Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Administrasi - Officer yang Menulis

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Beauty Pilihan

Perjalanan Kisah Gincu Meronai Zaman

18 September 2021   14:16 Diperbarui: 18 September 2021   14:43 396
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Hal ini terekam dalam lukisan dinding yang menunjukan perempuan dengan bibir berwarna merah terlihat tampak menonjol. Mereka mendapatkan warna merahnya dari kelenjar kerang murex.

Masa berubah, waktu pun berjalan akhirnya budaya pewarnaan bibir mulai merangsek ke dalam budaya arus utama Yunani Klasik.

Hal tersebut dibuktikan dengan penemuan kotak tertutup tempat penyimpanan kosmetik yang disebut Pyxides. Bahan pewarna yang digunakan pada gincu di zaman ini berasal dari zat-zat nabati seperti buah murbei, rumput laut atau dari berbagai akar tanaman.

Setelah masa Yunani mulai memudar, Romawi saat Kaisar Nero berkuasa, peran gincu mulai meningkat secara sosial. 

Permasurinya Ratu Poppaea Sabina menggunakan pewarna bibir berwarna keunguan yang terbuat biji besi, oker dan alga berwarna coklat yang disebut fucus.

Untuk menjaga penampilan gincu dan penampilannya agar terlihat tetap sedap dipandang mata konon katanya Ratu Peppea ini mengerahkan 100 orang dayang-dayangnya.

Kondisi sosial terkait gincu di Romawi ini terus bertahan dan penggunaannya meluas ke hampir seluruh Eropa hingga abad pertengahan, apalagi setelah bahan gincu berbentuk padat ditemukan oleh seorang dokter yang juga seorang fisikawan Islam Abu al Qasim al Zahrawi pada sekitar tahun akhir tahun 900-an masehi.

Dia menuliskan temuannya tersebut dalam ensiklopedia medis Al Tasreef. Cikal bakal bentuk lipstik seperti yang kita kenal saat ini dirujuk dari sebuah stik wangi dan berminyak ini disebut adhan yang digunakan untuk pengobatan dan kecantikan.

Sayangnya ketika Eropa memasuki abad pertengahan, masa dimana gereja begitu berkuasa gincu dilarang keras untuk digunakan.

Siapapun yaang memiliki bibir berwarna dianggap sebagai pelaku ritual pemujaan setan, kondisi ini membuat kalangan elit Eropa saar itu tak ada yang berani memakai gincu.

Penggunaan pewarna bibir hanya ada dikalangan strata sosial rendah, itu pun mereka menggunakannya secara sembunyi-sembunyi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
  7. 7
Mohon tunggu...

Lihat Konten Beauty Selengkapnya
Lihat Beauty Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun