Mohon tunggu...
fallendra
fallendra Mohon Tunggu... Lainnya - Staff

Mencoba menumbuhkan hobi membaca dan improvement diri

Selanjutnya

Tutup

Pulih Bersama Pilihan

Presidensi G20 sebagai Akselerator Indonesia Destinasi Prioritas Investasi Hijau

31 Juli 2022   19:56 Diperbarui: 31 Juli 2022   20:33 393
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pulih Bersama. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Green investment berfokus pada perusahaan atau proyek yang berkomitmen pada konservasi sumber daya alam, pengurangan polusi, atau praktik bisnis sadar lingkungan lainnya. Indonesia sebagai negara tempat penyelenggaraan G20 juga terus mendukung penanganan isu iklim dan investasi hijau yang kemudian berujung pada Paris Agreement on Climate Change di 2015, dan The 2030 Agenda for Sustainable Development. 

Pertemuan tersebut sama-sama menggaris bawahi adanya urgensi pergeseran fundamental dari pendekatan investasi tradisional dimana faktor Environmental, Social and Governance ( ESG) yang sebelumnya seringkali bukan menjadi prioritas dalam keputusan investasi. Secara khusus, perkembangannya,  Indonesia, seperti negara lainnya, juga memiliki target  untuk menyiapkan peta transisi energi menuju Net-Zero Emission pada 2060. 

Indonesia, sebagai negara berkembang yang memiliki salah satu hutan terluas dengan kontribusi emisi gas rumah kaca 4,3% per tahun sejak 2010, memiliki posisi yang strategis namun dependensi yang tinggi atas energi dari batu bara yang kemudian menjadikan transisi ke energi yang lebih berkelanjutan perlu dilakukan dengan pemetaan yang terstruktur.

G20 , sebagai forum kerja sama multilateral yang  merepresentasikan lebih dari 75% perdagangan global dan 80% PDB memberikan akselerator penting dalam kemajuan pencapaian transisi Indonesia menuju investasi hijau dengan menyediakan sarana untuk berbagi pengalaman (benchmarking) negara-negara dalam impelementasi transisi energi yang adil dan efektif. 

Presidensi G20 Indonesia memberikan referensi untuk melakukan exit strategy dari kebijakan luar biasa di masa pandemi untuk mendukung pemulihan, salah satunya dalam membahas berbagai rekomendasi dalam rangka mengembangkan kerangka untuk pembiayaan transisi menuju net zero emission, meningkatkan kredibilitas lembaga keuangan menuju tujuan tersebut, dan meningkatkan inovasi pada instrument dan pasar keuangan berkelanjutan.

Dengan agenda Sustainable Finance, G20  telah membahas risiko iklim dan risiko transisi menuju ekonomi rendah karbon, dan sustainable finance (keuangan berkelanjutan) dari sudut pandang makroekonomi dan stabilitas keuangan dan investasi hijau. 

Sesuai tema presidensi G20 pada 2022  "Recover Together, Recover Stronger", Indonesia sebagai pemegang presidensi G20 pada 2022 telah berhasil menegaskan kembali komitmen dengan negara G20 lainnya, untuk bahu-membahu, saling mendukung untuk pulih bersama serta tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan.

 Titik pencapaian yang telah dicapai oleh Indonesia sendiri ditandai oleh peluncuran Indonesian Energy Transition Mechanism (ETM) Country Platform pada 14 Juli 2022 di  side event G20 bertema ”Sustainable Finance for Climate Transition", yang mendapatkan dukungan dan juga apresiasi sangat besar dari seluruh anggota G20 yang hadir. 

Indonesian Energy Transition Mechanism (ETM) Country Platform  merupakan bentuk kerja sama pemerintah dengan Asian Development Bank (ADB) dan PT Sarana Multi Infrastruktur dalam rangka penanganan perubahan iklim. Adanya platform tersebut diharapkan dapat membantu pencapaian target Indonesia yaitu penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan usaha sendiri, dan 41% dengan bantuan internasional pada 2030.  

Indonesian Energy Transition Mechanism (ETM) Country Platform sendiri terdiri dari 2 skema, pertama Carbon Reduction Facility (CRF) dan kedua, Clean Energy Facility (CEF). Indonesian Energy Transition Mechanism (ETM) Country Platform akan menjadi framework yang diharapkan dapat memfasilitasi pembiayaan untuk akselerasi transisi energy dengan cara yang berkelanjutan. 

Sebagai negara berkembang yang berbentuk kepulauan,walaupun memiliki banyak keterbatasan, Indonesia masih memerlukan pembangunan terutama atas aspek infrastruktur yang masif ke depannya, namun tentu hal tersebut dilakukan tidak dengan mengorbankan aspek penting lainnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pulih Bersama Selengkapnya
Lihat Pulih Bersama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun