Mohon tunggu...
Fatmi Sunarya
Fatmi Sunarya Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pujangga

Penulis Sederhana - Best in Fiction Kompasiana Award 2022- Kompasianer Teraktif 2020/2021/2022 - ^Puisi adalah suara sekaligus kaki bagi hati^

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Meraih Best in Fiction, Kebahagiaan Berbalut Kesedihan

5 Desember 2022   21:39 Diperbarui: 5 Desember 2022   21:51 613
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber foto https://www.instagram.com/kompasianacom/?hl=en

Habis magrib, saya mulai membuka laptop untuk lembur kerja. Saya lupa (lagi) jika pengumuman Kompasiana Awards 2022 malam ini.

Pukul 19.43 WIB, Fauji Yamin mengucapkan selamat melalui Whatsapp dengan mengirimkan foto pak Katedrarajawen di panggung. Pada jam yang sama, Pak Irwan Rinaldi Sikumbang mengucapkan selamat. Saya masih tidak percaya. Pukul 19.45 WIB pesan kembali masuk dari mas Tonny Syiariel, congrats ya! Juga mengirimkan foto dan video penyerahan plakat Best in Fiction di panggung Kompasiana Awards 2022. Setelah itu, Whatsapp saya dipenuhi ucapan selamat dari sahabat Kompasianer. Terima kasih banyak semuanya.

Kebahagiaan Berbalut Kesedihan

Mendapat anugerah Best in Fiction dalam Kompasiana Awards 2022 adalah kejutan dan kebahagiaan. Kembali, saya mengucapkan terima kasih kepada Sahabat Kompasianer, kita semua terbaik.

Best in Fiction, saya persembahkan untuk penulis fiksi di Kompasiana, yang penuh dedikasi tetap setia menghadirkan fiksi di Kompasiana. Menulis fiksi adalah menulis di jalan sunyi namun ABADI.

Kesedihan saya muncul dan sulit saya hilangkan sampai saat ini, saat saya mendapatkan ucapan selamat dari Ayah Tuah, yang sama-sama menjadi nomine Best in Fiction. Saya menyampaikan kepada beliau, bahwa beliaulah yang layak di posisi saya saat ini. Saya hanya beruntung, Ayah. 

Jawaban Ayah Tuah, "Nikmati saja, syukuri saja. Menulis itu soal kegembiraan. Apapun ujungnya kita syukuri dan tetap menulis." 

Saya kembali merasa sedih, ketika saya tahu Ayah Tuah ikut menghadiri Kompasianival 2022, siapa yang tahu perjuangannya untuk menuju lokasi acara. Ayah Tuah adalah senior saya dalam berpuisi. Saya agak "bego" dalam ber-Bahasa Indonesia yang benar. Ayah Tuah sangat sering mengoreksi. Walaupun tidak intens berkomunikasi namun Ayah Tuah sering memberi masukan dalam berpuisi. 

Mungkin, saya telah menenggelamkan sebagian mimpi para penulis fiksi di Kompasiana, maaf dari hati yang paling dalam.

Tetap Ingin Konsisten Menulis Fiksi

Mulai bergabung di Kompasiana sejak Agustus 2019, saya konsisten menulis fiksi. Dari 1.280 artikel yang tayang di Kompasiana, 85% adalah kategori fiksi dan 15% artikel di luar fiksi. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun