkungan tak hanya dari segi manfaat tapi materialnya didapat dari plastik recycle. Ingat, bahan bekas alias sampah! Sampah yang jadi berkah.

Ada lagi Adith Nugroho, konsultan yang cerita ternyata sudah ada beberapa perusahaan tanah air yang mendaur ulang plastik dan perusahaan yang mengolahnya menjadi bahan tertentu.

MOPF membutuhkan bantuan kita. Seribu Tasini sudah diproduksi dari dana swadaya. Mari dukung mereka untuk mencapai tiga tujuan yakni:

  • Memperkenalkan sebuah kampanye lingkungan secara besar-besaran di Indonesia.
  • Menggunakan plastik reuse, Tasini.
  • Membuat Tasini terjangkau untuk semua orang, terbeli.

Dari kampanye itu, satu Tasini akan mampu membuat orang hemat 400 kantong plastik setiap tahun. Dengan memakai Tasini berarti kita tak lagi terbiasa menggunakan plastik sekali pakai langsung buang. Meski saya biasa pakai kantong dari kain selama 11 tahun ini, saya pesan dua kantong Tasini demi mendukung program. Anda sudah pesan atau sudah punya? 

Selamatkan bumi dari sampah plastik.(G76)