Mohon tunggu...
Fauzi Wahyu Zamzami
Fauzi Wahyu Zamzami Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Islam Indonesia. Tertarik untuk meneliti isu-isu Diplomasi Publik dan Nation Branding.

Selanjutnya

Tutup

Media

Jurnalis Menjadi Diplomat Baru di Tengah Krisis Covid-19

2 Juli 2020   12:10 Diperbarui: 2 Juli 2020   12:23 45 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jurnalis Menjadi Diplomat Baru di Tengah Krisis Covid-19
cohive.space

Citra suatu negara pada tahun 2020 akan dibentuk oleh bagaimana pemerintah mereka dianggap telah menanggapi tantangan pandemi yang semakin meningkat.

Tahap diplomasi publik menjadi semakin ramai dalam masa siklus berita 24 jam, begitupun dengan media sosial dan penyebaran hoax yang membuat kontrol narasi ini hampir mustahil. Diplomasi kesehatan global pernah menjadi istilah yang termuat dalam kesehatan publik atau literatur kemanusiaan. Namun, dengan sorotan media sekarang yang meneliti semua keputusan pemerintah untuk menahan wabah COVID-19, jurnalis memainkan peran diplomasi publik yang semakin penting sebagai pemimpin opini.

Saya melihat bagaimana orang-orang berusaha untuk mematuhi peraturan tentang social distancing, orang-orang ini bergantung pada pengiriman pesan yang disampaikan melalui media untuk membentuk persepsi mereka tentang bagaimana masing-masing negara untuk menghadapi dan membedah dampak dari keputusan kebijakan secara real-time.

Di dunia di mana para diplomat dipaksa untuk bekerja dari rumah, bentuk-bentuk lain dari diplomasi publik tradisional hampir seluruhnya telah digantikan dengan pesan media massa. Pemerintah berebut untuk mengelola citra publik mereka karena populasi domestik dan asing mengkonsumsi briefing pers harian, statistik kesehatan global dan debat tentang berbagai kebijakan kesehatan masyarakat yang diadopsi di seluruh dunia.

Diplomasi publik sering dipromosikan sebagai sebuah sikap yang jinak dengan niat baik, namun kaitan eratnya dengan pelestarian kekuasaan memiliki setiap peluang untuk menyeberangi kesenjangan menjadi propaganda yang tidak disengaja.

Dengan semakin banyaknya pemerintah yang mengandalkan media untuk menyebarkan pesan mereka, baik di dalam negeri maupun internasional, hal ini sangat penting bagi publik global dalam menemukan cara untuk membedakan antara diplomasi publik dan propaganda.

Kemampuan pesan menjadi berpengaruh bergantung pada "the-two step hypotesis," yang mengacu pada difusi informasi dari media massa ke publik, sering disaring melalui para pemimpin opini yang mempengaruhi bagaimana massa menerima pesan ini.

Pemimpin opini akan memengaruhi banyak orang lain dan melipatgandakan pengaruh di seluruh masyarakat. Ketidakseimbangan terjadi ketika seseorang (pemimpin opini atau pengikut) menerima pesan yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka saat ini. Siklus pertama adalah pemimpin opini meminta saran dari perantara dan dipengaruhi untuk mengubah perilaku mereka. Ketika pengikut menerima informasi yang tidak konsisten dengan pandangan mereka, mereka akan mencari pemimpin opini.

Sebagai contoh, jika seorang profesional kesehatan dalam wawancara media menyarankan bahwa pemerintah memberlakukan pembatasan untuk "meratakan kurva," Laporan tersebut akan bertentangan dengan pandangan neoliberalis tentang pengaruh negara yang terbatas pada ekonomi. Ini kemudian akan memulai siklus komunikasi kedua untuk mencari individu atau outlet media alternative yang mereka percayai untuk memutuskan apakah informasi baru ini akan memengaruhi keyakinan akhir mereka atau tidak.

"Dengan semakin banyaknya pemerintah yang mengandalkan media untuk menyebarkan pesannya, baik di dalam negeri maupun internasional, sangat penting bagi publik global untuk menemukan cara dalam membedakan antara diplomasi publik dan propaganda"

Pendukung pemimpin opini akan berpendapat bahwa media mampu mengerahkan pengaruh seperti halnya orang yang berkuasa, selama mereka terpapar pada orang yang tepat dan memiliki massa untuk mengambil peran itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x