Mohon tunggu...
Farra Ahmada
Farra Ahmada Mohon Tunggu... Mahasiswa - Mahasiswi UIN Raden Intan Lampung

Traveling

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Naza' dan Sakaratul Maut

18 Mei 2022   22:57 Diperbarui: 19 Mei 2022   08:02 442 2 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun

Naza' secara bahasa berasal dari ungkapan "naza'a al- shai' yanzi'uhu naz'an", yang berarti seseorang mencabut sesuatu. Ungkapan "Fulanun fi al-naza'", yang dimaksud seseorang sedang dicabut kehidupannya. Dari sini, pada awalnya kata naza' mempunyai arti menarik atau mencabut. Naza' sendiri mempunya arti banyak, dan secara global dikembalikan pada arti mengeluarkan dan menarik. Naza' terkadang dikehendaki arti hakikatnya dan terkadang dikehendaki arti majaznya. Dari sini, al-nazi'at dalam ayat di atas bisa menunjukkan arti sekumpulan malaikat yang dipasrahi mencabut ruh.

Sakaratul maut terbentuk dari dua kata, yaitu sakarat dan al maut. Sakarat sendiri terbentuk dari kata sakara, dari segi bahasa memiliki arti menutup. Seorang yang mabuk ditunjukkan dengan kata sakran karena akalnya tertutup. Kata sakaratul maut dipahami oleh kebanyakan ulama mengandung arti kesulitan dan rasa sakit yang dahsyat yang dialami oleh seseorang beberapa saat sebelum ruhnya meninggalkan badan.

Mencermati kedua pengertian dari naza' dan sakaratul maut di atas maka dapat ditarik sebuah pemahaman, bahwa kata naza' berarti mencabutan ruh, dan akibat dari pencabutan itu mengakibatkan terjadinya sekarat atau sakaratul maut. Lalu bagaimana dengan kita yang selalu tenggelam dalam kemaksiatan?

Rasulullah SAW ditanya tentang pedihnya kematian, kemudian Rasulullah SAW bersabda, "Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon berduri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?

Dalam hadits lain Ibnu Abiddun-yajuga menyebutkan riwayat dari Makhul dari Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya (penderitaan) sehelai rambut dari rambut orang yang mengalami kematian diletakkan pada penduduk langit dan bumi, niscaya mereka akan mati dengan izin Allah SWT karena pada setiap sehelai rambut terdapat kematian dan mati tidak berada pada sesuatu kecuali sesuatu itu akan mati."

Dahsyatnya rasa sakit ketika sakaratul maut tidak dapat diketahui kecuali oleh oang yang sudah merasakannya. Orang yang belum pernah merasakan kematian hanya dapat mengetahuinya dengan melihat dan mengamati berbagai peristiwa yang ditemui atau menyimpulkan berbagai cerita kepedihan yang dialami manusia ketika menjelang ajal. Dengan pendekatan nalar dapat dikatakan, setiap anggota yang tidak bernyawa tentu tidak dapat merasakan sakit. Ketika anggota itu mempunyai nyawa, maka nyawa itulah yang merasakan sakit dan penderitaan. Apabila ada anggota badan yang terluka atau terbakar, rasa sakit yang ditimbulkan akan sampai pada ruh. Sakit yang dirasakan oleh seseorang berbanding lurus atau sesuai dengan penderitaan yang sampai kepada ruh. Artinya, rasa sakit itu menyebar ke seluruh anggota badan yang terluka tadi, yaitu ke daging, darah, tulang dan bagian-bagian anggota tubuh lain yang merasakan sakit.

Naza' adalah penderitaan yang menimpa ruh, menyentuh semua organ ruh. Tidak ada bagian ruh yang menyebar mulai ujung rambut sampai kaki yang terlepas dari penderitaan ini. Dapat dibayangkan, bila ada duri yang mengenai kaki, maka rasa sakit yang terasa hanya menimpa sebagian ruh, yaitu yang berada di kaki. Bila tangan terkena pisau, maka rasa sakit hanya dirasakan oleh ruh yang ada di tangan. Naza' adalah penderitaan yang menimpa ruh itu sendiri, menjalar ke seluruh ruh yang ada dalam diri manusia. Karena ruhlah yang akan dicabut dan diangkat dari setiap otot, setiap rambut, setiap pergelangan, setiap kulit yang ada pada diri manusia.

Maka tidak perlu ditanyakan lagi tentang dahsyatnya rasa sakit saat ruh itu dicabut. Silahkan dibayangkan betapa sakitnya jika seandainya semua otot dalam anggota badan dicabut. Satu otot saja bila dicabut sakitnya tentu luar biasa, maka dapat dibayagkan bila yang dicabut adalah ruh itu sendiri yang sakitnya menjalar ke semua otot.

Tirmidhi juga meriwayatkan dari Aisyah ia berkata,aku melihat Rasulullah SAW sedang menghadapi kematian. Di sampingnya ada gelas yang berisi air. Lalu Rasulullah SAW memasukkan tangannya pada gelas itu dan mengusap mukanya dengan air itu dan berdoa, "Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi sakaratul maut." Dalam riwayat lain al- Bukhari juga meriwayatkan dari Aisyah ia berkata, Rasulullah SAW telah meninggal, dan sesungguhnya (kepala beliau) berada di antara tenggorokan dan dadaku. Maka aku tidak akan pernah benci terhadap dahsyatnya kematian seseorang setelah (kematian yang dialami) Rasulullah SAW."

Banyak ulama mengatakan bahwa apabila sakaratul maut ini menimpa para nabi, para rasul, juga para wali dan orang-orang yang bertakwa, mengapa kita lupa? Mengapa kita tidak bersegera mempersiapkan diri untuk menghadapinya?

Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan