Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Administrasi - Officer yang Menulis

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Bahar Smith, Anies Baswedan dan Politik Identitas yang Membelah

4 Januari 2022   12:29 Diperbarui: 4 Januari 2022   15:20 920
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Selain itu sepertinya, koalisi oposisi yang ditopang oleh populisme Islam konservative tengah mengupayakan lahirnya simbol baru dari pihak mereka sendiri untuk menopang Anies Baswedan.

Setelah Rizieq Shihab harus mendekam di bui, yang membuatnya tak bisa bebas bergerak. Mereka mencari sosok lain sebagai simbol perlawanan.

Simbol itu sempat coba disematkan pada Bahar Smith yang gaya dan pendiriannya mirip dengan Rizieq.

Buktinya dalam beberapa hari belakangan nama Bahar Smith seolah dijadikan sebagai simbol perlawanan, apalagi selepas keluar dari penjara atas kasus kekerasan, ia mulai bersuara sangat keras kepada petinggi TNI  Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurahman yang dianggap "musuh bersama" oleh mereka.

Dudung adalah salah satu orang yang paling keras dan paling berani bertindak untuk melawan hegemoni "politik massa" Rizieq Shihab, ada peran besar dirinya yang membuat polisi berani menangkap dan memenjarakan Rizieq serta membubarkan FPI.

Namun demikian, Bahar Smith masih agak sulit untuk menggantikan posisi Rizieq sebagai simbol perlawanan Islam Konsevative, karena "aura" yang dimilikinya belum  setara dengan Rizieq dan tingkahnya lebih sering menimbulkan masalah.

Dan kini ia pun harus kembali masuk kerangkeng akibat ujaran kebencian terhadap KSAD Jenderal Dudung  yang ia lontarkan dalam salah satu ceramahnya.

Menurut saya, setelah Bahar Smith kembali berurusan hukum, koalisi oposisi akan mencari sosok lain untuk menopang Anies diluar jalur formal.

Terlepas dari itu semua, menurut saya  dengan berkaca pada konstelasi politik saat ini,  besar kemungkinan  Pemilu 2024 masih akan dihiasai dengan politik identitas keagamaan, yang akan melahirkan kembali pertarungan antara populisme Islam versus nasionalisme yang membelah.

Sementara di pihak petahana, dalam hal ini koalisi pemerintah. Calon yang akan diusung masih belum jelas, ada Puan Maharani yang terlihat diusung dengan sangat ambisius, dan Ganjar Pranowo yang diminati masyarakat tapi tidak oleh partainya.

Dan di tengah ada Prabowo yang kabarnya akan kembali dicalonkan oleh Gerindra. Kenapa Prabowo saya sebut di tengah,  besar kemungkinan ia tak akan dipilih lagi oleh "oposisi" karena ia dianggap berkhianat setelah bergabung dengan Jokowi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun