Mohon tunggu...
Fradj Ledjab
Fradj Ledjab Mohon Tunggu... Guru - Peziarah

Coretan Dinding Sang Peziarah

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan Pilihan

Identitas dan Misi Pendidikan

27 Mei 2021   12:28 Diperbarui: 27 Mei 2021   12:37 197
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Otonom untuk mengatur dirinya dan secara otonom pula memilih, menentukan orang-orang terbaik berdasarkan standar yang telah ditetapkan. Sudah pasti standarnya tinggi. Demikian pula seharusnya aras pendidikan kita. 

Pendidikan yang berkualitas membutuhkan manager sekolah yang mumpuni dalam managerial, supervisi, dan kewirausahaan serta program inovatif dan solutif menjawabi tantangan pendidikan saat ini dan mendatang. Seorang managerial sekolah yang membawahi sebuah sistem dituntut memiliki kecakapan abad 21. Kualitas menjadi satu-satunya pilihan jika menghendaki majunya pendidikan. 

Maka, sejatinya dunia pendidikan adalah lembaga paling otonom, merdeka, dan bebas dari pengaruh terutama pengaruh kekuasaan dan hegemoni kekuasaan. Ketika hegemoni kekuasaan merembes masuk ke dalam dunia/lembaga pendidikan maka yang terjadi adalah dinasti kekuasaan dan kualitas hanya akan menjadi sebuah retorika, ironi dan hayalan pada kaki pelangi pendidikan. Hal ini terjadi karena orang-orang terutama manager pendidikan akan mengalami kehilangan comman sense, kehilangan akal sehat sekaligus membunuh hak asasi manusianya sendiri karena tak bisa berbantah dan berteriak apalagi melawan kekangan hegemoni. Diminta melompat ke jurang dalam berbatuan pun akan dilakukan apapun konsekuensinya. Persis inilah sebuah bentuk penjajahan dan kapitalisme pendidikan yang memukul mundur kualitas dan kreativitas personal dan kematian prematur sebagai jalan sepi demi mengamankan posisi, jabatan (kepala sekolah) dengan prinsip Asal Bapak Senang (ABS).

Lembaga pendidikan terutama pendidikan formal perlu penegasan kembali akan identitas dan misi sebagai arah gerak dalam mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. 

Identitas dan misi menjadi kuat dan berkarakter apabila ditopang oleh dua pilar penting yakni kedalaman spiritual dan kedalaman intelektual. Spiritual adalah bertemunya identitas dan misi. Identitas adalah kekhasan, daya, energy, citra, brand yang melekat kuat pada diri, lembaga, yang tidak dimiliki oleh diri/lembaga lain yang terus menerus dipertahankan  sebagai eksistensi diri. 

Maka, untuk tetap mempertahankan identitas itu, sebagai pendidik dituntut untuk menjadi penggerak dan sebagai peserta didik dituntut sebagai generasi pembelajar. Inilah sesungguhnya yang diharapkan untuk menciptakan dan mewujudkan ruang merdeka belajar yang sekarang ini menjadi sasaran dan cita-cita negara. Maka, ketika pendidik dan peserta didiik sama-sama bergerak untuk menciptakan ruang merdeka belajar, di situlah ada spiritualitas, ada Roh.

Dalam Konferensi Sekolah Katolik Indonesia di Yogyakarya waktu lalu, Romo Sunu, SJ yang waktu itu masih menjabat sebagai Provinsial Jesuit Indonesia, memberikan materi dan pandangan sangat mendalam tentang pendidikan dalam kerangka kedalaman spiritual dan kedalaman intelektual. Beliau menegaskan akan pentingnya kedalamaan spiritual untuk menemukan cara mendalam secara intelektual dengan 3 perangkat daya jiwa yakni nalar, rasa, dan kehendak. Kalau bahasanya guru Bangsa, Ki Hajar Dewantara adalah cipta, rasa, dan karsa. Setiap rasa selalu ada nalarnya. 

Maka kata kuncinya adalah awareness (kesadaran). Kalau sudah memiliki kesadaran maka orang akan tanggap, dan memiliki daya cekatan untuk menanggapi. Pada titik inilah mereka yang memiliki kejernihan nalar dan rasa akan mempunyai kehendak yang kokoh kuat.  Inilah tantangan dan sekaligus cambuk dalam dunia pendidikan di era disrupsi sekarang ini.

Betul bahwa iptek mengalami disrupsi yang pesat namun perlu diingat adalah sehebat apapun teknologi informasi tak akan bisa menggantikan peran pendidik. Maka sebagai pendidik maupun peserta didik menjadi syarat mutlak untuk merdeka di era digital ini. Pendidik yang merdeka adalah mereka yang mempunyai kebebasan dalam berpikir, hati-hati dalam bertindak dan menyadari batasan-batasan kemerdekaan, agar ia mampu melahirkan inovasi dan kreativitas serta transformasi dalam pembelajaran. 

Teknologi bukan menjadi obyek atau subyek belajar, tetapi menjadi tools yang mentransformasi proses pendidikan agar peserta didik dapat menjadi empowered learned, digital citizen, knowledge constructor, innovative designer, computational thinker, global collaboration, creative communication. Demi menunjang itu semua maka baik pendidik maupun peserta didik mau tidak mau harus memiliki kemampuan dalam literasi digital, tuntutan zaman ini dan untutan kedalaman intelektual.

Sudah saatnya dunia pendidikan untuk Berbenah-Bergerak-Berbuah. Prasyaratnya adalah kerjasama dan aliansi stratejik serta keterbukaan dan kesediaan untuk berubah. Oleh karena itu pendidik, peserta didik dan pemangku kepentingan lainnya penting untuk membangun platform jejaring kolaborasi untuk mengembangkan kompetensi kepribadian, professional, dan sosial. Dari ketiga kompetensi ini akan membuahkan kapasitas pedagogis, formatif dan transformatif. Laksana pohon;  akar (afektif) sebagai kompetensi kepribadian, daun (talenta) sebagai kompetensi professional, buah (lovely friendship) sebagai kompetensi sosial, dan batang adalah spiritualitas. Inilah kunci sebagai pendidik penggerak dan peserta didik pembelajar sebagai identitas dan misi pendidikan. (Fradj)

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun