Mohon tunggu...
Firda Fatimah
Firda Fatimah Mohon Tunggu... Mahasiswi Pendidikan

Bismillaah, sedang belajar menulis 😇 // IG : @fatim_firda

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Ra

25 Mei 2020   02:19 Diperbarui: 1 Juni 2020   11:10 216 13 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cerpen | Ra
Riliv.co

"Ra, kenapa kamu  berbeda sekarang?
aku sudah lama mengenalmu dengan sangat baik."
Aku terpaku, ingin rasanya kuputar balik detik jam yang terpasang ditangan kiriku, waktu seperti sedang mengutuk diriku didepannya saat ini.

-------------------


"Bagaimana Tang, apa sudah bisa disembuhkan motornya? hehe.."
Aku sengaja mengundang dirinya ke rumahku sore ini, karena tiba-tiba saja saat aku ingin membeli makanan di desa sebelah, motorku tak bisa dibunyikan.
"Sudah Ra, mau dicoba jalan dulu gak?"
"Nanti dulu dah, sepertinya sore ini asik kalau kita ngobrol depan teras rumah ditemani senja kota ini."
"Ah kamu ini Ra, masih saja setia dengan senjamu, aku selalu hafal."
Kami pun tertawa kecil.
"Duduklah disini Tang, kuseduhkan kopi sebentar."
"Siap Ra."
--
Kami bercerita banyak tentang dunia perkuliahan, dia yang aktif mengikuti organisasi, namun aku yang hanya suka menulis, bercerita tentang senja yang kurasa ia sudah sangat bosan mendengarnya. Sebenarnya kami sama-sama gemar menulis puisi, hanya saja ia lebih menyukai malam daripada senja, karena katanya kalau malam hari, namaku dan namanya bisa bersatu dengan sangat indah. Dua nama yang diciptakan semesta untuk saling melengkapi. Ah kurasa ia hanya selalu hobi membuatku tertawa.


"Ra, aku boleh ngomong ke kamu sesuatu?", dia merubah raut mukanya sedikit serius.
"iya kenapa Tang?", tanyaku sembari menyeruput kopi susu yang kubuat sendiri.
"Kalau seandainya kamu punya rasa padaku, kuharap kamu tidak akan pernah memupuknya.", perkataannya semakin serius, kulihat pandangan matanya berubah menyiratkan makna yang aku sendiri tak mengerti.
"Aku tak pernah punya rasa padamu Tang."
"Iya aku hanya bilang seandainya saja, karena aku pikir kamu dengan baikmu ini tidak pantas kalau bersanding denganku.", dia mulai mengalihkan pandangan matanya.
"Aku tak pernah punya rasa padamu Tang, aku jujur sekali, sejak awal aku tak pernah berpikir tentang itu sama sekali, aku jujur.", ucapku tanpa memikirkan perasaannya.


Lelaki dengan nama Bintang itu segera menundukkan mukanya, lengan kanannya mengangkat  terlihat membasuh sedikit air mata yang berusaha ia tutupi.


"Ra, kenapa bicaramu seperti itu?", aku sudah lama mengenalmu dengan sangat baik"


Aku mendadak terpaku, ingin rasanya kuputar balik detik jam yang terpasang ditangan kiriku, waktu seperti sedang mengutuk diriku didepannya saat ini.


Tiba-tiba aku teringat, suatu waktu dia pernah mengatakan padaku bahwa perasaan dalam hatinya tak bisa berbohong, ia pernah mengatakan bahwa ia menyukaiku. Aku mengerti ia adalah lelaki baik yang selalu memperlakukanku layaknya seorang kekasih. Kami memang sahabat, tapi nyatanya tidak ada yang baik-baik saja ketika seorang lelaki dan seorang perempuan berikrar atas nama sabahat, yaa hampir seluruh dunia percaya bahwa itu seolah sudah menjadi hukum semesta.


"Maafkan aku Tang, seorang Ra yang ternyata belum kamu kenal dengan sangat baik, aku berkata tanpa pikir panjang."
"Tidak, kamu tetap Kejora yang kukenal dengan sangat baik, Ra...", senyumnya sembari memberiku catatan kecil yang ternyata sudah ia siapkan sedari tadi.


Lalu ia permisi, dan aku masih terpaku ...


Akhirnya aku sadar bahwa tidak seharusnya segala perasaan harus diutarakan, aku dengan keeogisanku mematahkan dengan sangat buruk hati seseorang yang menyayangiku. Kejujuran memang baik, namun akan lebih baik jika persahabatan tetap dipersilahkan memainkan perannya.


Maafkan Aku, Bintang...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x