Mohon tunggu...
Ahmad Fauz
Ahmad Fauz Mohon Tunggu... Peneliti dan Dosen -

Penekun Kajian Keislaman dan Keindonesiaan

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Zaman Serba Cepat, Lupakan Sabar

21 Mei 2017   14:21 Diperbarui: 21 Mei 2017   14:29 1624
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
http://wartawirausaha.com/wp-content/

Manusia modern, menginginkan segala sesuatunya bisa direngkuh secara instan, secara cepat. Kekayaan misalnya, kalau bisa diraih secepat mungkin, kenapa tidak. Begitu juga kekuasaan dan popularitas. Bagaimana cara menggapainya, entahlah, yang penting cepat. Gelar misalnya, kini begitu mudah diraih, entahlah, mengikuti proses pendidikan formal atau tidak.

Perilaku instan adalah perilaku yang tidak bertanggung jawab, semau gue, dan mengingkari norma. Perilaku yang hanya memikirkan diri sendiri. Kerugian orang lain yang diakibatkan perbuatannya, dianggap urusan orang itu. Perilaku instan dapat juga diibaratkan lempar batu sembunyi tangan, yaitu melemparkan kesalahan pada orang lain.

Kata instan sendiri dapat berarti hangat, siap saji, mudah, cepat, atau jalan pintas. Instan juga dapat berarti mudah basi, norak atau tidak pantas.

Di era modern ini, perilaku instan tengah menggejala seiring dengan zaman yang semakin instan. Di era ini ada restoran instan (cepat saji), mie instan (mudah diseduh) dan makanan instan lainnya. Umumnya orang ingin cepat dan mudah. Begitu juga dalam perilaku, banyak yang mengambil jalan pintas agar mudah mencapai tujuan, tak peduli orang lain dilangkahi atau dirugikan.

Zaman dulu, untuk memasak butuh suluh dan kayu bakar. Tentu tidak sebentar prosesnya. dimulai dari menyalakan api, menjaga api supaya tidak mati, dan memastikan masakan sudah matang atau belum, semuanya butuh waktu yang tidak sebentar. Sedangkan zaman sekarang cukup dengan memasukkan ke oven dan tekan satu tombol, masakan matang dalam waktu singkat. Sungguh tidak ada waktu untuk merasakan sensasi kepuasan memasak seperti zaman dulu.

Mulai dari mie instan hingga kekuasaan, mulai dari gelar hingga bumbu dapur. Salah satunya, kalau seseorang ingin masak nasi goreng, tak perlu repot-repot lagi nguleg bumbu-bumbu seperti cabe, garam, bawang, dan lainnya. Bumbu nasi goreng sudah tersedia versi instan siap saji.

Semua hal yang instan, sepanjang itu dilakukan untuk kemudahan manusia itu sendiri, dan tidak melanggar kelaziman dan sunnatullah, tentu boleh-boleh saja. Sayangnya, tidak semua hal yang instan ini baik dan memberikan kemudahan bagi manusia. Bahkan lebih sering membuat manusia celaka, melanggar batasan yang sudah ditetapkan, mengabaikan aturan, berlebihan-lebihan dan berujung kepada kehinaan.

Lihatlah wajah-wajah yang serakah, tamak, dan rakus terhadap dunia. Maunya direngkuh serba cepat, tabrak sana, tabrak sini. Lihatlah wajah-wajah pemalas, yang tak pernah berpikir panjang dan selalu memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan.

Lihatlah dan mari memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah dalam alam ini, sesungguhnya alam ini mengajarkan untuk selalu menikmati berproses. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang sering tidak sepakat dengan alam. Ketika kemarau, berharap hujan. Ketika hujan datang, mengeluh. Harmoninya kehidupan adalah pergerakan yang perlahan-lahan namun terus menerus. Misalnya, pohon beringin yang bisa menaungi orang banyak, alam butuh waktu dari 30-50 tahun untuk menumbuhkannya perlahan-lahan.

Ada banyak hal yang tidak bisa bisa dicapai dengan sekejap mata. Semuanya harus dilakukan setahap demi setahap, perlu usaha, perlu kerja keras. Dan akan lebih mulia lagi, bilamana setiap perbuatan ada Dia di setiap langkah. Dengan demikian, setiap langkah akan menjadi langkah kesuksesan, langkah keberhasilan. Karena Engkau-lah pusat semua gerak, dan pusat segala harapan bertumpu.

Sabar, amat erat kaitannya dengan sukses di masa datang. Sabar menuntut ilmu dan kuliah belasan tahun agar jadi sarjana. Orang-orang yang menabung di masa mudanya, akhirnya bisa menjadi jauh lebih terjamin. Kesabaran akan mengalahkan semua masalah dan tantangan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun