Mohon tunggu...
Arief Firhanusa
Arief Firhanusa Mohon Tunggu... karyawan swasta -

Pria yang sangat gentar pada ular

Selanjutnya

Tutup

Catatan Pilihan

Aku Bersedia Menikahimu Asal Kau Copot Kawat Gigimu

31 Maret 2014   22:31 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:15 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

KAWAT gigi mungkin berguna bagi mereka yang punya keluhan gigi. Tapi bagi Reno behel sungguh menjijikkan.

Suatu siang Reno makan di warung Bu Tin, belakang Mal Ciputra Semarang. Asyik mengunyah bayam, ia lupa di depannya sepasang kekasih tengah sibuk memadu cinta di tengah makan siang. Reno mendongak tatkala berisik canda muda mudi itu mengganggunya. Persis ketika ia melihat dua remaja itulah 'monster kawat gigi' muncul di depannya. Dua remaja itu tampak belepotan nasi plus lauk pauknya. Bukan di bibir, melainkan di kawat gigi mereka!

Reno nyaris muntah. Ia tinggalkan nasinya yang baru separuh dia telan, membayar, kemudian berjalan tergesa menuju kantornya di kawasan Simpanglima, lalu benar-benar muntah di kamar mandi.

Ia sudah tak asing dengan kawat gigi. Ada sejumlah karyawati di bank tempat dia bekerja memakainya. Hanya baru sekali itu dia menyaksikan seringai mulut berkawat gigi tatkala si pemakai sedang makan. Rempah nasi plus sayurnya tidak lekas menggelontor ke dalam lambung, tapi menempel dengan menjijikkan di sela-sela bracket (penahan karet), dan memancar dengan jorok saat pemakainya ketawa lepas ketika makan.

Sejak itu ia "trauma kawat gigi". Tiap berpapasan dengan siapapun berkawat gigi, Reno melengos. Ia bahkan mimpi buruk, didatangi predator seperti film Aliens vs Predator, dengan mulut berlendir dan gigi-gigi berkilat mirip perempuan berkawat gigi.

Ia tak habis pikir, mengapa sih harus pakai kawat gigi? Apapun gigi yang tumbuh di gusi kita adalah pemberian Tuhan yang wajib disyukuri. Biayanya pun tidak murah, bahkan seseorang harus sampai dua tahun bagian giginya dijepit kawat hanya untuk membenarkan struktur gigi. Padahal gigi-gigi Madonna, Jewel, Kirsten Dunts, sampai Anggun C Sasmi itu tak rapi-rapi amat, tapi mereka tak pernah pakai kawat gigi.

Lagipula, kawat gigi kini terjebak menjadi semacam tren saja. Tren yang menurut Reno keblinger, seperti halnya menindik lidah dan memberinya anting. Saking keblingernya, di Balikpapan pada September tahun lalu ada siswi SMK yang mengorbankan kegadisannya cuma untuk membeli kawat gigi (Kompas, 30 September 2013).

Perhiasan -- bila behel dianggap tren seperti halnya cincin dan tidak dipakai untuk sesuatu yang benar-benar terapi -- lebih pantas dipasang di leher, kuping, atau lengan dan jari-jari tangan. "Perhiasan berupa kawat kok dipasang di gigi! Idih!" Runtuk Reno, tadi siang di kantor saya.

Ironisnya, Reno sedang dekat dengan Mirna, pegawai bank sebelah, jauh sebelum ia melihat makanan menempel di kawat gigi dua remaja tadi. Bukan dekat dalam arti pacaran, melainkan baru pendekatan.

Reno nyaris tak menemukan kekurangan pada diri Mirna. Tubuhnya semampai, ditopang kaki-kaki menjangan yang putih bersih. Rambutnya legam-tebal menjejak bahu. Alisnya mirip bayi-bayi semut yang berbaris seperti apel tentara. Sudah begitu, Mirna yang asli Jogja itu cerdas dan pintar bicara. Sayangnya, Mirna pakai kawat gigi ...

Tadinya Reno sudah bisa menerima kenyataan bahwa Mirna pakai behel. Toh masa kadaluwarsa kawat gigi ini tinggal setahun lagi. Mirna mulai memakainya setahun silam gara-gara ada satu gigi bagian bawah yang sedikit miring. Toh kecantikannya tak menyusut oleh gigi miring tadi. Namun ia merasa kurang sempurna.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Catatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun