Mohon tunggu...
fallendra
fallendra Mohon Tunggu... Lainnya - Staff

Mencoba menumbuhkan hobi membaca dan improvement diri

Selanjutnya

Tutup

Pulih Bersama Pilihan

Presidensi G20 sebagai Akselerator Indonesia Destinasi Prioritas Investasi Hijau

31 Juli 2022   19:56 Diperbarui: 31 Juli 2022   20:33 393
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Maraknya isu resesi di Amerika  menjadi tantangan tersendiri di tengah kerentanan perekonomian global dengan tingkat inflasi yang tinggi dengan pemulihan yang lebih lambat. 

Ekonom dunia mulai mempertimbangkan resesi sebagai suatu kemungkinan yang semakin nyata. Perang yang tengah berlangsung di Ukraina, disertai dengan tindakan kebijakan dalam merespon perang dan tingginya variasi tingkat penyebaran varian COVID-19 di beberapa negara, membuat dinamika pemulihan semakin kompleks. 

Di tengah dinamika tersebut, Kementrian keuangan,Bank Indonesia telah cukup adaptif dalam melakukan elaborasi respon  terhadap isu global tersebut ditengah masalah kemiskinan. 

Salah satu langkah terkini yang dilakukan Bank Indonesia misalnya melalui kebijakan suku bunga tetap yang menjadi instrumen utama, yang juga diperkuat dengan  keberhasilan G20 dalam menggabungkan Integrated Policy Framework (IPF) dari IMF dengan Macro Financial Stability Framework (MFSF) dari BIS merupakan langkah strategis yang diharapkan mampu untuk mengakselerasi terwujudnya stabilitas perekonomian dan juga stabilitas harga global.

Tantangan yang dihadapin Indonesia memang cukup challenging, mulai dari pandemi, krisis ekonomi, krisis energi. Namun, di sisi lain, isu terkait keberlanjutan juga merupakan hal esensial dalam transformasi Indonesia menjadi negara maju. 

Menteri keuangan Republik Indonesia menyampaikan dalam side event G20 14 Juli 2022 bahwa 65% dari penduduk Indonesia tinggal di daerah tepi pantai, yang mengalami eksposur tinggi atas risiko turunnya tinggi daratan  karena naiknya suhu di Indonesia akibat kontribusi Indonesia atas efek rumah kaca yaitu sekitar 4.3% per tahun. 

Oleh karenanya, Indonesia sebagai negara kepulauan yang dikelilingi lautan, juga perlu memonitor atas terlaksananya transisi menuju ekonomi hijau yang diharapkan tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi namun juga menyelamatkan planet. 

Apalagi,  urgensi atas climate action, isu perubahan iklim dan keberlanjutan terus menjadi topik utama dalam kancah internasional salah satunya pada United Nations’ Sustainable Development Goals. 

Dengan memastikan kelancaran transisi menuju investasi hijau/ green investment, diharapkan  Indonesia tidak hanya mendapatkan pertumbuhan ekonomi yang pesat, namun juga berkelanjutan dengan adanya peningkatan standar kehidupan yang layak bagi masyarakat.

Perjalanan transisi  Indonesia menuju ekonomi hijau telah dimulai secara gradual sejak lama. Low Carbon Development Initiative atau Pembangunan Rendah Karbon (PRK) dimulai pada 2017. 

Bank Indonesia telah sejak lama mendorong pembiayaan berwawasan lingkungan antara lain dengan strategi peningkatan Sustainable Finance Instrument (SFI) melalui pengembangan instrumen keuangan dan investasi hijau, pembangunan ekosistem instrumen keuangan berkelanjutan, memberikan insentif kepada pembiayaan bagi properti dan kendaraan yang bermotor berwawasan lingkungan, berupa pelonggaran kebijakan rasio loan-to-value atau financing-to-value kredit/pembiayaan properti, serta uang muka kredit/pembiayaan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pulih Bersama Selengkapnya
Lihat Pulih Bersama Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun