Mohon tunggu...
Efwe
Efwe Mohon Tunggu... Administrasi - Officer yang Menulis

Penikmat Aksara, Ekonomi, Politik, dan Budaya

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

BTS Meal dan Fanatisme, Setiap Orang Ada Zamannya, Setiap Zaman Ada Orangnya

11 Juni 2021   09:55 Diperbarui: 23 Juni 2021   22:39 391
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Tentu saja kondisi ini tak sejalan dengan pemikiran generasi -generasi diatasnya dan mereka yang bukan merupakan bagian dari Army.

Cibiran dan ledekan bertebaran di media sosial demi menyaksikan bagaimana Army berjuang sedemikan hebatnya demi sebuah boxset BTS Meal, kebanyak mereka menyebut Army 'lebay'.

Itu lah fanatisme yang memang hingga titik tertentu bisa membutakan. Tak terbatas pada sebuah grup band seperti Army terhadap BTS-nya, atau penggemar klub sepakbola tertentu bahkan fanatisme terhadap sebuah ajaran agama kerap kali menjadi sumber keributan.

Kata "Fanatisme" secara etimologis berasal dari bahasa latin 'Fatanicus' yang berarti ekstasi, antusiasme atau menggebu-gebu. 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) fa*na*tis*me n keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya).

Apakah fanatisme ini baik bagi kehidupan manusia?

Sesuatu yang berlebihan apapun itu tak akan berdampak baik, begitu pun fanatisme. Kondisi ini bahkan oleh sebagian ahli jiwa disebut sebagai gangguan kejiwaan.

Hal ini bisa terjadi ketika sudah memberikan dampak yang buruk bagi diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Dalam diri muncul keyakinan yang secara ekstrem hanya itulah yang pantas di puja dan dijadikan kebenaran absolut, apapun informasi yang kontradiktif dengan keyakinannya apalagi dianggap mengecilkan sumber fanatismenya akan mereka lawan.

Fanatisme jika tak terkendalikan dapat menimbulkan obsesi yang berlebihan terhadap seseorang atau sesuatu hal.

Namun, jika fanatisme itu mampu dikelola dengan baik dengan tetap membuka diri terhadap pemikiran-pemikiran  atau kelompok-kelompok lain dalam rangka membentuk kerangka berpikir logis.

Dalam kasus BTS Meal ini, pihak produsen  Mc D dan Manajemen BTS berhasil memonetasi fanatisme pengemarnya begitu rupa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun