Mohon tunggu...
Fahmi Aziz
Fahmi Aziz Mohon Tunggu... Freelancer - Freelancer

Penikmat kata

Selanjutnya

Tutup

Hobby

Beda dengan Moh Hatta: Asalkan dengan Tri, Aku Bebas!

15 Juli 2020   23:41 Diperbarui: 15 Juli 2020   23:43 131
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Jaringan 3 Indonesia  4.5GPro . Sumber: tri.co.id

"(Dengan hobi dapat) memusatkan perhatian Anda pada apa yang Anda lakukan untuk jangka waktu tertentu. Mengabaikan sejenak masa lalu dan masa depan. Serta benar-benar fokus dengan apa yang Anda lakukan untuk menghasilkan kualitas pengalaman yang lebih baik," jelas Sue Jackson, psikolog domisili Brisbane, Australia.

Kita bisa memulai hobi atau rutinitas baru. Seperti yang dilakukan oleh selibritis David Beckham. Ia memiliki kegemaran baru yaitu berternak lebah. Terlihat dalam postingan instagram-nya, mantan pemain sepak bola ini asyik membuat sarang lebah. "Akan sangat menyenangkan bila kita punya madu sendiri," ujarnya kepada sang istri, Victoria Beckham.

Atau kita bisa menyelesaikan atau melakukan aktivitas yang telah lama kita tidak lakukan. Seperti saya pribadi kembali menulis di blog. Masa karantina menjadi kesempatan yang sempurna bagi para penulis. Jauh dari hectic-nya suasana kantor, kicauan kolega di meja sebelah dan lainnya. 

"Writing is one of the loneliest professions in the world!" (Menulis adalah pekerjaan paling kesepian di dunia!). Itu salah satu quote yang diamini oleh kebanyakan penulis, termasuk JK Rowling, penulis novel fenomenal Harry Potter. 

Masing-masing penulis pun memiliki tipsnya masing-masing. Bagi saya pribadi proses menulis tidak bisa dipisahkan dari membaca. Untuk bisa menghasilkan tulisan (output) yang bagus, dibutuhkan bacaan (input) yang berkualitas pula. 

Yah, setidak-tidaknya dalam menulis perlu yang namanya 'riset dan observasi'. Di situlah, kita bisa membaca berbagai referensi sebagai bahan yang kita olah untuk tulisan kita. Semakin banyak, semakin bagus. Bahkan sekelas Harry Potter, JK Rowling menghabiskan waktu lima tahun dalam riset dan perencanaan tiap detailnya. 

Sejalan dengan prinsip saya selama menulis, "Data is King!". Dengan semakin banyak bahan yang kita miliki, semakin luwes dan unik premis (angle) yang kita bisa sajikan. Di sinilah, bagian menariknya. Karena sejalan kita mengumpulkan data, proses imajinatif pun berjalan.  Berbagai inpirasi muncul satu demi satu. 

Secara fisik saya memang berada di rumah. Tapi pikiran saya #KalahkanJarak berkeliaran di seluruh dunia. Mengamati berbagai hal yang terjadi belakangan yang relevan untuk saya jadikan bahan tulisan. 

Rela Dikarantina, Asal....

Jaringan 3 Indonesia  4.5GPro . Sumber: tri.co.id
Jaringan 3 Indonesia  4.5GPro . Sumber: tri.co.id
Masa karantina ini mengingatkan saya dengan salah satu sosok Bapak Proklamator Indonesia, Moh Hatta. Beliau dikenal sebagai sosok cendikia yang sangat mencintai buku. Ini digambarkan dalam novel yang berdasarkan kisah nyata berjudul "Hatta, Aku Datang Karena Sejarah". 

Saya sampai geleng-geleng. Saking cintanya dengan buku, Hatta menjadikan buku yang ditulisnya sebagai mahar perkawinan. Bahkan di dalam penjara pengasingan, ia juga membawa koper berisi buku-buku. Dan dirinya berkata, "Aku rela di penjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”  

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun