Mohon tunggu...
Frederikus Suni
Frederikus Suni Mohon Tunggu... Pengais Aksara dan Penikmat Imajinasi

Manusia hidup dalam dua dimensi, yaitu dimensi terang dan dimensi gelap. Dimensi kelahiran dan kematian. Manusia tak pernah memilih keluarga, tempat dan negara di mana ia dilahirkan. Yang terpenting bagi manusia adalah menghargai arti dan makna kehidupan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Karya Lintas Generasi

23 September 2020   07:13 Diperbarui: 23 September 2020   07:18 187 10 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Karya Lintas Generasi
Pixabay;

Karya adalah bentuk apresiasi diri kepada Sang Pengada. Sang Pengada telah memberikan akal budi yang super power kepada manusia. Manusia selalu menggunakan akal budi untuk berkarya. Karya zaman dahulu bisa dinikmatin oleh antar generasi. Lalu, apa yang membedakan karya zaman lampau dengan karya zaman sekarang?

Karya generasi X (Kelahiran 1965 -1980 M) adalah karya abadi. Rahasia dibalik karya generasi X adalah komitmen, ketelatenan dan kesetiaan dalam berkarya. Sementara karya generasi sesudahnya adalah budaya instan. Budaya instan diidentikkan dengan generasi milenial. 

Mengapa? Karena generasi milenial tak menyukai sesuatu yang monoton. Mereka sangat menyukai dunia yang fleksibel. Karya mereka juga dikemas tanpa membutuhkan waktu yang panjang. Karena segala sesuatu sudah ada di internet. Akibatnya karya generasi milenial hanya numpang lewat.

Setiap kali saya membaca karya Pramoedya Ananta Toer, ada ribuan inspirasi dan komitmen tersirat dibalik setiap karyanya. Saya tak bisa membayangkan bagaimana seorang manusia yang sama dengan saya bisa menciptakan karya yang tak lekang oleh waktu. Karya beliau selalu berpusat pada kemanusiaan. Atau dalam istilah jurnalistik adalah human interest.

Pramoedya Ananta Toer adalah pemberontak yang elegan tapi menukik kalbu. Beliau menyuarakan aspirasi rakyat kecil melalui setiap tulisannya. Padahal beliau tak pernah mengenyam pendidikan filsafat dan Marxisme. Namun, rasa empati akan kemanusiaan jauh melebihi orang yang mengenyam pendidikan humaniora.

Sekarang kita beralih ke Eropa. Saya selalu penasaran dengan karya orang Eropa. Karena bagi saya karya merekalah yang mengubah dunia. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya saya menemukan benang merahnya. Di mana mereka selalu mengagungkan rasionalitas dan empirik dalam berkarya. Akibatnya, karya mereka bertahan dari setiap generasi. Lihat saja di setiap instansi pasti ada karya orang Eropa. Apalagi yang di dunia pendidikan.

Akhirnya, karya abadi melalui proses yang panjang. Karya yang dikemas dengan komitmen, ketelatenan, totalitas tak akan hilang dari sejarah dan setiap generasi.

VIDEO PILIHAN