Mohon tunggu...
Fandy Arrifqi
Fandy Arrifqi Mohon Tunggu... Freelancer - Mahasiswa

Sedang berusaha menjadi manusia

Selanjutnya

Tutup

Analisis Pilihan

Masih Relevankah Isu Asing di Era Globalisasi?

20 Februari 2019   16:44 Diperbarui: 20 Februari 2019   17:04 293
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Di pilpres kali ini, ada isu yang selalu diungkit, yaitu isu mengenai asing dan aseng. Isi dari isu ini adalah banyaknya tenaga kerja asing yang bekerja di Indonesia sedangkan masih banyak masyarakat Indonesia yag masih menganggur atau tidak memiliki pekerjaan. Dari isu mengenai invansi tenaga kerja asing, meluas menjadi isu berbagai sektor ekonomi Indonesia yang dikuasai dan dikelola oleh pihak asing.

Sebelum membahas lebih jauh, marilah kita jabarkan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan globalisasi. Globalisasi menurut KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia) adalah proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Sedangkan menurut Emmanuel Ritcher, globalisasi ialah jaringan kerja global secara bersamaan menyatukan masyarakat yang sebelumnya terpencar-pencar dan terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia. Dapat kita simpulkan bahwa globalisasi akan menyatukan seluruh umat manusia secara global menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dan saling ketergantungan.

Jika kita melihat pengertian globalisasi menurut Emmanuel Ritcher, disebutkan bahwa sebelumnya umat manusia terpencar-pencar dan terisolasi. Yang dimaksud dengan terpencar adalah kita, manusia, terpencar ke dalam banyak negara bangsa di dunia ini. Negara bangsa ini pula yang mengisolasi kita dengan penduduk negara bangsa lain dengan adanya hambatan seperti batas teritori dan batas kebudayaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang mengisolasi kita satu sama lain.

Batasan-batasan itu akan hilang seiring berkembangnya globalisasi yang didorong oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Dengan kemajuan teknologi, sekarang kita dapat berbicara langsung dengan orang yang berada di belahan bumi yang lain. Dengan begitu, batas teritori negara sudah tidak lagi membatasi laju gerak informasi dari seseorang kepada orang lain di berbagai penjuru dunia. 

Dengan kemajuan teknologi pula sekarang kita dapat mengenal berbagai macam budaya dari segala penjuru dunia. Dengan begitu, kita dapat dengan mudah mengenal budaya orang lain. Dengan mengenal budaya orang lain, diharapkan kita tidak lagi mengalami culture shock karena perbedaan budaya dan lebih baik jika kita dapat mengakulturasi budaya kita dengan budaya orang lain supaya tercipta sebuah budaya global baru yang menyatukan seluruh umat manusia.

Contoh negara-negara yang berhasil menghapus segala macam hambatan ini ialah negara-negara Eropa dengan Uni Eropanya. Dengan Uni Eropa, negara-negara Eropa berhasil menghapus hambatan teritori dengan membebaskan visa bagi turis sesama warga negara Eropa dan dengan membangun sebuah jaringan transportasi yang terintegrasi dengan seluruh negara anggota Uni Eropa. 

Dengan mudahnya mobilisasi masyarakat dari satu negara ke negara yang lain, maka secara tidak langsung telah terjadi sebuah interaksi budaya. Dengan adanya interaksi budaya ini, maka kedua belah pihak akan membuka dirinya kepada budaya baru dan akan menghapus fenomena culture shock. Hal ini tidak hanya terjadi di Eropa saja karena seluruh dunia sedang bergerak menuju ke arah itu dengan adanya gelombang globalisasi!

Lantas mengapa, di tengah gelombang globalisasi dunia, kita malah sibuk meributkan isu asing dan pribumi? Hal ini menunjukkan betapa terbelakangnya pola pikir masyarakat Indonesia. Entah mengapa masyarakat Indonesia malah melestarikan pola pikir satu setengah abad yang lalu dari era kolonial di mana terdapat perbedaan kedudukan sosial antara masyarakat pribumi dengan asing. 

Di saat negara-negara di dunia mulai membuka diri dengan adanya gelombang globalisasi, mengapa kita malah menutup dan mengisolasi diri kita dalam berbagai macam batasan? Mengenai isu banyaknya pekerja asing di Indonesia, hal ini juga menunjukkan betapa lemahnya mental persaingan masyarakat Indonesia. Ketimbang meningkatkan kualitas SDM, kita malah menuntut diusirnya pekerja-pekerja asing yang telah merebut lahan pekerjaan kita.

Mungkin memang belum banyak dari masyarakat Indonesia yang bisa merasakan interaksi budaya dengan masyarakat dari negara lain. Hal ini disebabkan oleh mahalnya biaya mobilisasi, yang memang tidak semudah di daratan Eropa, karena adanya hambatan geografis. Selain itu, tidak meratanya akses terhadap internet juga membatasi mobilisasi rakyat kita di jejaring dunia maya. Selain tidak bisa bermobilisasi secara fisik, masyarakat kita juga tidak bisa bermobilisasi di dalam dunia maya! Hal ini diperparah dengan buruknya kualitas pendidikan kita. 

Seberapa banyak dari rakyat Indonesia yang mengerti dan fasih berbicara menggunakan Bahasa Inggris? Menurut data dari ef.co.id, Indonesia menempati urutan ke-51 dari 88 negara. Indeks kemampuan berbahasa Inggris kita tergolong rendah. Bandingkan dengan Filipina yang menempati urutan ke-14 dan Malaysia yang menempati urutan ke-22. Kemampuan menggunakan bahasa Inggris, sebagai bahasa global, saja masih rendah, bagaimana masyarakat kita mau terjun ke dalam masyarakat global? Selain itu, lemahnya mental bersaing dan rendahnya kualitas SDM masyarakat kita juga menghambat kita untuk terjun ke dalam gelombang globalisasi.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Analisis Selengkapnya
Lihat Analisis Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun