Mohon tunggu...
Fazil Abdullah
Fazil Abdullah Mohon Tunggu... Al-Kahfi dan Musafir Rindu

Gratis buku saya. Silakan yang berminat ke https://play.google.com/store/books/details?id=-L4pDgAAQBAJ

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Suara dari Daerah Terpencil, Guru Mogok Mengajar

9 April 2017   16:04 Diperbarui: 10 April 2017   12:40 323 2 0 Mohon Tunggu...

Sejak hari Rabu (5 April 2017) sampai hari ini, di Pulau Banyak dan sekitarnya, Kabupaten Aceh Singkil, guru-guru masih mogok mengajar. Mereka kecewa kepada pemerintah. Tak memberi tunjangan khusus sebagaimana harusnya untuk daerah terpencil. [caption caption="Foto: dokumen JPNN "][/caption]

Para guru mogok ini, dari tingkat PAUD, TK hingga SMA berjumlah mencapai 250 guru. Mereka merasa berhak mendapat tunjangan khusus. Sesuai kriteria Permendikbud Nomor 13 tahun 2015 tentang kriteria daerah khusus dalam rangka pemberian tunjangan khusus.

Menuju daerah terpencil ini, pulau ini harus pakai boat, jalan tak beraspal, berurusan dengan bank harus ke daratan, internet tak ada, adalah sekelumit gambaran kondisi Pulau Banyak. Para guru menilai layak dan sesuai kriteria disebut sebagai daerah terpencil, daerah yang perlu perhatian khusus. Terlebih setelah membandingkan Pulau Aceh di Kabupaten Aceh Besar, kondisi tak semiris di Pulau Banyak dan sekitarnya, tetapi para guru Pulau Aceh mendapat tunjangan.

Mogok guru di Pulau Banyak adalah puncak kecewa setelah sebelumnya sudah melakukan diplomasi ke instansi terkait. Tetapi belum ada titik cerah. Kini mereka menuntut sampai tunjangan itu dikabulkan. Mereka merasa berhak karena sesuai kriteria permendikbud itu. Jika tak percaya, tantang guru, silakan menteri datang meninjau lokasi Pulau Banyak dan sekitarnya.

Awalnya, mogok ini tidak hanya aktifitas belajar-mengajar. Mogok juga mengancam boikot Ujian Nasional (UN) yang dimulai senin besok, Senin,10 April 2017. Akan tetapi, kabar hari ini di harian lokal, Serambi Indonesia, UN tetap dilaksanakan. Hanya mogok mengajar tetap dilakukan.

Menurut Rusli, Kepala SMA Pulau Banyak, saat dihubungi Serambi, mengemukakan pihaknya komit melaksanakan UN dibuktikan dengan melakukan gotong-royong sejak kemarin pagi menyusun kursi serta menempel nomor ujian di bangku. “Kami menuntut hak. Kita tahu bagaimana sulitnya hidup di kepulauan. Mohon perhatikan nasib guru di daerah terpencil ini,” ujar Rusli. (http://aceh.tribunnews.com/2017/04/09/siswa-un-guru-tetap-mogok)

Saya terharu membaca kabar ini. Aksi ini menunjukkan, guru tak mengorbankan siswa-siswanya. Mereka tetap peduli kepada siswa-siswanya meskipun guru terpencil ini nasibnya kurang dipedulikan kesejahteraannya.

Semoga suara guru dari daerah terpencil ini didengar dan segera terkabul. Tak dibuat lama-lama. ***

VIDEO PILIHAN