Mohon tunggu...
Fatah Baginda Gorby Siregar
Fatah Baginda Gorby Siregar Mohon Tunggu... -

-Anggota Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia - Ketua Komisi Politik Konferensi Cabang XIX GMNI Kota Medan -Ketua Lembaga Studi Elang-Rajawali Indonesia - Alumni Fakultas Ekonomi dan Bisnis USU

Selanjutnya

Tutup

Politik

Mengulik Ucapan Bung Karno "Kalau Jadi Orang Islam Jangan Jadi Orang Arab..."

29 Januari 2017   04:52 Diperbarui: 29 Januari 2017   12:51 27929
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Pencampuran budaya itu mencakup sistem religi, sistem kemasyarakatan hingga sistem pemerintahannya. Pada era sebelumnya masyarakat kita mengenal arwah nenek moyang yang bersemedi didalam pohon dan batu besar, kaum brahmana memperkenalkan konsep ketuhanannya melalui archa, patung, dan simbol-simbol lain. Mereka membenarkan adanya kekuatan super-natural yang berada di alam raya ini, bersemayam di patung-patung dengan sebutan Brahmana, Vishnu dan Shiva.  Ternyata konsep ini diterima dan dapat dimengerti oleh penduduk sekitar, maka mereka berangsur-angsur menerima hindu sebagai kepercayaan tanpa pemaksaan. Mereka beranggapan model kepercayaan yang baru ini tidaklah menyimpang dan penyempurna pagi kepercayaan dinamisme lamanya. Begitupun raja-raja dan kepala suku-kepala suku tersebut.

Para brahmana ini memperkenalkan bahwa raja-raja inilah keturunan dewa yang harus dipertahankan garis keturunannya, karena mereka duluan menyadari akan adanya Tuhan. Pada masa ini muncullah legitimasi awal, legitimasi ketuhanan bahwa raja merupakan penguasa dan kekuasaannya berasal dari dewa. Inilah kemunculan feodalisme yang paling awal dibumi nusantara. 

Sistem masyarakat yang dulunya egaliter, sosialisme purba karena didasarkan kolektivitas bersama, kepentingan suku bersama berganti menjadi sistem feodal. Raja menjadi sumber kekuasaan, raja pemilik segala macam yang ada diwilayahnya, rakyat harus tunduk patuh melayani raja dan menyetorkan hasil panennya kepada raja. Raja digambarkan perwujudan dewa didalam candi dengan sebuah patung yang besar. Disisi lain, raja melindungi kepentingan kaum brahmana dalam berdagang dan menyiarkan agama, dan berangsur-angsur agama hindu dijadikan agama resmi kerajaan. Inilah awal-awal munculnya kerajaan hindu di nusantara.

Pengaruh hindu juga mempengaruhi sistem kemasyarakatan nusantara. Bangsa Arya yang tinggal dilembah sungai Indus telah menganut sistem kasta. Sistem kasta ini mengatur hubungan sosial bangsa Arya dengan bangsa yang ditaklukannya. Brahmana merupakan tingkat pertama, Ksatria tingkat kedua, Waisya tingkat ketiga, dan Sudra tingkat keempat. 

Dari perkembangan sistem kasta ini maka berkembanglah bahasa penduduk asli yang telah terlebih dahulu bertransformasi dengan kebudayaan hindu. Bahasa lokal karena adanya sistem kasta banyak mengandung tingkatan bahasa. Di Jawa kita mengenal bahasa Kromo-ingil untuk kalangan keraton dan Jawa Ngoko untuk rakyat kebanyakan dan masih contoh tingkatan bahasa yang lainnya. Namun yang perlu ingat disini, sebesar apapun pengaruh budaya hindu ke nusantara tidak dapat menghilangkan sama sekali kearifan-kearifan lokal masyarakat yang telah ada. Kebudayaan hindu melakukan proses penyesuaian terhadap tradisi asli yang ada di nusantara.

Di relief candi Prambanan kita akan menemukan cerita tentang Mahabarata yang telah di sadur dan dikonversi kedalam bahasa lokal. Prasati-prasasti, manuskrip yang ditinggalkan pada masa itu, ditandai dengan perpaduan bahasa jawa kuno dan melayu kuno serta sansekerta dengan penulisan huruf palawa. Ini menandai bahasa lokal kuno dan huruf lokal kuno ber-metamorfosa disebabkan masuknya kebudayaan hindu kenusantara. Di lain pihak yang bangsa Indonesia asli yang bukan pendatang, pergi berziarah ke India dan belajar tentang agama hindu lalu kembali kekampung halamannya guna menyebarkan agama tersebut.   

Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular merupakan suatu karya yang monumental, disinilah kita menemukan istilah bhineka tunggal ika, berbeda-beda tetapi tetap satu. Ini yang melekat pada dasar negara kita, sebuah bukti bahwa ini tidak hanya semboyan retoris belaka namun namun sudah menjadi realitas historis. Ini bukti bahwa masyarakat kita pada masa itu sudah mencapai fase heterogenitas, kemajemukan dan bisa dengan dewasa mengkonsolidasikan dirinya.

Perkembangan ajaran budha juga hampir sama dengan ajaran agama hindu. Budha menyampaikan ajarannya kepada murid-muridnya dan menyerukan agar muridnya menyampaikan ajaran tersebut keseluruh dunia. Biksu budha ini melakukan perjalanan yang dimulai dari India ke dataran Tibet hingga turun ke Asia Tenggara dan masuk ke nusantara. 

Munculnya Budha ditandai dengan biksu yang membawa kitab-kitab suci relief dan naskah-naskah kuno. Lalu timbullah pertanyaan bagaimana perpaduan kedua agama ini tidak memunculkan bentrokan, di kerajaan Majapahit misalnya. Agama Shiva tetap dijalankan sebagai agama resmi kerajaan berdampingan dengan agama budha. Pada masa itu raja ingin menkonsolidasikan kekuatan yang ada didalam untuk menghadap serangan Kubilai Khan dari luar. Ini terlihat dari candi-candi yang dibangun pada masa kerajaan tersebut, ada yang bernuansa hindu dan ada yang bernuansa budha. Penggambaran raja yang sama didalam candi-candi tersebut ada yang bersifat Shiva, Visnu, maupun Budha.

Hindu dan budha sangat mempengaruhi peradaban nusantara, adanya dua kerajaan besar menandai peradaban nusantara yang sudah sedemikian tinggi. Sriwijaya dan Majapahit keduanya merupakan kesatuan geopolitik yang hampir sama dengan Indonesia saat ini. Kedua kerajaan tersebut menjadi pusat politik, ekonomi, sosial, seni, budaya, dan ilmu pengetahuan yang menjadikan nusantara sebagai pusat peradaban dengan kekuatan maritim terkuat didunia. Ini bukti betapa perpaduan budaya lokal dengan ajaran hindu dan budha yang menghasilkan lompatan sejarah yang sangat besar. Masyarakat Indonesia sebelum masuk hindu dan budha telah mencapai tingkat tertentu, melalui proses akulturasi budaya yang dianggap sesuai dengan karakteristik masyarakat setempat maka terjadilah revolusi peradaban yang sangat besar pada masa itu.

ISLAM

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
  6. 6
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun