Mohon tunggu...
Dzulfikar
Dzulfikar Mohon Tunggu... Content Creator

SEO Content Writer yang mencoba menafsirkan ide dengan kumpulan kata yang sederhana. Aktif menulis di blog bangdzul.com dan menvisualisasikannya di vlog youtube.com/dzulfikaralala

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Gadis Berjilbab Ini Tak Pernah Risih Berteman dengan Orang Gila

24 Desember 2017   15:23 Diperbarui: 24 Desember 2017   15:46 1117 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gadis Berjilbab Ini Tak Pernah Risih Berteman dengan Orang Gila
Triana Rahmawati (liputan6.com)

Gadis berjilbab bernama Triana Rahmawati bukan sosok biasa yang muncul tiba tiba dan menjadi salah satu penerima apresiasi SATU Indonesia Awards 2017. Tria, begitu dipanggilnya, ternyata memiliki kehidupan yang amat sulit. Ia diuji dengan berbagai macam musibah. Tapi, ia berhasil bangkit dari keterpurukan. Seperti apa kisahnya?

Tria pernah dalam kondisi yang berada dalam titik nadir kehidupan, ketika dirinya gagal kuliah di perguruan tinggi negeri. Apalagi saat itu dirinya baru ditinggalkan oleh ibunya yang meninggal dunia karena kanker paru. Tria tak menyerah dengan keadaan meskipun harus mengulang pendaftaran di tahun berikutnya.

Usaha memang tak pernah berkhianat. Setahun berselang setelah belajar mati-matian, Tria akhirnya diterima di Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Sebelas Maret.

Meskipun dalam kondisi keterbatasan dana Tria tetap berusaha untuk membiayai kuliahnya sendiri. Salah satu jalan yang dilakukannya adalah mengajukan beasiswa. Jalan tersebut ditempuh karena Tria tidak mau merepotkan keluarganya.

Lagi-lagi ini membuktikan bahwa usaha dan pengorbanan tidak akan pernah berbohong. Ia mendapatkan beberapa beasiswa mulai dari beasiswa PTA, beasiswa Bank Indonesia sampai dengan beasiswa dari Dompet Dhuafa.

Ternyata dari beberapa beasiswa yang didapatkan tercetus ide untuk membuat sebuah usaha. Akhirnya dia merintis usaha jasa cuci baju atau laundry. Jiwa sosial Tria mulai tampak saat membuka usaha laundry. Selain menjadi pemasukan bulanan, Tria juga berniat untuk mencuci mukena yang ada di mushala-mushala kampus tanpa dipungut biaya sepeserpun alias gratis sebagai gerakan moralnya terhadap lingkungan.

 Tidak cukup sampai di situ akhirnya pada semester 5, Tria membuat sebuah aksi kemanusiaan yang dinamai dengan Griya Schizofren sekitar tahun 2013. Gerakan inilah yang membuat Tria bisa berkenalan dan berteman akrab dengan orang gila atau Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK).

Triana bersama teman-teman dan ODMK yang ditemaninya (uns.ac.id)
Triana bersama teman-teman dan ODMK yang ditemaninya (uns.ac.id)
Dengan mendirikan komunitas ini, Tria mengumpulkan beberapa anak muda di Solo untuk menghibur beberapa orang gangguan jiwa di PMI Solo secara sukarela tanpa dibayar sepeser pun. Oh ya, kata Schizofren sebenarnya merupakan akronim dari Social, Humanity dan Zone Friendship.

Pendampingan tersebut akhirnya berbuah hasil. Beberapa penderita gangguan jiwa sembuh dan bisa hidup normal kembali. Meski masa kuliahnya sudah berakhir, Tria tetap melanjutkan program yang dibuatnya tersebut.

Untuk pendanaan Griya Schizofren, Tria memutar otak dengan berwirausaha diantaranya dengan menjual aneka jilbab dan juga boneka wisuda. Dari bisnis kecil-kecilan itulah Tria bersama kawan-kawannya masih bisa terus mendampingi beberapa penderita gangguan jiwa dan menjadikan mereka layaknya seperti sahabat.

"Mereka sebetulnya sama saja dengan manusia pada umumnya. Bahkan, bila sedang tenang, mereka juga bisa bercerita kenapa bisa mengalami gangguan jiwa. Umumnya karena tidak kuat menghadapi tekanan ekonomi atau ditinggal pasangannya. Memang ada masanya mereka mengamuk, tetapi sejauh ini kami tidak pernah mengalami hal-hal yang membahayakan," tuturnya seperti dikutip dari Beritasatu.com.

"Kami ingin memuliakan sekaligus membantu penyembuhan penderita gangguan jiwa yang selama ini dianggap sebagai aib dan terpinggirkan," tambah perempuan berjilbab ini.  

Komunitas Griya Schizofren, bahkan memberikan inspirasi bagi Tria untuk mengangkatnya menjadi bahan skripsinya. Bahkan dengan berani Tria melakukan terobosan dengan melalui pendekatan langsung, sesuatu hal yang jarang dilakukan para akademisi dalam tataran perguruan tinggi. Tria justru menerobos dinding dan sekat tersebut dengan berinteraksi langsung tanpa merasa jijik ataupun takut dengan para penderita gangguan jiwa.

Tria merasa kasihan dan juga merasa memiliki beban moral jika mengabaikan mereka. Itulah yang membuat hati Tria tergerak sehingga mendirikan komunitas Griya Schizofren demi membantu dan menemani para penderita gangguan jiwa yang selama ini dianggap sebagai "sampah masyarakat" oleh orang awam. Bahkan terkadang mereka (penderita gangguan jiwa) menjadi objek bullyingoleh anak-anak yang belum mengerti.

Langkah Tria ternyata belum berhenti sampai di situ. Ia pun mengirimkan skripsinya ke jurnal internasional. Walhasil ia malah ditawari untuk menjadi pembicara dalam Forum Psikologi Internasional di Kobe Jepang, pada Maret 2016. Apa yang dilakukan Tria dianggap sebuah terobosan baru dalam membantu para penderita gangguan jiwa. Bahkan Tria mendapatkan perhatian dari para peserta yang berasal dari negara maju seperti Amerika, Meksiko dan juga negeri tetangga Filipina.

Triana saat mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards 2017 (astra.co.id)
Triana saat mendapatkan penghargaan Satu Indonesia Awards 2017 (astra.co.id)
Berkat usaha dan kerja kerasanya itulah pemilik nama lengkap Triana Rahmawati, mendapatkan penghargaan sebagai salah satu penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia (SATU Indonesia) Awards pada tahun 2017 medio Oktober lalu. Komunitas Tria dianggap berkontribusi dalam bidang kesehatan. Ia mendapatkan tambahan dana Rp60 juta untuk membantu mengembangkan kembali komunitasnya hingga mampu berkelanjutan membantu para penderita gangguan jiwa.

Astra memang berkomitmen dalam memberikan kontribusi kepada bangsa. Salah satunya memberikan pembinaan termasuk dukungan kepada para inspirator muda yang memberikan dampak luas seperti yang dilakukan oleh Tria. Program tersebut merupakan wujud dari kepedulian Astra dalam program CSR yang sejalan dengan salah satu butir Catur Dharma Astra "Menjadi milik yang bermanfaat bagi Bangsa dan Negara."

Selain SATU Indonesia Awards, Astra juga memiliki apresiasi bagi para kompasianer/blogger bernama Anugerah Pewarta Astra (APA), Bertemakan 60 tahun perjalanan penuh inspirasi Astra. Anda pun bisa turut serta mengangkat tulisan tentang kisah sosok inspiratif di sekitar Anda yang berkaitan tentang Astra. Ulasan tentang Triana di atas adalah salah satu contoh yang bisa kamu submit segera. Pada Anugerah Pewarta Astra 2017 yang digelar hingga 31 Desember 2017 nanti. Siapa tahu Anda bisa menjadi salah satu orang yang beruntung membawa hadiah utama sebuah Mobil Astra Daihatsu Ayla, Motor Sport terbaru hingga hadiah bernilai jutaan rupiah lainnya.

Referensi:
1. 234.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x