Mohon tunggu...
Ferdi Indrawan
Ferdi Indrawan Mohon Tunggu... Hello

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Ketika Agama Menjadi Antagonis

27 Maret 2020   20:29 Diperbarui: 27 Maret 2020   20:46 446 0 0 Mohon Tunggu...

Oleh Muhammad Ainul Rizal
"Berbeda", adalah warna yang menemani bergulirnya kehidupan manusia di muka bumi, perbedaan bisa berbentuk apapun, baik perbedaan dalam bnetuk makanan kesukaaan, minuman kesukaan, warna kesukaan dan lainnya, termasuk perbedaan agama, pun menjadi perhatian tersendiri di kalangan masyarakat.

Agama dapat menjadi perekat dan pemersatu yang sangat kuat bagi suatu ngsa, dapat menjadi hal yang membangkitkan gairah kebersamaan dan gairah kesatuan antar sesama. Tetapi tak dapat dipungkiri pula bahwa agama dapat menjadi sumber perpecahan, konflik, dan pembunuhan bagi pemeluk agama yang satu dengan pemeluk agama lainnya.

Konflik, adalah hal yang sangat tidak diinginkan terjadi di tengah kehidupan masyarakat, terlebih lagi konflik yang menyangkut pautkan agama dalam kasusnya, konflik semacam ini akan menyebabkan ketegangan yang lama serta trauma yang serius di kalangan yang mengalaminya, sehingga perlu perhatian khusus dan toleransi untuk menghadapi isu isu semacam ini.

Ambon 19 Januari 1999, konflik yang tak pernah diinginkan itu pecah, konflik yang melibatkan dua agama besar yang awalnnya hidup sangat rukun dan saling mengayomi satu sama lain, konflik antara saudara islam dan saudara kristen, konflik antara tentangga islam dan tetangga kristen, dan konflik yang menyangkutkn setiap sudut yang bisa dicapai oleh ranah agama islam dan agama kristen.

Konflik itu pecah di Batumerah, konflik yang awalnya dimulai dari masalah kecil yang sangat sepele, yaitu masalah uang keamanan yang melibatkan antara seorang pemuda dan seorang pengemudi truk, yang kemudian dalam waktu yng sangat cepat dissulut sehingga menjadi sebuah konflik agama yang sangat besar dan berlangsung lama dalam kurun waktu 1999-2002, dan yang lebih menyakitkan adalah, konflik itu pecah tepat pada perayaan hari idul fitri, yang seharusnya disambut dengan suka cita, tetapi jauh dari itu hari raya tersebut justru disambut dengan iar mata, darah, dan ketakutan dari kedua pihak yang berseteru.

Dua tahun, Yaa.., dua tahun tanah Batumerah diwarnai pertumpahan darah, diwarnai dengan pembantaian antara dua saudara yang awalnya sangat rukun dan damai kemudian berakhir dengan aksi saling bunuh seakan mereka tak pernah saling bersama sebelumnya, konflik yang menyebabkan dua saudara ini harus melakukan perpisahan sehingga membentuk basis masing-masing untuk mendapat keamanan, dalam hal ini, Si Kristen yang jumlahnya lebih minim memilih untuk mengalah dan mengungsi ke Kayutiga untuk membentuk basisnya, sementara yang muslim bertahan di Batumerah dan mendirikan basisnya disana. 

Dampak konflik yang menimbulkan Segreisme ini sangat besar,sangat dalam, dan sangat membekas bagi yang pernah mengalaminya secara langsung, sehigga konflik nya terus ditumbuhkan dari generasi ke generasi dengan cara menceritakan kengerian yang terjadi saat itu, sehigga secara tidak langsung, paradigma tentang kekejaman agama islam bagi orang yang beragama kristen dan begitupun sebaliknya terus tumbuh dan subur di kalangan masyarakat.

Setelah konflik yang sangat panjang itu terjadi, Akhirnya hari ini mulai ada kabar yang menggembirakan yang datang dari dua saudara yang berseteru itu, rasa kesatuan dan kerinduan mereka akhirnya timbul dan berusaha mengalahkan segala jarak keagamaan yang sudah terlanjur tercipta, mengalahkan ketakutan dan aspek lain yang telah menjadi jurang tersendiri bagi Islam dan Kristen disana.

Setelah lama tak bersua, lama tak berjumpa, dan lama tak bertegur sapa, akhirnya salah satu dari mereka memunculkan inisatif untuk merajut kembali persatuan yang sudah terlanjur pecah, hal itu terjadi ketika moment berlebaran tiba, dimana sekelompok ibu yang berasal dari kalangan kristen memberanikan diri melawan rasa takutnya, untuk datang ke rumah saudara muslimnya yang sebelum konflik telah menjadi tetangganya dan sempat melalui hari-hari bahagia bersama. 

Perjumpaan yang sangat haru, yang menjadi awal terikatnya kembali jalinan di antara mereka, Perjumpaan yang awalnya sangat dikhawatirkan oleh si kristen yang takut apabila kedatangannya disambut dengan kebencian dan dapat menyulut kembali konflik yang ada, tetapi diluar ekspektasi justru Si muslim kemudian menyambut saudara kristennya dengan sangat hangat, dengan sangat gembira dan bersuka cita, merka pun berpelukan dan saling mengenang satu sama lain, dan kunjungan tersebut pun dibalas dengan kunjungan balik ke kalangan kristen yang diulakukan oleh kalanngan islam, bukan hanya kaum ibu dalam hal ini kaum tua yang bergerak, bantuan untuk bersatu juga datang dari kalangaan muda, yang membentuk beberapa perkumpulan yang bertujuan untuk kembali merajut persatuan diantara mereka, sehingga segreisme kemudian dapat dihilangkan secara perlahan-lahan.

Merujuk dari pembahasan diatas penulis kemudian sangat berharap ditengah wabah Covid-19 yang merebak saat ini, kita selaku umat beragama selalu menjaga kerukunan dan saling mengingatkan satu sama lain tanpa memilih dan memilah atas nama agama atau lainnya, kita dapat mengambil pelajaran dari kasus yang ada di Ambon tadi bahwa, persatuan itu sangat indah dan konflik itu sangat buruk dan memiliki dampak yang besar. Dan sejatinya seluruh agama yang ada di Indonesia saat ini harus saling bahu membahu dalam menghadapi wabah ini, harus saling menumbuhkan rasa "aku dan kamu adalah kita" sehingga tak akan membiarkan satu sama lain ada yang sakit, ada yang kelapaaran dan ada yang tersiksa seorang diri, karena sejatinya "agama" kita saat ini Cuma satu yaitu "agama kemanusiaan".

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN